Laporan Wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Persebaya Surabaya sukses mengamankan tiket ke babak grand final usai menumbangkan Arema FC pada laga semifinal di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar dengan skor tipis 1-0, pada Selasa 4 Agustus 2026 malam.
Kendati keluar sebagai pemenang, Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, meluapkan kekesalan mendalam terkait mepetnya jadwal pertandingan yang dinilai sangat menguras fisik anak asuhnya.
"Kami harus jujur, ini bukan pertandingan sempurna yang biasa kami peragakan," ujar Bernardo Tavares usai laga.
"Kami punya alasan kuat, kami hanya punya waktu recovery satu hari. Lebih pendek dari Arema." beber dia.
Baca juga: Soroti Jeda Antar Pertandingan, Pelatih Persib Singgung Aturan FIFA, Cek Jadwal Piala Presiden 2026
Tekanan jadwal yang sangat padat membuat derbi Jawa Timur tersebut berlangsung panas dan diwarnai banyak pelanggaran.
Tavares menilai kondisi fisik pemain yang sangat lelah menjadi pemicu utama laga berjalan penuh emosi.
"Pemain-pemain kami sangat lelah, tapi hari ini mereka bertarung seperti pejuang," tegas pelatih asal Portugal tersebut.
"Penting sekali bagi kami untuk bisa mencetak gol terlebih dahulu," jelasnya.
Kelelahan ekstrim tersebut berimbas pada performa tim di babak kedua.
Baca juga: Persebaya vs Persib Bandung di Final Piala Presiden 2026, Bernardo Tavares Kritik Jadwal Padat
Meski Arema FC harus bermain dengan 10 orang akibat kartu merah, Persebaya tampak kesulitan menambah keunggulan dan mengeksekusi peluang.
Tavares menolak menyalahkan kegagalan finishing anak asuhnya dan pasang badan membela tim.
"Pemain-pemain lelah, mereka bukan mesin!" kata Tavares.
"Tidak mungkin kami bermain tanggal 1 Agustus malam, baru bisa tidur jam 2 atau 3 pagi, lalu tanggal 3 pagi-pagi sekali sudah harus bangun untuk analisis taktik dan traveling," imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi stamina yang terkuras habis, strategi pragmatis menjadi satu-satunya jalan keluar untuk mengamankan kemenangan.
"Jika Anda tidak dalam kondisi baik, Anda tidak bisa tampil seperti pertunjukan opera. Kami harus pragmatis cetak gol, lalu jaga keseimbangan bertahan," tuturnya
Di babak final, Persebaya sudah ditunggu lawan kuat Persib Bandung.
Tavares menyadari betul tantangan berat yang menanti di depan mata, mengingat Persib memiliki waktu istirahat lebih panjang dan kedalaman skuat yang jauh lebih ideal.
Baca juga: Lolos ke Final Piala Presiden 2026, Debut Mariano Peralta Bersama Persib Bandung Berakhir Manis
"Persib itu tim favorit, jika melihat transfer market mereka bisa membuat tiga tim sekaligus," tutur Tavares.
"Pertandingan final nanti akan seperti duel Daud melawan Goliat. Kami harus rendah hati mengakui itu," sambungnya.
Senada dengan sang pelatih, perwakilan Pemain Persebaya, Rachmat Irianto, membenarkan bahwa benturan fisik dan tingginya emosi di lapangan murni dipicu oleh faktor kelelahan yang memuncak.
"Sangat benar, kami sangat kelelahan karena jadwal yang sangat pendek dan padat. Main malam, besok paginya recovery, lalu langsung traveling lagi, itu sangat melelahkan," bebernya.
Menghadapi sang mantan klub di partai puncak, pemain yang akrab disapa Rian ini menegaskan siap memberikan yang terbaik dan mengintip celah dari sang lawan favorit.
"Persib Bandung tim favorit, tiga tahun ke belakang mereka punya tim dan pemain yang sangat bagus. Tapi kami akan berusaha memanfaatkan setiap celah sekecil apa pun yang ada untuk Persebaya," pungkasnya. (*)