Pasutri Gen Z di Semarang Produksi Bendera, Kebanjiran Pesanan di Momen Agustusan
M Syofri Kurniawan August 06, 2026 06:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tumpukan plastik transparan berisi bendera Merah Putih terlihat di satu sudut ruangan tengah sebuah rumah di Jalan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Selasa (04/08/2026).

Di sela karung-karung besar berisi umbul-umbul, bandir, hingga ornamen dekorasi kampung, dua anak muda tampak sibuk memeriksa pesanan yang terus berdatangan.

Sesekali Fahmi Babgae (28) membentangkan selembar bandir merah putih sepanjang hampir empat meter.

Di sampingnya, sang istri, Regita Sekar Adisti (28), menata kain-kain itu agar lebih rapi, sambil menjelaskan berbagai pilihan desain yang bisa disablon dengan logo instansi, nama RT, RW, kelurahan, hingga komunitas.

Terkadang, Regita juga duduk di depan mesin jahit klasik berwarna hitam, mengarahkan lembaran kain merah putih di bawah jarum mesin.

Di rumah itu, sebagian proses produksi dilakukan. Sisanya, dipasok dari jaringan produsen yang selama bertahun-tahun mereka bangun.

Menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, jumlah pesanan yang diterimanya meningkat.

Telepon terus berdering, pesan Whatsapp masuk tanpa henti, sementara jadwal pengiriman harus diatur sedemikian rupa agar seluruh pesanan tiba tepat waktu.

Menurut mereka, Agustus bukan sekadar bulan perayaan kemerdekaan. Momen itu menjadi musim panen yang mereka tunggu sepanjang tahun.

"Kalau yang paling diandalkan tetap 17 Agustus. Ini memang panen raya kami," ujar Regita sambil tersenyum.

Kesibukan yang kini mereka rasakan bukan datang begitu saja.

MENATA BENDERA - Pasangan suami istri Generasi Z, Fahmi Babgae (28) dan Regita Sekar Adisti (28), menata sekaligus menunjukkan bendera Merah Putih, umbul-umbul, bandir, dan berbagai ornamen peringatan HUT ke-81 RI di rumah mereka di Jalan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Selasa (4/8/2026). Usaha yang mereka rintis sejak 2016 itu kini kebanjiran pesanan dari RT/RW, perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga instansi pemerintah menjelang peringatan Hari Kemerdekaan.
MENATA BENDERA - Pasangan suami istri Generasi Z, Fahmi Babgae (28) dan Regita Sekar Adisti (28), menata sekaligus menunjukkan bendera Merah Putih, umbul-umbul, bandir, dan berbagai ornamen peringatan HUT ke-81 RI di rumah mereka di Jalan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Selasa (4/8/2026). Usaha yang mereka rintis sejak 2016 itu kini kebanjiran pesanan dari RT/RW, perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga instansi pemerintah menjelang peringatan Hari Kemerdekaan. (TRIBUN JATENG/Reza Gustav Pradana)

Sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 2016, Fahmi hanyalah seorang pelajar SMA yang berusaha mencari tambahan penghasilan.

Dia bergabung dengan seorang pengusaha asal Garut yang berjualan bendera dan berbagai atribut kemerdekaan.

Kala itu, pekerjaannya jauh dari kata nyaman.

Dia harus menggelar lapak sederhana di pinggir jalan, menawarkan bendera kepada siapa pun yang melintas. 

Bahkan hingga kini, ketika ada waktu luang, Fahmi mengaku masih sesekali turun langsung berjualan di lapak karena menurut dia cara itu tetap efektif mendongkrak penjualan.

"Kenapa jualan? Karena realistis saja, butuh uang. Dulu ikut orang Garut, ngelapak di pinggir jalan dan dari situ saya belajar bagaimana cara jualan dan mencari pasar," kenang dia.

Pengalaman itu, lanjut dia, justru menjadi sekolah bisnis yang sesungguhnya.

Fahmi mulai mempelajari rantai distribusi, mencari tengkulak dengan harga paling murah, berburu pemasok melalui Facebook, marketplace hingga berbagai toko daring.

Setelah menemukan harga terbaik, dia kembali menjual produk tersebut kepada konsumen dengan harga yang tetap kompetitif.

"Dari situ akhirnya kami tahu harus cari barang di mana supaya bisa jual lebih murah lagi ke masyarakat," imbuh dia.

Merantau ke Semarang

Setelah menikah dengan Regita, perempuan asli Semarang, Fahmi mengambil keputusan besar.

Usaha yang semula berkembang di Madiun dicoba dibawa ke Kota Semarang. Namun langkah itu tidak langsung membuahkan hasil.

Pada tahun pertama, penjualan dianggap minim.

