TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Musim kemarau tahun 2026 menyebabkan wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terus bertambah. Kondisi tersebut memicu krisis air bersih bagi ribuan warga di sejumlah desa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mencatat telah menyalurkan bantuan air bersih ke 110 titik yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Gucialit, Ranuyoso, dan Kedungjajang.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, mengatakan wilayah terdampak di Kecamatan Ranuyoso meliputi Desa Jenggrong dan Desa Meninju. Sementara di Kecamatan Kedungjajang, distribusi air bersih dilakukan ke Desa Jatisari dan Desa Umbul. Adapun di Kecamatan Gucialit, bantuan disalurkan ke Desa Pakel dan Desa Dadapan.
"Di Kecamatan Kedungjajang berada di Desa Jatisari dan Desa Umbul. Adapun di Kecamatan Gucialit mencakup Desa Pakel dan Desa Dadapan," ujar Yudhi, Rabu (5/8/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD mengoperasikan empat unit mobil tangki berkapasitas 5.000 liter. Distribusi air bersih dilakukan setiap hari Senin hingga Sabtu.
Baca juga: Pacuan Kuda di Babakan Lumajang Diwarnai Dugaan Insiden Penonton Tertabrak Kuda
Menurut Yudhi, setiap armada mampu melakukan hingga enam kali perjalanan dalam sehari. Jumlah pengiriman dibagi sesuai kebutuhan masing-masing desa, sehingga setiap wilayah memperoleh dua hingga tiga kali distribusi, sementara sisanya dialokasikan ke desa terdampak lainnya.
"Dalam satu hari, armada tangki bisa melakukan pengiriman hingga enam kali rit. Jumlah pengiriman itu terbagi, misalnya satu desa mendapat dua sampai tiga kali pengiriman, sisanya disalurkan ke desa lain," katanya.
BPBD memperkirakan jumlah wilayah yang mengalami kekeringan masih berpotensi bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih lama. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD telah menyiapkan tambahan armada melalui dukungan sejumlah pihak.
Yudhi mengatakan BPBD mendapat bantuan mobil tangki dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas yang difokuskan untuk melayani Desa Jenggrong di Kecamatan Ranuyoso dan Desa Jatisari di Kecamatan Kedungjajang. Selain itu, bantuan tangki air dari program CSR Sapu Dam Curah Kobokan digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga di Desa Dadapan, Kecamatan Gucialit.
Baca juga: Minibus Rombongan Peziarah Wali 5 Asal Jember Nyungsep ke Sungai Bondoyudo Lumajang
"Kami dibantu armada tangki dari BBWS Brantas yang disiagakan untuk wilayah Desa Jenggrong (Ranuyoso) dan Desa Jatisari (Kedungjajang). Sementara bantuan dari CSR Sapu Dam Curah Kobokan difokuskan ke Desa Dadapan (Gucialit)," ungkapnya.
BPBD juga mengacu pada Surat Keputusan (SK) Bupati Lumajang tentang Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan/Krisis Air Bersih serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026. Status tanggap darurat tersebut berlaku selama 90 hari, mulai 10 Juli hingga 7 Oktober 2026.
Apabila musim kemarau masih berlanjut hingga September atau Oktober mendatang, BPBD membuka kemungkinan untuk mengusulkan perpanjangan masa tanggap darurat agar penanganan kekeringan dan distribusi air bersih dapat terus dilakukan.
"Jika kemarau masih berkepanjangan pada September hingga Oktober mendatang, tidak menutup kemungkinan masa berlaku SK Bupati akan kami tambahkan," tambah Yudhi.