TRIBUNSUMSEL.COM -- Sebuah unggahan di media sosial Threads menjadi sorotan publik setelah seorang pasien membagikan pengalamannya saat mengakses layanan kesehatan.
Pemilik akun dengan nama pengguna Yurizaltrich mengungkapkan rasa kecewanya lantaran harus menunggu hingga berjam-jam untuk mendapatkan kamar perawatan di rumah sakit.
"8 jam belum dapet ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS," tulis akun Yurizaltrich dalam unggahannya yang diunggah pada Rabu (22/7/2026).
Unggahan tersebut kemudian mendadak tular di media sosial dan memicu beragam tanggapan dari warganet.
Namun, beberapa tanggapan bernada negatif justru datang dari pengguna yang mengindikasikan diri sebagai tenaga kesehatan (nakes).
Salah satu komentar yang paling menuai kecaman ditulis oleh akun @widhiyarini.
Baca juga: Sosok Yurizal Tri Chaerawan, Pasien Curhat 8 Jam Tak Dapat Ruangan, Meninggal 2 Hari usai Ultah
"potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan," tulis akun @widhiyarini pada Jumat (25/7/2026).
Kisah ini berujung duka setelah pasien bernama Yurizal tersebut belakangan dikabarkan meninggal dunia.
Fenomena nirempati di media sosial ini pun memantik perhatian luas, tak terkecuali dari praktisi medis dr. Gia Pratama.
Melalui akun Threads pribadinya, dr. Gia turut buka suara dan menyampaikan pesan mendalam yang ditujukan khusus bagi para sejawat nakes serta masyarakat luas.
Dalam imbauannya, dr. Gia mengingatkan kembali esensi dan nilai luhur di balik seragam profesi medis yang dikenakan para dokter maupun perawat.
"Teman-teman dokter, teman-teman nakes. Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi. Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional. Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien. Sakit itu Tidak Enak," tulis dr. Gia Pratama.
Ia menuturkan bahwa kondisi sakit kerap kali dibayangi rasa asing, ketakutan, hingga alur waktu yang terasa lambat bagi pasien.
Meskipun tenaga medis sangat memahami kerumitan sistem rumah sakit, kepadatan IGD, prosedur ketersediaan kamar, hingga keterbatasan fasilitas BPJS, hal tersebut tentu tidak dipahami oleh pasien maupun keluarganya.
Pasien hanya membutuhkan kepastian, kejelasan, serta rasa kepedulian di tengah rasa cemas.
"Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti. Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan. Kita tahu semua itu. Tapi pasien kan enggak," lanjutnya.
Baca juga: Curhat Pasien 8 Jam Tak Dapat Ruangan hingga Meninggal Dunia, Oknum Nakes Minta Maaf usai Menghujat
Lebih lanjut, dr. Gia menjelaskan bahwa komunikasi dengan nada suara yang lembut serta penjelasan jujur mengenai perkiraan waktu tunggu sejatinya merupakan obat pertama yang dapat memanusiakan proses penanganan medis.
Hubungan antara nakes dan pasien hendaknya dibangun atas dasar kemitraan untuk saling melawan penyakit, bukan relasi atasan dan bawahan.
Ia menyayangkan timbulnya kalimat-kalimat kejam di media sosial yang dilontarkan oleh oknum nakes saat menanggapi keluhan pasien.
Meski rasa lelah dan frustrasi akibat beban kerja dapat dipahami, tindakan merendahkan atau melukai martabat orang yang sedang sakit sama sekali tidak memiliki pembenaran.
Terlebih, keberadaan pasien merupakan ladang karunia, tempat mengamalkan ilmu, melatih kesabaran, serta pintu rezeki dan pahala bagi para nakes.
Di akhir pesannya, dr. Gia mengimbau seluruh tenaga medis untuk senantiasa menyertakan rasa kemanusiaan dalam setiap tindakan.
"Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu. Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya. Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan," pungkas dr. Gia menutupi pesannya.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com