Komoditas Pangan Turun, Kota Kediri Catat Deflasi Bulanan 0,14 Persen
faridmukarrom August 05, 2026 04:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mencatat Kota Kediri mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan atau month-to-month (m-to-m) pada Juli 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit, menjadi faktor utama yang menekan laju inflasi pada periode tersebut.

Kepala BPS Kota Kediri, Emil Wahyudiono, menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan andil sebesar 0,27 persen.

"Deflasi pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas pangan. Cabai rawit menjadi penyumbang utama dengan andil deflasi sebesar 0,15 persen," kata Emil, Rabu (5/8/2026).

Selain cabai rawit, penurunan harga juga terjadi pada bawang merah yang memberikan andil deflasi sebesar 0,09 persen. Kemudian emas perhiasan menyumbang deflasi 0,08 persen, cabai merah 0,06 persen, telur ayam ras 0,04 persen, tomat 0,03 persen, daging ayam ras 0,02 persen, dan jagung manis 0,01 persen.

Baca juga: Bupati Rijanto Tegaskan Pembangunan Infrastruktur dan SDM Harus Berjalan Beriringan di Hari Jadi 702

Meski demikian, sejumlah komoditas masih mengalami kenaikan harga sehingga menahan laju deflasi. Bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar secara bulanan dengan andil 0,08 persen.

Selain bensin, komoditas lain yang mengalami kenaikan harga yakni bawang putih, daging sapi, tarif SMA, beras, ayam goreng, terong, minyak goreng, ketimun, hingga tarif SMP.

Sementara itu, secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), Kota Kediri masih mencatat inflasi sebesar 2,64 persen. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,77 persen, sedangkan bensin menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi tahunan paling besar sebesar 0,30 persen.

Emil menambahkan, kondisi harga pangan tetap perlu diantisipasi memasuki Agustus 2026. Menurutnya, faktor cuaca hingga meningkatnya permintaan masyarakat menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berpotensi memengaruhi harga.

"Ketersediaan telur ayam ras, daging ayam ras, dan komoditas pangan lainnya harus terus dijaga agar fluktuasi harga tidak memicu tekanan inflasi pada bulan berikutnya," jelasnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri sekaligus Kepala Bagian Administrasi Perekonomian, Bambang Tri Lasmono, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi agar stabilitas harga tetap terjaga selama Agustus. 

Salah satunya melalui pemantauan harga pangan secara rutin serta pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang sebelumnya digelar pada 20-24 Juli di sejumlah lokasi strategis.

"Kami akan rutin menggelar pemantauan harga komoditas pangan di pasar secara kontinyu sebagai peringatan awal guna mendeteksi fluktuasi harga. Di samping itu, masyarakat kami imbau agar tidak panic buying dan berbelanja secara bijak, karena pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan komoditas serta kestabilan harga agar roda perekonomian di Kota Kediri tetap berjalan," ujar Bambang.

Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi, dinamika harga minyak dunia akibat kondisi geopolitik global, hingga penyesuaian tarif pendidikan pada awal tahun ajaran baru juga menjadi faktor yang diperkirakan memberi pengaruh terhadap inflasi Kota Kediri pada Agustus mendatan.

(Lutfi Husnika/ tribunmataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.