SURYA.co.id, SIAK — Misteri kematian dr Alex Cristo Loris (30), peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi yang jasadnya ditemukan di semak belukar samping pagar RSUD Tengku Rafian Siak, akhirnya terungkap.
Setelah hampir tiga pekan penyelidikan, Polres Siak bersama tim forensik memastikan tidak ada unsur pembunuhan. Hasil investigasi ilmiah menyimpulkan kematian dr Alex akibat perbuatannya sendiri.
Kesimpulan tersebut diumumkan Polres Siak dalam konferensi pers yang dipimpin Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar, Selasa (4/8/2026), bersama tim ahli dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Riau, Laboratorium Forensik Polda Riau, serta psikolog forensik.
Kapolres menjelaskan, penyidik menggunakan metode scientific crime investigation untuk mengungkap penyebab kematian dokter anestesi tersebut.
Penyelidikan dilakukan melalui olah tempat kejadian perkara (TKP), autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, digital forensik, psikologi forensik, rekaman CCTV hingga pemeriksaan terhadap 14 orang saksi.
“Berdasarkan seluruh alat bukti, keterangan saksi, hasil autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, digital forensik, dan psikologi forensik, tidak ditemukan fakta yang mengarah pada tindak pidana pembunuhan. Penyebab kematian korban disimpulkan akibat perbuatannya sendiri (tidak membahasakan sebagai tindakan bunuh diri),” ungkap AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar seperti dikutip dari Tribun Pekanbaru.
Baca juga: Sosok Saepul Tersangka Mutilasi yang Bungkus Jasad Korban Tanpa Kaki dalam Karung Beras, Ini Awalnya
Dalam penelusuran polisi juga diketahui jika dr Alex sempat berpamitan kepada istrinya untuk melihat pasien yang akan dioperasi, namun tidak pernah kembali.
Rekaman CCTV menunjukkan ia berjalan seorang diri keluar dari RSUD sekitar pukul 18.06 WIB, Senin (13/7/2026).
Ia meninggalkan jas dokternya di toilet ICU sebelum keluar dari lingkungan rumah sakit.
Setelah itu dokter Alex dikabarkan hilang. Pencarian dilakukan oleh rekan sejawat, petugas keamanan, dan dokter pembimbing hingga dini hari.
Namun lokasi semak-semak tempat jasadnya ditemukan tidak pernah masuk area pencarian. Pada Selasa (14/7/2026) siang, jasad dr Alex ditemukan sekitar lima meter dari pagar luar RSUD.
Autopsi menunjukkan adanya bekas suntikan pada punggung tangan kiri korban. Pemeriksaan toksikologi menemukan kandungan Rocuronium, obat pelumpuh otot, pada darah, urine, dan ginjal korban.
Ahli forensik menyimpulkan kematian akibat kelumpuhan otot pernapasan yang menyebabkan asfiksia.
Di sekitar jasad, polisi menemukan tas berisi perlengkapan medis, termasuk obat anestesi Propofol, Lidocaine, Fentanyl Citrate, dan Rocuronium Bromide. Rekaman CCTV memperkuat fakta bahwa korban menuju lokasi seorang diri.
Selain itu, ditemukan pesan di ponsel korban yang belum sempat terkirim kepada istrinya: “Maaf sayang, aku udah enggak tertolong lagi.”
Penyidik juga menemukan riwayat keluhan mengenai utang pinjaman online, indikasi penggunaan uang dalam jumlah besar, serta catatan pribadi yang terkunci di perangkat korban.
Baca juga: Buntut Tewasnya Pria Pasuruan saat Ditangkap Polisi, 2 Anggota Polsek Beji Dinonaktifkan
Dari pemeriksaan psikologi forensik, dr Alex diduga mengalami tekanan berat akibat beban pendidikan PPDS, tanggung jawab keluarga, dan masalah finansial.
Polres Siak menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan mengimbau masyarakat menghormati privasi keluarga serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.