TRIBUNJAKARTA.COM - Sosok wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, kembali menjadi sorotan setelah memimpin laga semifinal Piala Presiden 2026 antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung.
Keputusannya saat tidak memberikan hadiah penalti kepada Persija usai insiden yang melibatkan Arlyansyah Abdulmanan dan Gakuto Notsuda memicu perdebatan di kalangan suporter.
Insiden tersebut terjadi saat terjadi kemelut di depan gawang Persib.
Ketika Arlyansyah berusaha mengambil bola untuk melanjutkan permainan, gelandang Persib, Gakuto Notsuda, lebih dulu menguasai bola.
Dalam momen tersebut, Arlyansyah tampak terjatuh di dalam kotak penalti sehingga memicu protes dari kubu Persija.
Yudai Yamamoto kemudian menghentikan pertandingan untuk melakukan pengecekan melalui Video Assistant Referee (VAR).
Namun, setelah meninjau tayangan ulang, wasit asal Jepang itu memutuskan pertandingan dilanjutkan dan tidak memberikan hadiah penalti kepada Persija.
Keputusan tersebut memunculkan beragam tanggapan dari suporter.
Salah satunya datang dari Endriano, suporter Persija asal Tanah Sereal, Jakarta Barat.
"Melihat dari siaran ulangnya sih, ya harus nya dapet penalti sih. Cuman ya mau gimana lagi, keputusan wasit mutlak!" ujar Endriano kepada TribunJakarta.com.
Pendapat senada juga disampaikan Kiki, suporter Persija asal Lenteng Agung.
"Harusnya pelanggaran, tapi sayang wasit berkata lain," katanya.
Yudai Yamamoto merupakan wasit asal Kyoto, Jepang, yang lahir pada 4 Maret 1983.
Ia mengantongi lisensi FIFA sejak 2011 dan menjadi wasit profesional di Jepang sejak 2015.
Sepanjang kariernya, Yamamoto telah memimpin lebih dari 485 pertandingan di kompetisi Jepang.
Pada musim 2025/2026, PSSI mengontrak Yudai Yamamoto selama 1,5 musim sehingga menjadi wasit asing pertama yang bertugas secara penuh waktu di kompetisi Indonesia.
Sepanjang musim 2025/2026, ia telah memimpin 16 pertandingan, terdiri dari 14 laga Super League dan dua pertandingan Championship.
Dari seluruh pertandingan tersebut, Yudai mengeluarkan 60 kartu kuning, dua kartu merah, serta memimpin laga yang menghasilkan total 22 gol.
Sebelum memimpin laga semifinal Piala Presiden 2026 antara Persija Jakarta dan Persib Bandung, Yudai Yamamoto sebenarnya sudah beberapa kali menjadi sorotan karena sejumlah keputusan yang diambilnya di kompetisi Indonesia.
Salah satu kritik datang dari pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, seusai timnya kalah 1-2 dari Bhayangkara FC di ajang Super League 2025/2026.
Saat itu, Tavares mempertanyakan keputusan Yudai yang hanya memberikan tambahan waktu lima menit pada babak kedua.
"Saya terkejut wasit hanya member waktu lima menit. Tapi ini bukan alasan, ini hanya kenyataan," ucap Tavares.
Tak hanya dari Persebaya, kritik juga sempat dilontarkan Wakil Manajer Malut United, Asghar Saleh, setelah timnya takluk 0-2 dari Persib Bandung.
Asghar menyampaikan kritik keras terhadap kepemimpinan Yudai Yamamoto.
"Untuk mengalahkan Malut United, para mafia bahkan harus menggunakan jasa wasit FIFA yang kualitasnya kalah jauh dibanding wasit tarkam di kampung saya."
"Benar-benar dagelan di GBLA."
"Terima kasih semua yang sudah berjuang hari ini."
"Akan terus kita ingat bahwa hari ini kita dikalahkan wasit dkk," tulis Asghar Saleh.
Kritik dan tudingan Asghar ini berbuah sanksi dari Komdis PSSI.
Berdasarkan surat Komdis PSSI bernomor 156/L1/SK/KD-PSSI/II/2026, Asghar Saleh dilarang mendampingi tim selama tiga bulan sejak 12 Februari 2026.
"Betul. Berdasarkan keputusan sidang Komite Disiplin 12 Februari 2026 yang kemudian terlampir dalam Salinan Keputusan Komite Disiplin PSSI bernomor 156/L1/SK/KD-PSSI/II/2026,"
"Yang bersangkutan dikenakan sanksi larangan beraktivitas dalam kegiatan sepak bola di Indonesia selama 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterbitkan," ujar Media Officer Malut United, Agya Pradipta.
Kini, nama Yudai Yamamoto kembali menjadi perbincangan setelah memimpin laga semifinal Piala Presiden 2026 antara Persija Jakarta dan Persib Bandung.