Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI TIMUR- Aliran Kali Bekasi di kawasan Jalan Mayor Madmuin Hasibuan, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, tampak berwarna hitam pekat, Rabu (5/8/2026). Air sungai juga menimbulkan aroma tidak sedap. (TribunBekasi/Rendy Rutama Putra)
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI TIMUR - Kondisi aliran Kali Bekasi yang tercemar pada musim kemarau berdampak langsung terhadap proses produksi air bersih Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi.
Manager Produksi Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi, Ahmad Giri Widodo, mengatakan kondisi kualitas air baku saat ini berwarna hitam pekat dan berbau menyengat.
Kondisi tersebut diakuinya membuat proses pengolahan air menjadi jauh lebih berat dibandingkan kondisi normal.
"Dampaknya terhadap produksi kami cukup berat. Selama musim kemarau ini kondisi Kali Bekasi sudah tercemar berat, sehingga dalam mengolah air kami harus melakukan penanganan khusus," kata Giri di lokasi, Rabu (5/8/2026).
Giri menjelaskan, beragam langkah telah dilakukan untuk menjaga kualitas air hasil produksi tetap memenuhi standar.
Salah satunya dengan menambah proses aerasi dan pre-klorinasi pada tahap awal pengolahan air.
"Salah satunya dengan menambah proses aerasi dan pre-klorinasi di bagian awal pengolahan untuk membunuh bakteri. Aerasi juga berfungsi meningkatkan kadar oksigen di dalam air," jelasnya.
Selain itu, Giri menuturkan Perumda Tirta Patriot juga menyesuaikan dosis bahan kimia pada instalasi pengolahan agar proses pengendapan berjalan optimal.
"Di instalasi pengolahan kami juga menambahkan dosis bahan kimia secara optimal agar proses pengendapan berjalan sempurna. Namun, dengan berbagai upaya tersebut masih ada kendala karena kondisi air baku saat ini sudah hitam pekat dan berbau," tuturnya.
Baca juga: Aliran Kali Bekasi Berwarna Hitam Pekat, DLH Sebut Bersumber dari Bogor
Giri menyampaikan, kondisi air pada hari ini mulai menunjukkan perbaikan setelah hujan mengguyur wilayah hulu pada sore hingga malam sebelumnya.
Meski demikian, selama sekitar satu pekan terakhir kondisi air baku dinilai sangat memprihatinkan.
"Kalau kondisi hari ini memang sudah sedikit lebih baik dibanding kemarin karena sore hingga malam kemarin turun hujan di wilayah hulu, sehingga terjadi pengenceran di Kali Bekasi. Tetapi sekitar satu minggu terakhir air benar-benar hitam pekat dan baunya sangat kuat. Kondisi itu sangat berat bagi proses pengolahan," ucapnya.
Sebagai dampak menurunnya kualitas air baku, Giri mengimbau masyarakat untuk sementara tidak menggunakan air sebagai bahan konsumsi.
"Untuk sementara air sebaiknya hanya digunakan untuk mandi, mencuci, dan membilas. Untuk air minum maupun memasak, kami sarankan belum digunakan," imbaunya.
Berkaitan dengan hal itu, Giri mengungkapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melalui Wali Kota Bekasi Tri Adhianto telah mengerahkan armada mobil tangki untuk membantu pelanggan yang terdampak akibat kualitas air baku yang tidak memenuhi syarat.
Terlebih, kondisi tersebut membuat kapasitas produksi air bersih juga terpaksa dikurangi.
Dari sebelumnya berkisar 500 hingga 600 liter per detik, saat ini produksinya diturunkan menjadi sekitar 500 liter per detik karena menyesuaikan kondisi kualitas air baku.
"Kemarin Pak Wali Kota sudah mengerahkan armada mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih kepada pelanggan yang terdampak akibat kualitas air baku yang tidak memenuhi syarat," pungkasnya.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi telah menindaklanjuti laporan masyarakat terkait pencemaran yang terjadi di aliran Kali Cileungsi dan berdampak hingga Kali Bekasi.
Dalam proses tindak lanjut, DLH Kota Bekasi mengerahkan Tim Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH), Pasukan Katak, serta UPTD Laboratorium DLH untuk melakukan penelusuran, pemantauan, dan pengambilan sampel air guna memastikan kondisi kualitas air di lokasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengatakan sebagai langkah awal Tim PPLH bersama Pasukan Katak dan UPTD Laboratorium DLH Kota Bekasi melakukan pengecekan lapangan serta pengambilan sampel air permukaan di Kali Cileungsi pada Senin (20/7/2026).
Selanjutnya, pengambilan sampel juga dilakukan di Kali Bekasi pada Rabu (22/7/2026).
Tidak hanya itu, Pasukan Katak DLH Kota Bekasi kembali melakukan penelusuran serta pemantauan di sepanjang aliran sungai pada Senin (27/7/2026) dan Kamis (30/7/2026) untuk mengidentifikasi penyebaran dugaan pencemaran yang melintasi wilayah Kota Bekasi.
Dari hasil pemantauan di lapangan, kondisi fisik air pada titik pemantauan yang berada di samping Cluster Richmond, Kota Wisata, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, terlihat berwarna hitam disertai bau menyengat.
Temuan tersebut mengindikasikan adanya penurunan kualitas air yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Hasil pengujian yang dilakukan UPTD Laboratorium DLH Kota Bekasi menunjukkan sejumlah parameter kualitas air permukaan telah melampaui baku mutu lingkungan.
Parameter tersebut meliputi Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Dissolved Oxygen (DO), nikel terlarut, seng terlarut, tembaga terlarut, serta fecal coliform.
"Temuan tersebut menunjukkan adanya pencemaran yang berpotensi menurunkan kualitas air di sepanjang aliran sungai," kata Kiswatiningsih dalam keterangannya, dikutip Rabu (5/8/2026).
Kiswatiningsih menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan lanjutan, aliran air yang terindikasi tercemar telah bergerak hingga memasuki kawasan Pangkalan 6, Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, serta Delta Pekayon, Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak pencemaran telah melintasi batas wilayah administratif sehingga memerlukan penanganan secara terpadu dan kolaboratif oleh berbagai instansi terkait.
"Sebagai tindak lanjut, DLH Kota Bekasi telah mengirimkan surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH), Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, serta DLH Kabupaten Bogor guna memperkuat sinergi dan mempercepat penanganan dugaan pencemaran tersebut," jelasnya.
Kiswatiningsih menuturkan, berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, titik awal yang diduga menjadi sumber pencemaran berada di wilayah administratif Kabupaten Bogor.
Karena itu, DLH Kota Bekasi berharap DLH Kabupaten Bogor dapat melakukan koordinasi serta tindak lanjut sesuai kewenangannya agar penanganan dilakukan secara menyeluruh sehingga dampak pencemaran terhadap lingkungan maupun masyarakat di wilayah hilir tidak semakin meluas.
"DLH Kota Bekasi juga menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pemantauan kualitas air secara berkala, memperkuat koordinasi dengan instansi terkait, serta menyampaikan perkembangan penanganan kepada masyarakat sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas dalam menjaga kualitas lingkungan hidup," pungkasnya.
Sementara itu, pantauan jurnalis Tribun Bekasi di Kali Bekasi kawasan Jalan Mayor Madmuin Hasibuan, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 11.30 WIB, air yang mengalir tampak berwarna hitam pekat.
Tidak hanya itu, air di Kali Bekasi juga menimbulkan aroma tidak sedap.
Selain itu, terlihat busa berwarna putih mengambang di aliran kali. (M37)