Antrean BBM Mengular di SPBU Sejak Pagi, Sopir Angkot di Nunukan tak Bisa Beroperasi
Amiruddin August 05, 2026 11:14 AM

 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Kelangkaan bahan bakar minyak ( BBM ) di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih terjadi hingga Rabu (5/8/2026). 

Dampaknya mulai dirasakan masyarakat, terutama para sopir angkutan umum yang menggantungkan penghasilannya dari operasional kendaraan setiap hari.

Pantauan TribunKaltara.com di SPBU Cahaya Nunukan yang terletak di Jalan TVRI, Kelurahan Nunukan Timur, Kecamatan Nunukan, pada Rabu (5/8/2026) pagi, antrean kendaraan tampak mengular hingga ke badan jalan. 

Truk, angkutan kota (angkot), mobil pribadi hingga sepeda motor, sudah berbaris sejak sebelum matahari terbit untuk mendapatkan BBM.

Di sisi lain, stok bensin eceran di sejumlah titik di Kecamatan Nunukan, dan Kecamatan Nunukan Selatan, juga masih kosong. 

Baca juga: Harga BBM Senin 3 Agustus 2026 di Kaltara, Pertamax dan Dexlite Lancar di SPBU

Sejak Senin (3/8/2026), hampir tidak terlihat lagi pedagang BBM eceran di sepanjang Jalan Nunukan Selatan menuju pusat kota.

Salah seorang sopir angkot, Lamber (45), menjadi satu dari ratusan warga yang rela mengantre sejak pagi. 

Ia mengaku datang ke SPBU sekitar pukul 06.00 Wit.

Namun hingga hampir pukul 09.00 Wita, belum juga mendapatkan giliran mengisi BBM.

"Jam 5 pagi orang sudah mengantre.

Saya datang jam 6, sekarang hampir jam 9 belum dapat juga," ujar Lamber, kepada TribunKaltara.com, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, kelangkaan BBM sudah berlangsung sekitar dua hari.

Kondisi tersebut membuat angkot yang biasa ia operasikan tidak bisa beroperasi karena kehabisan bensin.

"Dua hari sudah tidak ada bensin.

Kemarin angkot tidak jalan karena memang bensinnya habis," katanya.

Lamber mengaku belum mengetahui apakah seluruh kendaraan yang mengantre dipastikan akan mendapatkan BBM.

Informasi yang beredar, hanya menyebutkan pasokan akan kembali masuk pada hari itu.

"Belum ada informasi semua yang antre pasti dapat.

Katanya hari ini masih sementara melangsir, tapi belum tahu jam bisa dapat," ucapnya.

Ia juga menyebut SPBU yang ada Nunukan Selatan saat ini belum melayani pengisian, sehingga masyarakat hanya bergantung pada SPBU yang telah beroperasi.

"Kalau SPBU yang di Nunukan Selatan katanya belum buka," ujarnya.

Apabila berhasil mendapatkan giliran, Lamber berencana mengisi BBM senilai Rp200 ribu.

Namun, ia mendengar kemungkinan pengisian akan dibatasi.

"Kalau memang dibatasi sekitar 10 liter ya ikut saja.

Yang penting bisa jalan dulu," katanya.

Sebagai sopir angkot, Lamber mengaku selalu membeli BBM di SPBU.

Dalam kondisi normal, ia mengisi bensin antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung pendapatan yang diperoleh setiap hari.

"Kalau isi Rp200 ribu biasanya cukup untuk dua hari narik," ujarnya.

Lamber mengatakan, sebagai sopir angkot ia mengandalkan kendaraan tersebut sebagai satu-satunya sumber penghasilan.

Dalam sehari, pendapatannya paling tinggi sekitar Rp200 ribu.

Karena itu, saat BBM sulit didapat, aktivitas mencari nafkah pun ikut terhenti.

"Kalau bensin tidak ada, kami tidak bisa narik.

Penghasilan juga tidak ada," katanya.

Ia berharap pemerintah bersama pihak terkait segera mencari solusi agar kelangkaan BBM di Nunukan tidak terus berulang.

"Harapan kami pemerintah bisa memperhatikan supaya BBM jangan langka lagi.

Walaupun sedikit, yang penting selalu tersedia.

Jangan sampai seperti sekarang," pungkasnya. 

(*)

Penulis: Fatimah Majid

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.