TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Iran untuk pertama kalinya mengungkap secara rinci besarnya dampak perang selama 40 hari melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Dalam laporan resmi yang dipublikasikan pemerintah kota Teheran, ibu kota Iran disebut sebagai wilayah yang mengalami kerusakan paling parah dibandingkan daerah lain di negara tersebut.
Laporan itu dipaparkan dalam forum publik yang diselenggarakan Fakultas Perencanaan Kota Universitas Teheran pada Selasa (4/8/2026).
Dokumen tersebut menjadi data paling lengkap yang pernah dipublikasikan pemerintah Iran mengenai dampak konflik, mulai dari jumlah serangan, kerusakan permukiman, hingga perkiraan kerugian ekonomi dan lingkungan.
Berdasarkan laporan tersebut, Teheran menjadi sasaran sedikitnya 650 serangan sepanjang perang yang berlangsung sejak Februari 2026.
Serangan-serangan itu menyebabkan lebih dari 50 ribu unit rumah mengalami kerusakan, mulai dari kerusakan ringan hingga hancur total.
Pemerintah Kota Teheran mencatat Distrik 4 di kawasan timur laut ibu kota menjadi wilayah yang paling banyak diserang selama konflik berlangsung.
Menurut laporan Departemen Perencanaan Kota dan Arsitektur Kotamadya Teheran, Distrik 4 mengalami 90 serangan, disusul Distrik 21 di wilayah barat sebanyak 62 serangan, Distrik 1 di utara dengan 57 serangan, serta Distrik 22 di barat laut yang mencatat 55 serangan.
Sementara itu, Distrik 17 di wilayah barat daya menjadi kawasan yang paling sedikit terdampak karena hanya mengalami tiga serangan.
Baca juga: Dampak Perang Kian Nyata, Sekolah di Iran Ditutup, Siswa Terisolasi dari Internet
Ahli konstruksi Pemerintah Kota Teheran, Hossein Nouhi, mengatakan intensitas serangan di Distrik 4 bahkan melampaui total serangan yang terjadi di beberapa provinsi Iran lainnya.
"Jumlah serangan di Distrik 4 saja melebihi total gabungan yang tercatat di beberapa provinsi," ujar Nouhi sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Teheran menjadi sasaran utama selama perang berlangsung.
Selain memetakan lokasi serangan, pemerintah Iran juga mengungkap skala kerusakan yang terjadi pada kawasan permukiman.
Secara keseluruhan terdapat 50.849 unit rumah yang mengalami kerusakan akibat perang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 40 ribu rumah mengalami kerusakan ringan, seperti pecahnya jendela, pintu, hingga bagian bangunan lainnya.
Kemudian sekitar 8.900 rumah mengalami kerusakan arsitektur yang lebih berat, sementara 415 bangunan membutuhkan penguatan struktur atau rekonstruksi.
Adapun sebanyak 2.042 rumah dinyatakan hancur total dan harus dibangun kembali dari awal.
Distrik 4 kembali menjadi wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak, yakni mencapai 7.948 unit.
Selanjutnya disusul Distrik 2 dengan 4.037 unit, Distrik 15 sebanyak 3.490 unit, Distrik 11 sebanyak 3.432 unit, Distrik 21 sebanyak 3.205 unit, serta Distrik 7 sebanyak 3.196 unit.
Sementara untuk kategori rumah yang hancur total, Distrik 7 menjadi wilayah dengan kerusakan paling parah, yakni 429 rumah rata dengan tanah.
Posisi berikutnya ditempati Distrik 4 dengan 325 rumah dan Distrik 11 sebanyak 248 rumah.
Selain kerusakan fisik, perang juga diperkirakan menimbulkan dampak ekonomi yang sangat besar.
Hossein Nouhi memperkirakan total kerugian akibat konflik mencapai sekitar 280 miliar dolar AS, atau setara lebih dari Rp4.500 triliun dengan asumsi kurs sekitar Rp16.100 per dolar AS.
Angka tersebut belum mencakup dampak psikologis terhadap masyarakat maupun biaya pemulihan sektor industri yang terganggu akibat perang.
Menurut Nouhi, pengalaman selama konflik menjadi pelajaran penting bagi pemerintah Iran untuk memperkuat standar pembangunan di masa depan, termasuk mewajibkan pembangunan tempat perlindungan atau bunker pada gedung-gedung bertingkat sebagai langkah mitigasi jika konflik kembali terjadi.
Tak hanya kerugian ekonomi, pemerintah Iran juga menyoroti besarnya dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat perang.
Ahli geologi Iran, Mehdi Zare', memperkirakan konflik tersebut menghasilkan sekitar 10 juta metrik ton puing bangunan hingga 1 Agustus.
Material sisa bangunan itu terdiri atas beton, baja, kaca, asbes, hingga berbagai limbah industri yang dinilai berpotensi mencemari lingkungan serta membahayakan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Zare' juga mengingatkan bahwa proses pembongkaran bangunan yang rusak dan pembersihan puing-puing telah melepaskan jutaan ton gas rumah kaca ke atmosfer, sehingga memperbesar dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh perang.
Laporan pemerintah kota Teheran ini menjadi gambaran paling komprehensif mengenai besarnya konsekuensi konflik terhadap Iran.
Selain menghancurkan infrastruktur dan kawasan permukiman, perang juga meninggalkan beban ekonomi, sosial, dan lingkungan yang diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.
(Tribunnews.com / Namira)