Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Pagi belum lama menyingsing ketika Paradila Sandi (49) sudah bersiap meninggalkan rumahnya di RT 11 RW 03, Kelurahan Pensiunan, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang.
Sejak berpisah dengan suaminya pada 2013, Paradila memilih kembali ke rumah orang tuanya.
Rumah yang berdiri di atas tanah milik keluarga itu kemudian menjadi tempatnya memulai kembali kehidupan, meski dalam keterbatasan.
Rumah yang jauh dari kata layak tersebut berukuran hanya sekitar 2,5 meter x 6 meter.
Kondisi Rumah
Dindingnya terbuat dari pelepah bambu yang sebagian telah lapuk dan berlubang.
Tampak di beberapa sisi, lubang-lubang tersebut ditutup menggunakan lemari tua agar angin tidak bebas masuk.
Lantainya masih berupa tanah yang hanya dilapisi tikar tipis.
Setiap kali hujan turun, air menetes dari atap seng bekas yang bocor.
Terpal dipasang seadanya untuk mengurangi tetesan air yang jatuh ke dalam rumah.
"Hanya ada dua ruangan, sama kamar satu," ujar Paradila pelan.
Di dalam rumah yang sempit itu, hampir setiap musim hujan menjadi kecemasan tersendiri baginya dan anaknya karena atap seng bekas yang telah dimakan usia membuat air hujan leluasa masuk.
Paradila sudah terbiasa memindahkan kasur, pakaian, hingga peralatan rumah tangga agar tidak terendam tetesan air.
"Namanya juga seng bekas, jadi sering bocor. Kalau hujan basah semua, tapi kami tampung," katanya sambil menunjuk ember yang biasa digunakan menadah air hujan.
Namun, rumah sederhana itu menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi dirinya dan putri bungsunya yang kini duduk di bangku kelas IV sekolah dasar.
"Ini tanah milik orang tua. Sudah sejak 2013 saya tinggal di sini berdua bersama anak perempuan saya," kata Paradila.
Bertahan Menghidupi Anak
Diketahui Paradila memiliki dua orang anak.
Anak sulungnya telah merantau mengikuti kerabat sejak sekitar tiga tahun lalu sehingga ia hanya tinggal bersama putri bungsunya.
"Anak saya ada dua. Satunya sudah sekitar tiga tahun merantau ikut kerabat di sana, yang perempuan kelas empat SD tinggal bersama saya di sini," tutur Paradila.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Paradila bekerja di sebuah warung lontong.
Setiap pagi pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 13.00 WIB, ia melayani pembeli demi memperoleh upah harian.
Penghasilannya tidak besar, hanya sekitar Rp35.000 hingga Rp40.000 setiap hari.
Jumlah itu harus cukup untuk membeli kebutuhan makan, membiayai sekolah anak, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.
"Saya kerja di warung lontong milik orang dari pukul 06.00 sampai 13.00 WIB dengan pendapatan Rp35.000 sampai Rp40.000 per hari. Cukup tidak cukup harus dicukupkan," beber Paradila.
Harapan Mendapat Bantuan
Meski demikian, Paradila mengaku belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah.
Ia juga belum pernah mengajukan usulan karena tidak mengetahui prosedurnya.
"Belum pernah ada kami menerima bantuan, kita juga belum pernah mengusulkan sebelumnya," ungkapnya.
Di tengah segala keterbatasan tersebut, ia hanya berharap suatu hari rumah kecil yang selama ini menjadi tempat berlindung bersama anaknya dapat diperbaiki agar lebih aman dan nyaman untuk ditinggali.
"Iya, harapan kita kalau bisa dibantu biar rumah ini bisa direhab," harap Paradila.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini