TRIBUNNEWS.COM - Lahan yang terbatas tidak menjadi penghalang untuk menghadirkan ruang hijau.
Hal itulah yang mendasari pegiat lingkungan asal Surakarta, Denok Marty Astuti (48), memperkenalkan konsep kebun sirkular kepada anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) di Yayasan Lentera, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Surakarta, Sabtu (1/8/2026).
Dalam kegiatan yang juga dihadiri Wali Kota Surakarta Respati Ardi, Denok bersama 17 ADHA berusia SMP-SMA di Yayasan Lentera turut menanam sejumlah sayur.
Denok menjelaskan, konsep kebun sirkular dipilih karena sesuai dengan kondisi Yayasan Lentera yang memiliki lahan terbatas. Melalui metode urban farming, anak-anak tetap dapat belajar bercocok tanam meski berada di lingkungan yang minim lahan.
"Lahan di Yayasan Lentera terbatas, sehingga urban farming menjadi salah satu solusi. Sayuran yang ditanam nantinya bisa dipanen, dimanfaatkan bersama, kemudian ditanam kembali. Di situlah konsep sirkularnya," ujar Denok kepada Tribunnews.com usai kegiatan penanaman sayur.
Menurutnya, kebun sirkular tidak hanya memberikan akses terhadap pangan sehat, tetapi juga menjadi sarana menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Ia berharap anak-anak dapat menikmati hasil panen dari kebun yang mereka rawat sendiri sekaligus belajar bertanggung jawab melalui kegiatan menyiram, merawat, hingga memanen tanaman.
"Anak-anak bisa belajar mencintai Ibu Bumi dalam skala kecil, dimulai dari rumah mereka sendiri. Meskipun lahannya terbatas, mereka tetap bisa menanam dan menikmati hasilnya," ujarnya.
Selain mengajarkan cara menanam, Denok yang juga pendamping progam urban farming menilai kegiatan berkebun juga memberikan manfaat bagi kesehatan mental.
Menurutnya, aktivitas bercocok tanam dapat menjadi media healing karena seseorang bersentuhan langsung dengan tanah, air, dan tanaman sehingga membantu mengurangi tekanan psikologis.
"Berkebun itu bagian dari healing. Kita merawat tanaman sekaligus merawat diri sendiri. Bersentuhan dengan tanah, tanaman, dan air membuat stres perlahan berkurang, apalagi bagi masyarakat perkotaan yang setiap harinya hanya melihat tembok," jelasnya.
Baca juga: Menanam Harapan di Yayasan Lentera, Kisah ADHA yang Tetap Sekolah, Berteman dan Mengejar Mimpi
Ia mengatakan ada kepuasan tersendiri ketika melihat tanaman tumbuh sedikit demi sedikit, mulai dari muncul tunas hingga berbunga dan berbuah.
"Kalau sudah panen biasanya ingin menanam lagi. Itu yang membuat berkebun bisa menghilangkan stres," ujarnya.
Denok juga ingin menghapus anggapan, bercocok tanam hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Menurutnya, siapa pun dapat menanam selama memiliki kemauan.
"Bukan karena merasa menanam akan gagal. Itu hanya sugesti. Kalau memang diniatkan untuk menanam, tanaman akan tumbuh. Semua orang pasti bisa," ujar Denok.
Ia menambahkan, keterbatasan lahan bukan menjadi alasan untuk tidak mulai berkebun.
"Sekecil apa pun lahannya, meski hanya lima atau enam pot, kalau dirawat dengan baik pasti ada manfaat," tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, Denok tidak hanya memberikan edukasi mengenai kebun sirkular kepada anak-anak Yayasan Lentera, tetapi juga mengajarkan pengelolaan sampah organik melalui pembuatan kompos.
Menurutnya, anak-anak perlu memahami bahwa sampah tidak selalu menjadi limbah yang harus dibuang, melainkan dapat dimanfaatkan dan bahkan memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.
"Harapannya anak-anak lebih menghargai sampah dan lingkungan. Mereka jadi tahu kalau membuat kompos itu sederhana dan sampah ternyata bisa menjadi cuan," katanya.
Untuk memastikan program tetap berjalan setelah kegiatan selesai, Denok akan melakukan monitoring secara berkala.
Ia berencana mengunjungi kembali lokasi-lokasi yang telah mendapatkan pendampingan untuk melihat perkembangan kebun sekaligus memastikan peserta tetap menjalankan praktik yang telah dipelajari.
Monitoring tersebut dilakukan agar program urban farming dengan konsep kebun sirkular dapat terus berjalan secara optimal.
Menurut Denok, model pendampingan seperti ini sangat memungkinkan diterapkan di berbagai komunitas relawan.
"Tinggal mau atau tidak. Kalau ilmunya sudah ada, saya yakin program ini bisa direplikasi di tempat lain," ujarnya.
Bagi Denok, perubahan kebiasaan sederhana seperti menanam dan mengelola sampah menjadi langkah awal untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Di balik kegiatannya mendampingi urban farming, Denok sebenarnya lebih dikenal sebagai pegiat pengelolaan sampah.
Selama 12 tahun terakhir, ia aktif menjadi relawan pengelola sampah di Kota Solo dan telah membangun 200 titik bank sampah di Solo.
Dedikasinya sebagai relawan lingkungan pun telah banyak dikenal oleh masyarakat Surakarta.
Ketika ditanya mengenai rahasia dirinya mampu bertahan menjadi relawan selama belasan tahun, Denok mengaku tidak memiliki jawaban khusus.
Menurutnya, semangat tersebut muncul secara alami dari hati sehingga ia tidak pernah merasa lelah menjalankan aktivitas sebagai relawan.
"Kalau tidak ada yang menggerakkan, lalu siapa? Semua ini muncul dari hati, jadi saya tidak pernah merasa capek," pungkas Denok.
(mg/ Lizera Janwa Naifa Sharon)
Penulis adalah peserta magang dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta