Presiden FIFA Gianni Infantino puji Kylian Mbappe yang 'luar biasa' usai kampanye menakjubkan di Piala Dunia 2026
Hendra Wijaya August 05, 2026 07:27 PM

Presiden FIFA Gianni Infantino memuji Kylian Mbappe yang disebutnya 'luar biasa' setelah menjalani kampanye gemilang di Piala Dunia 2026.

Presiden FIFA Gianni Infantino menggunakan pernyataannya untuk merayakan pencapaian bersejarah Kylian Mbappe setelah berakhirnya Piala Dunia di Amerika Utara. Pemimpin badan sepak bola dunia itu juga menyampaikan kecaman tegas terhadap hinaan rasial yang diarahkan kepada kapten Prancis tersebut.

Rekor Piala Dunia bertumbangan untuk Mbappe

Mbappe kembali menegaskan warisannya sebagai salah satu pemain terhebat dalam sejarah sepak bola setelah penampilan pemecah rekor di panggung dunia. Presiden FIFA itu segera menyoroti pengaruh besar sang pemain Prancis, sambil mencatat bahwa kapten Prancis juga membukukan sejumlah rekor sepanjang turnamen.

Infantino tidak menahan pujiannya kepada bintang Real Madrid itu, dengan mengungkapkan kekagumannya terhadap konsistensi dan bakat sang penyerang. Bos FIFA tersebut menegaskan bahwa pemain berusia 25 tahun itu kini telah menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa dalam sejarah kompetisi tersebut, sekaligus penyerang tersubur bagi Les Bleus.

"Mbappe yang luar biasa mencatatkan dua pencapaian sekaligus di Piala Dunia, memenangkan Sepatu Emas untuk kedua kalinya secara beruntun berkat 10 gol yang ia cetak selama turnamen di Amerika Utara!," kata Infantino. "Kapten Les Bleus itu juga mencetak sejumlah rekor, terutama dengan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa dalam sejarah kompetisi ini dan tim nasional Prancis."

Infantino berdiri bersama kapten Prancis

Meski sorotan utama tertuju pada keberhasilannya di lapangan, suasana setelah turnamen ternoda oleh insiden di luar lapangan yang tidak dapat diterima dan melibatkan figur politik. Dalam pernyataan terpisah, Infantino menanggapi hujatan yang diarahkan kepada sang penyerang dan menegaskan bahwa ia mengutuk tanpa syarat komentar rasial yang dilontarkan terhadap Mbappe oleh Senator Paraguay Celeste Amarilla.

Komentar tersebut, yang tersebar luas secara daring, memicu respons keras dari komunitas sepak bola serta pejabat tinggi pemerintahan di berbagai belahan dunia.

Presiden FIFA itu menekankan bahwa seluruh dunia sepak bola dan masyarakat berdiri dalam solidaritas bersama kapten Prancis pada masa ini. Ia kembali menegaskan bahwa sepak bola harus tetap menjadi ruang yang inklusif dan aman bagi semua orang, serta berjanji bahwa badan pengatur itu akan terus melanjutkan upayanya untuk memberantas momok rasisme dari permainan ini maupun dari masyarakat yang lebih luas.

Memecahkan rekor gol Piala Dunia

Kecemerlangan individu Mbappe menjadi satu-satunya sisi positif bagi Prancis dalam turnamen yang berakhir mengecewakan. Pemain berusia 27 tahun itu tampil sangat klinis sepanjang fase gugur, dan pada akhirnya membawa total golnya di ajang tersebut ke level baru. Hingga akhir laga perebutan tempat ketiga, Mbappe telah mencetak gol ke-22, yang secara resmi membawanya melewati Lionel Messi untuk menjadi pemain paling produktif dalam sejarah Piala Dunia.

Saat merefleksikan pencapaian itu selama turnamen, Mbappe tetap menunjukkan kerendahan hati yang menjadi ciri khasnya meski dominasi statistiknya begitu besar. Ia berkata: "Messi pasti akan mencetak gol, itu sudah pasti. Saya hanya berusaha membantu tim saya menang. Ketika Anda mencetak banyak gol di Piala Dunia, itu menempatkan Anda dalam kategori tertentu."

Menjalin kedekatan dengan publik Prancis

Di luar statistik dan pujian dari badan pengatur sepak bola dunia, Mbappe berupaya menjaga hubungan yang erat dengan para pendukung di tanah air. Setelah turnamen, ia merilis pesan penuh perasaan untuk menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diterimanya selama kampanye berat di seberang Atlantik. Dalam surat terbuka kepada publik Prancis, ia menekankan sifat kolektif dari perjalanan mereka meski ia juga meraih berbagai penghargaan individu sepanjang jalan.

Surat Mbappe sarat emosi ketika ia menulis: "Kalian tidak pernah mengecewakan kami, bahkan di saat-saat tersulit, bahkan ketika kami paling tidak pantas menerimanya. Kami menulis kisah ini dengan jutaan tangan, bukan hanya 11 orang di lapangan, semuanya digerakkan oleh semangat yang sama."

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.