Menyelami Keistimewaan DIY Lewat 'Friends of Yogyakarta 2026': Delegasi Mancanegara Jadi Abdi Dalem
Yoseph Hary W August 05, 2026 11:04 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Dibalut kain jarik dan beskap khas Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, belasan warga asing tampak tekun mempelajari tata cara menghaturkan salam dengan jemari terkatup rapat di dada.

Sebanyak 12 delegasi dari Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Australia mengikuti pengalaman budaya di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Selasa (4/8/2026) pagi. Program Friends of Yogyakarta (FoY) 2026 besutan DPMPTSP DIY ini menghadirkan konsep imersif, para peserta diajak melebur langsung dalam tradisi lokal dan rantai ekonomi kreatif daerah.

Selami nilai budaya Jawa

Kegiatan bertajuk Abdi Dalem Experience yang digelar pada Selasa pagi tersebut menjadi salah satu fondasi utama seluruh rangkaian FoY 2026. Di dalam lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, para utusan negara mitra ini diajak menyelami secara langsung nilai-nilai kebudayaan Jawa yang tetap hidup dan menyatu erat dalam keseharian masyarakat Yogyakarta.

Pengalaman tersebut dibuka dengan prosesi wanuh busana. Para peserta berganti pakaian mengenakan busana resmi Abdi Dalem Keraton lengkap dengan segala kelengkapannya. Melalui sesi ini, mereka diperkenalkan pada filosofi mendalam di balik helai kain adat—sebuah simbol kesederhanaan, pengabdian tulus, serta bentuk penghormatan tinggi terhadap tradisi luhur warisan leluhur.

Usai berbusana adat, para delegasi memasuki sesi pembelajaran etika dan perilaku Abdi Dalem. Di bawah bimbingan langsung pengemban budaya, mereka mempelajari unggah-ungguh atau tata krama Jawa. Mulai dari gestur tubuh saat menyampaikan salam penghormatan, tata cara berjalan yang santun di area sakral, hingga sikap badan yang memancarkan nilai kesopanan.

Keistimewaan Yogyakarta memang tidak terlepas dari keberadaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang hingga kini memegang peran aktif dalam roda penyelenggaraan pemerintahan daerah sekaligus penjaga benteng kebudayaan. 

Keraton tidak sekadar berdiri sebagai kediaman resmi Sri Sultan Hamengku Buwono, tetapi bertindak sebagai pusat peradaban yang memelihara seni, adat, dan filosofi hidup.

Tur konservasi kawasan cagar budaya 

Rangkaian kegiatan di Keraton ditutup dengan tur konservasi kawasan cagar budaya untuk memelajari sejarah serta arsitektur bangunan, dilanjutkan sesi nyungging batik atau menggambar pola dasar batik tulis, serta santap siang hidangan favorit khas Keraton di Restoran Bale Raos.

Tak berhenti pada pengenalan tradisi keraton, eksplorasi para delegasi berlanjut pada Selasa siang dengan menyisir sentra-sentra ekonomi kreatif berbasis warga. Agenda ini dirancang untuk memperlihatkan bagaimana kearifan lokal Yogyakarta mampu beradaptasi menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang bernilai tambah tinggi.

Sentra industri Bakpia Pathok 25 menjadi destinasi pertama. Di pelopor industri oleh-oleh legendaris ini, peserta tidak hanya mendengarkan rekam jejak perkembangan bakpia hingga menjadi ikon kuliner Jogja. Mengenakan sarung tangan higienis, para utusan asing ini berpraktik langsung membentuk adonan bakpia bersama para perajin lokal, lalu mencicipi bakpia hangat yang baru keluar dari tungku panggangan.

Perjalanan dilanjutkan menuju Museum Timbul. Di ruang edukasi dan seni ini, peserta menyaksikan transformasi panjang kerajinan gerabah—dari yang semula sebatas peralatan dapur tradisional hingga berevolusi menjadi karya seni bernilai estetika dan ekonomi tinggi. Pada sesi lokakarya, para delegasi menuangkan kreativitas mereka dengan mewarnai gerabah polos yang kemudian dibawa pulang sebagai kenang-kenangan autentik.

Kunjungan ke dua sentra ini membuktikan bahwa sinergi antara nilai kebudayaan dan inovasi masyarakat setempat mampu menciptakan ekosistem pariwisata yang kokoh sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Program Friends of Yogyakarta 2026 yang berlangsung selama enam hari (3–8 Agustus 2026) ini diinisiasi oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY. Pelaksanaannya tahun ini merupakan keberlanjutan dari kesuksesan gelaran perdana pada tahun 2024 lalu yang mendapat apresiasi luas dari jejaring internasional.

Antusiasme mitra luar negeri 

Kepala DPMPTSP DIY, Ghofar Ismail, mengungkapkan bahwa antusiasme mitra luar negeri menjadi alasan utama Pemda DIY untuk memelihara keberlanjutan program diplomasi ini.

"Berkat capaian dan antusiasme pada gelaran pertama, Pemda DIY memutuskan untuk melanjutkan program Friends of Yogyakarta. Pada penyelenggaraan tahun 2026 ini, kita kembali mempertemukan sahabat-sahabat kita dari berbagai belahan dunia di Yogyakarta tercinta," tutur Ghofar.

Menurut Ghofar, pendekatan melalui diplomasi lunak (soft diplomacy) dan interaksi langsung dengan warga serta perajin lokal bertujuan untuk memupuk kepercayaan global (global trust) secara alami. Pemda DIY meyakini bahwa hubungan internasional yang berlandaskan pemahaman budaya dan empati akan membuka pintu kerja sama investasi serta pariwisata daerah yang jauh lebih solid dan berkelanjutan.

Selain agenda Keraton dan ekonomi kreatif, selama enam hari para peserta dihadapkan pada jadwal intensif yang mencakup pengalaman di Pura Pakualaman, kelas Bahasa Indonesia, menyusuri kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, mengunjungi Situs Warisan Dunia Candi Prambanan dan Candi Borobudur, hingga blusukan ke sentra kerajinan kulit dan perak.

Melalui pengalaman ini, para delegasi diharapkan tidak hanya membawa pulang suvenir gerabah atau bakpia, melainkan bertindak sebagai duta persahabatan (ambassador of friendship) yang menceritakan keistimewaan serta potensi investasi Yogyakarta di negaranya masing-masing.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.