BANGKAPOS.COM, BANGKA --
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang diperkirakan meningkat seiring memasuki puncak musim kemarau pada September 2026.
Untuk memperkuat upaya penanganan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Barat menggandeng sejumlah instansi dan perusahaan, termasuk Damkar Kodim 0431/Bangka Barat, Damkar PT Timah, serta pihak swasta.
Kepala BPBD Bangka Barat, Safrizal, mengatakan langkah kolaborasi dilakukan karena armada pemadam kebakaran milik pemerintah daerah berkurang setelah satu-satunya mobil pemadam kebakaran Pemkab Bangka Barat terbakar beberapa waktu lalu.
Sementara untuk wilayah pemadaman kebakaran di Kecamatan Parittiga dan Jebus, ada dua unit mobil pemadam kebakaran dari Batalyon TNI setempat dan perusahaan swasta.
“Mungkin yang belum tercover ini daerah Kelapa dan Tempilang,” kata Safrizal, Rabu (5/8/2026).
Kendati demikian, menurutnya, ada sejumlah pihak perusahaan kelapa sawit yang berkomitmen untuk membantu dalam kesiapsiagaan menghadapi karhutla serta ancaman kekeringan.
Lebih lanjut, Safrizal menyebut bahwa pihaknya pun telah mengimbau masyarakat terkait potensi ancaman yang ditimbulkan dari musim panas atau kemarau ini. Bahkan saat ini telah ditingkatkan status dari yang sebelumnya normal menjadi siaga.
“Kondisi cuaca panas kita ini puncaknya di bulan September dan kemungkinan besar sampai awal tahun 2027,” jelasnya.
Kemudian, terdapat pula sejumlah titik panas di Kabupaten Bangka Barat. Walau begitu, Safrizal menerangkan bahwa titik panas tidak berarti menyebabkan keberakan.
Sejak beberapa bulan terakhir, Safrizal mengklaim bahwa titik panas di Kabupaten Bangka Barat adalah yang paling rendah atau sedikit dibanding kabupaten/kota lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
“Sudah ada pemetaannya di lapangan apakah itu bentuknya hotspot (titik panas) atau firespot (titik api),” sambungnya.
Dia menyebut, titik panas yang muncul tersebut kebanyakan berada di kawasan hutan. Oleh karena itu, dirinya menghimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
Tak lupa, dirinya juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok secara sembarangan sehingga berpotensi memicu terjadinya kebakaran.
“Ketika ada update data tentang titik-titik panas, kami langsung memberikan sosialisasi dan himbauan melalui kecamatan dan desa masing-masing,” jelasnya. (Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)