Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aflahul Abidin
TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Sterilisasi area pelabuhan di Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi dan Pelabuhan Gilimanuk, Bali mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) berharap, penerapan aturan tersebut akan menjadi tonggak budaya keselamatan penyebrangan.
Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo mengatakan, program sterilisasi pelabuhan secara penuh di lintas Ketapang-Gilimanuk harus diapresiasi.
"Langkah ini merupakan bagian penting dari upaya memperkuat tata kelola pelabuhan, meningkatkan ketertiban kawasan operasional, serta memperkokoh sistem keselamatan transportasi penyeberangan nasional," kata Khoiri, Rabu (6/8/2026).
Pihaknya meminta implementasi sterilisasi pelabuhan tak sekadar pelaksanaan regulasi atau penataan fisik kawasan pelabuhan.
“Sterilisasi pelabuhan adalah instrumen untuk membangun budaya keselamatan atau safety culture. Keberhasilannya bukan diukur dari banyaknya pagar, portal, atau pembagian zona yang dibangun, melainkan dari tumbuhnya kesadaran dan disiplin seluruh insan transportasi," ujar dia.
Khoiri menilai pemilihan Ketapang-Gilimanuk sebagai salah satu lokasi penerapan sterilisasi pelabuhan sebagai hal yang tepat.
Selain karena merupakan salah satu lintasan tersibuk di Indonesia, pelabuhan ini juga memiliki makna sejarah dalam perjalanan keselamatan transportasi penyeberangan nasional.
Baca juga: Mulai 5 Agustus, Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Disterilisasi
Ia menjelaskan, lintasan Ketapang–Gilimanuk menjadi urat nadi konektivitas Pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara. Jutaan penumpang, kendaraan, dan logistik melintasi lintasan ini setiap tahunnya.
Di balik peran strategis tersebut, lanjut dia, lintasan ini juga menyimpan catatan panjang berbagai musibah pelayaran.
Berdasarkan catatan yang dihimpun dari perjalanan operasional lintasan Ketapang–Gilimanuk, sejumlah kecelakaan kapal penyeberangan terjadi dalam dua dekade terakhir.
Kecelakaan itu antara lain tenggelamnya LCT Kaltim Mas II (1994), LCT Trisila Bhakti (1995), KMP Citra Mandala Bhakti (2000), KMP Rafelia II (2016), KMP Yunicee (2021), dan KMP Tunu Pratama Jaya (2025).
Di luar itu, terdapat juga insiden LCT Pancar yang tenggelam namun berhasil diapungkan kembali.
“Setiap musibah membawa pelajaran yang sangat mahal," ujarnya.
Baca juga: Suasana Sterilisasi Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Penumpang hingga Pedagang Wajib Teridentifikasi
Khoiri mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan Pelabuhan Ketapang sebagai simbol transformasi keselamatan transportasi penyeberangan di Indonesia.
Keselamatan penyebrangan, kata dia, tidak dapat dibangun hanya melalui regulasi, teknologi, atau infrastruktur.
Menurutnya, keselamatan hanya akan terwujud apabila seluruh pemangku kepentingan memiliki kesadaran dan budaya yang sama.
Mulai dari regulator, operator kapal, pengelola pelabuhan, nakhoda, awak kapal, petugas lapangan, pengemudi kendaraan, hingga seluruh pengguna jasa.
“Jangan bekerja hanya karena ada aturan. Jangan bekerja hanya karena ada pengawasan. Tetapi bekerjalah karena kita sadar bahwa setiap keputusan yang kita ambil berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa manusia," ujarnya.