Riset DIR Ungkap Trust Publik terhadap BGN Muncul di Tengah Evaluasi Program MBG
Briandena Silvania Sestiani August 06, 2026 05:08 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Kepercayaan publik terhadap Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan di tengah berbagai polemik yang masih mengiringi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Temuan tersebut menjadi salah satu hasil utama riset terbaru Deep Intelligence Research (DIR) yang memantau perkembangan percakapan publik setelah pergantian kepemimpinan di BGN.

Temuan ini dinilai menarik karena muncul di saat Program Makan Bergizi Gratis masih berada dalam sorotan masyarakat akibat sejumlah persoalan, mulai dari dugaan tindak pidana korupsi, kasus keracunan makanan di sejumlah daerah, hingga kritik terhadap tata kelola program yang memiliki cakupan nasional tersebut.

Berbeda dengan hasil pemantauan sebelumnya, kali ini indikator kepercayaan atau trust mulai muncul dalam percakapan publik mengenai BGN.

Dalam kajian komunikasi publik, trust merupakan indikator yang menggambarkan tingkat keyakinan masyarakat terhadap institusi atau pemimpin dalam menjalankan tugasnya.

Kehadiran indikator ini menunjukkan adanya perubahan persepsi publik yang sebelumnya lebih banyak didominasi kritik.

Baca juga: Tak Perlu Tunggu 2028, KOSPI Desak DPR Pisahkan Program MBG dari Anggaran Pendidikan Mulai APBN 2027

Riset Dilakukan Setelah Pergantian Kepala BGN

Menurut Neni, capaian tersebut menjadi modal awal yang cukup baik bagi pimpinan baru BGN dalam menjalankan tugas yang dinilai memiliki tantangan sangat besar.

"Sentimennya positif, dominan sentimen positif, 62,4 persen. Itu sebenarnya good start untuk seorang Mas Dar menjalani satu tugas yang maha dahsyat ini karena dia mengemban anggaran negara yang cukup besar dengan cakupan wilayah yang sangat luas dan kompleksitas pengadaan makan bergizi gratis bukan cuma melibatkan SPPG, tapi juga supplier dan penerima manfaat," kata Direktur Riset dan Komunikasi DIR Neni Nur Hayati di Jakarta (5/8/2026).

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan program pemerintah yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari SPPG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi—unit pelaksana yang bertugas menyediakan dan menyalurkan makanan bergizi kepada penerima manfaat—hingga pemasok bahan makanan serta sekolah sebagai lokasi distribusi.

Trust Publik Muncul untuk Pertama Kalinya

Selain dominasi sentimen positif, hasil riset DIR menunjukkan adanya perubahan komposisi emosi publik dalam percakapan digital.

DIR mencatat tingkat kemarahan (anger) turun menjadi 7,2 persen, sedangkan indikator trust mencapai 26 persen.

Menurut Neni, indikator kepercayaan tersebut belum pernah muncul sejak isu MBG menjadi salah satu topik yang paling ramai diperbincangkan masyarakat.

"Menariknya ternyata di media sosial itu tidak jauh berbeda sentimen positifnya, bahkan lebih tinggi sedikit. Jarang-jarang. Biasanya hasil riset itu mainstream positif, tetapi media sosial justru negatif. Yang menarik, trust di sini mencapai 26 persen. Biasanya itu tidak pernah muncul," ujarnya.

Temuan tersebut menunjukkan adanya perubahan pola percakapan publik, baik di media arus utama maupun media sosial.

Percakapan MBG Hasilkan Ratusan Juta Interaksi

Dalam periode pemantauan yang sama, DIR merekam sekitar 220 ribu unggahan mengenai Program Makan Bergizi Gratis.

Seluruh unggahan tersebut menghasilkan sekitar 776 juta interaksi dengan tingkat engagement atau keterlibatan pengguna media sosial mencapai sekitar 9,9 juta.

Engagement merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar respons publik terhadap suatu konten, seperti melalui tanda suka, komentar, membagikan ulang, maupun bentuk interaksi lainnya.

Menurut Neni, tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa MBG masih menjadi salah satu isu nasional dengan daya tarik terbesar karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Program tersebut menyentuh banyak kelompok, mulai dari siswa sebagai penerima manfaat, orang tua, sekolah, hingga pelaku usaha penyedia makanan.

