Kakak beradik di Singapura mendirikan SmolBoss untuk mengajak anak menjadi relawan. Berawal dari aksi sederhana, kini menginspirasi banyak keluarga.
Di tengah kesibukan belajar, tak sedikit anak yang mulai peduli terhadap lingkungan sekitar. Kepedulian itu bahkan bisa berkembang menjadi gerakan yang menginspirasi banyak orang.
Dengan dukungan keluarga, ide sederhana dapat berubah menjadi aksi nyata. Kisah ini membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk membawa perubahan positif.
Dilansir dari Must Share News, (4/8/2026), Elizabeth Tay yang kini berusia 12 tahun bersama adiknya, Benjamin Tay, 8 tahun, mendirikan SmolBoss. Gerakan tersebut mendorong anak-anak untuk menjadi relawan dan membuat proyek sosial.
Seorang bocah membantu para pekerja migran dengan membuka kedai lemonade gratis. Foto: Must Share News
|
Ide SmolBoss berawal saat Elizabeth masih berusia lima tahun. Ia melihat pekerja migran beristirahat di bawah terik matahari dan merasa ingin membantu.
"Saat itu mereka terlihat sangat tidak nyaman," ujar Elizabeth.
Elizabeth kemudian mengusulkan membuat lemonade untuk para pekerja. Bersama keluarganya, ia belajar mencari sponsor dan membuka stan minuman di asrama pekerja migran.
Saat itu, sekitar 1.000 pekerja diperkirakan akan datang. Elizabeth pun mengajak teman-temannya ikut menjadi sukarelawan agar kegiatan berjalan lancar.
Disambut dengan antusias dan respons baik, aksi amal tersebut berkembang semakin besar. Foto: Must Share News
|
Ribuan pekerja akhirnya menikmati lemonade dan buah yang dibagikan. Pengalaman tersebut akhirnya jadi titik awal lahirnya semangat terus berbagi.
Beberapa tahun kemudian, Elizabeth menyadari mayoritas relawan yang ditemuinya adalah orang dewasa. Ia pun ingin menciptakan wadah agar anak-anak bisa menjadi relawan bersama teman sebayanya.
Dari pemikiran itulah SmolBoss resmi dibentuk. Nama tersebut mengandung pesan bahwa setiap anak bisa menjadi pemimpin meski usianya masih muda.
Bahkan tahun ini SmolBoss melakukan gebrakan baru. Tak hanya menyediakan lemonade gratis bagi pekerja migran, tapi juga mengunjungi panti jompo untuk menghibur para lansia yang tinggal di sana.







