TRIBUNNEWS.COM - Krisis yang mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai berdampak pada pasokan minyak dari Uni Emirat Arab (UEA).
Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC) dilaporkan memangkas alokasi minyak mentah bagi mitra-mitra ekuitasnya sekitar 20 persen untuk pengiriman bulan ini.
Menurut laporan Reuters, para mitra hanya diizinkan mengangkat sekitar 80 persen dari sisa alokasi minyak mentah Murban mereka.
Sumber yang mengetahui kebijakan tersebut menyebut ADNOC tidak memberikan alasan resmi atas pengurangan volume tersebut.
Meski demikian, pengiriman minyak Murban masih dapat dilakukan melalui pelabuhan Fujairah yang berada di luar Selat Hormuz, mengutip Al Mayadeen, Rabu (5/8/2026).
Baca juga: Isi Draf Kesepakatan AS-Iran-Oman Soal Selat Hormuz: Aturan Jalur Kapal hingga Pembersihan Ranjau
Sebelumnya, perusahaan mengarahkan pengiriman melalui pelabuhan Jebel Dhanna yang mengharuskan kapal melewati selat tersebut.
Gangguan di Selat Hormuz juga memicu gejolak di pasar energi global.
Harga minyak mentah beberapa kali menembus level 100 dolar AS per barel dalam sepekan terakhir, sementara tarif angkutan kapal tanker melonjak ke rekor tertinggi akibat meningkatnya risiko pelayaran.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global dan mendorong negara-negara produsen mencari jalur ekspor alternatif.
(*)