Kritik Publik Bergeser ke Tata Kelola

Meski sentimen positif mendominasi, DIR menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti kritik masyarakat telah hilang.

Menurut hasil penelitian, fokus kritik kini bergeser dari penolakan terhadap keberadaan program menjadi tuntutan agar tata kelola MBG diperbaiki.

Percakapan yang paling banyak muncul berkaitan dengan transparansi penggunaan anggaran, upaya pencegahan korupsi, penanganan kasus keracunan makanan, hingga penertiban SPPG yang dinilai bermasalah.

Dengan kata lain, masyarakat dinilai masih memberikan perhatian besar terhadap implementasi program, namun berharap pengelolaannya semakin terbuka dan akuntabel.

Respons Cepat Kepala BGN Dinilai Berpengaruh

DIR menilai meningkatnya sentimen positif tidak terlepas dari langkah komunikasi yang dilakukan pimpinan baru BGN, Sudaryono.

Menurut Neni, kepemimpinan baru memperoleh respons positif karena memilih membuka ruang komunikasi kepada publik di tengah tekanan yang dihadapi lembaga tersebut.

Langkah-langkah seperti respons cepat terhadap kasus keracunan makanan, inspeksi langsung ke lapangan, hingga penutupan SPPG yang dianggap bermasalah dinilai menjadi bagian dari upaya pembenahan.

Selain itu, pernyataan Sudaryono yang menegaskan bahwa dirinya maupun keluarganya tidak memiliki SPPG juga disebut turut memengaruhi meningkatnya kepercayaan masyarakat.

"Pemulihan institusi BGN harus dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas, terutama dalam proses penegakan hukum, kondisi riil di lapangan, dan hasil investigasi kasus keracunan. Itu yang mendapatkan apresiasi dari masyarakat," kata Neni.

Kepercayaan Publik Masih Bersifat Sementara

Meski indikator trust mulai muncul, DIR mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum sepenuhnya stabil.

Menurut Neni, masyarakat masih berada pada posisi wait and see, yakni masih menunggu konsistensi antara pernyataan pemerintah dengan pelaksanaan di lapangan.

Apabila ditemukan perbedaan antara narasi yang disampaikan kepada publik dengan fakta di lapangan, maka sentimen negatif dinilai berpotensi kembali mendominasi.

Karena itu, pembenahan tata kelola dinilai harus berjalan seiring dengan komunikasi publik yang terbuka.

Instagram dan TikTok Jadi Fokus Komunikasi

Berdasarkan hasil pemantauan DIR, Instagram dan TikTok menjadi dua platform media sosial yang paling banyak menjadi pusat percakapan mengenai MBG.

Oleh sebab itu, Neni menyarankan BGN memperkuat penyebaran informasi melalui kedua platform tersebut.

"BGN harus aktif melakukan propaganda positif, bagaimana mengamplifikasi narasi positif di media sosial yang betul-betul sesuai dengan kenyataan di lapangan. Kuncinya tetap transparan dan akuntabel. Kalau komunikasinya bagus tetapi faktanya berbeda, sentimen negatif akan meledak lagi di ruang publik," ujarnya.

Dalam konteks tersebut, istilah mengamplifikasi narasi positif berarti memperluas penyebaran informasi yang sesuai fakta mengenai langkah-langkah perbaikan yang dilakukan pemerintah sehingga dapat diketahui lebih luas oleh masyarakat.

Trust Dinilai Menjadi Modal Awal Pembenahan

Hasil riset Deep Intelligence Research menunjukkan bahwa ruang pemulihan reputasi Badan Gizi Nasional mulai terbuka setelah pergantian kepemimpinan.

Namun, ruang tersebut dinilai masih harus dijaga melalui konsistensi kebijakan, transparansi anggaran, penegakan hukum, serta komunikasi publik yang berbasis data.

Di tengah besarnya ekspektasi masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis yang mengelola anggaran negara dalam jumlah besar, indikator trust yang mulai muncul dapat menjadi modal awal bagi pimpinan baru BGN.

Meski demikian, keberlanjutan kepercayaan publik tetap akan bergantung pada kemampuan institusi tersebut dalam memperbaiki tata kelola program secara nyata, bukan hanya membangun persepsi di ruang publik.

DIR menilai komunikasi yang baik, empatik, terbuka, dan didukung data yang dapat dipertanggungjawabkan akan menjadi faktor penting agar kepercayaan masyarakat terus terjaga seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.