JAHIT KAIN BENDERA - Regita Sekar Adisti (28) menjahit kain bendera Merah Putih di rumah bibinya di Jalan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Selasa (4/8/2026), untuk memenuhi pesanan pelanggan menjelang HUT ke-81 RI. Bersama suaminya, Fahmi Babgae, dia mengelola usaha penjualan dan produksi bendera serta berbagai perlengkapan dekorasi kemerdekaan yang saat ini mampu memasok sekitar 1.000 produk setiap hari.
JAHIT KAIN BENDERA - Regita Sekar Adisti (28) menjahit kain bendera Merah Putih di rumah bibinya di Jalan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Selasa (4/8/2026), untuk memenuhi pesanan pelanggan menjelang HUT ke-81 RI. Bersama suaminya, Fahmi Babgae, dia mengelola usaha penjualan dan produksi bendera serta berbagai perlengkapan dekorasi kemerdekaan yang saat ini mampu memasok sekitar 1.000 produk setiap hari. (TRIBUN JATENG/Reza Gustav Pradana)

Sebagian warga belum mengenal usaha mereka. Harga yang dinilai terlalu murah bahkan membuat sebagian calon pembeli curiga.

"Orang kadang takut kalau harganya murah. Dikira penipuan, padahal memang kami jual sesuai harga dan kebutuhan," ujar Fahmi.

Kondisi itu membuat pasangan muda tersebut harus memutar otak. Mereka mulai mempelajari karakter pasar Kota Semarang satu demi satu.

Jika awalnya hanya menjual kepada masyarakat umum, Fahmi dan Regita kemudian menemukan bahwa pasar atribut kemerdekaan ternyata jauh lebih luas.

Sekolah memiliki mekanisme pengadaan melalui SIPLah. Instansi pemerintah menggunakan LPSE. Sementara lingkungan RT dan RW memiliki kebutuhan berbeda.

Mereka pun mulai menyusun strategi pemasaran yang berbeda untuk setiap segmen.

Untuk lingkungan permukiman, keduanya memilih cara sederhana namun dinilai efektif, yaitu mencetak brosur lalu berkeliling dari pintu ke pintu mencari rumah ketua RT dan RW.

Menurut Regita, hampir setiap lingkungan di Kota Semarang memiliki papan nama ketua RT sehingga memudahkan mereka mendistribusikan brosur.

Tak berhenti sampai di situ. Mereka juga ikut menghadiri musyawarah warga, memperkenalkan produk secara langsung, sekaligus mempelajari kebutuhan administrasi pengurus RT.

"Kami juga belajar ternyata mereka membutuhkan nota, stempel, dan administrasi untuk SPJ. Itu semua baru kami pelajari selama beberapa tahun terakhir," kata Regita.

Dana RT 

Perubahan lain juga mulai mereka rasakan setelah Pemerintah Kota Semarang menggulirkan Program Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) sebesar Rp25 juta bagi setiap RT.

Menurut pasangan tersebut, keberadaan dana itu membuat banyak RT lebih aktif merencanakan dekorasi kampung menjelang Agustusan.

Bila dahulu warga membeli bendera sendiri-sendiri, kini pembelian lebih banyak dilakukan secara kolektif melalui pengurus RT.

Akibatnya, volume pesanan meningkat drastis. Fahmi bahkan memperkirakan lonjakan penjualan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibanding sebelumnya.

"Kalau ada anggaran itu, yang kami rasakan daya beli masyarakat memang naik. Kampung juga jadi lebih semangat dihias supaya lebih meriah," ujar Regita.

Usaha mereka kini tidak hanya menjual bendera rumah. Rak-rak penyimpanan dipenuhi berbagai jenis perlengkapan perayaan kemerdekaan.

Terdapat bandir sepanjang hampir empat meter yang bisa dipasang di bambu atau tiang tinggi.

Selain itu, ada umbul-umbul berbagai motif dan ornamen segitiga merah putih untuk menghias jalan kampung.

Bahkan tersedia layanan sablon sesuai permintaan pelanggan.

Regita memperlihatkan satu di antara contoh bandir yang sudah diberi logo paguyuban beserta nama wilayah.

Menurut dia, ukuran bidang putih di bagian atas sengaja dibuat cukup lebar agar bisa disablon dengan identitas RT, RW, instansi maupun perusahaan.

"Lebarnya sekitar 50 sentimeter sehingga cocok dipasang logo atau tulisan nama wilayah," jelasnya.

Semakin dekat dengan 17 Agustus, ritme kerja mereka berubah total.

Jika pada hari biasa masih ada waktu beristirahat, memasuki akhir Juli hingga pertengahan Agustus seluruh aktivitas difokuskan pada produksi dan distribusi.

Dalam sehari, mereka mampu menyuplai sekitar 1.000 produk. Jumlah tersebut bukan hanya bendera rumah, tetapi juga bandir, umbul-umbul, hingga berbagai ornamen dekorasi kampung.

Mayoritas pesanan datang secara kolektif dari RT dan RW.

Dalam satu hari, mereka bahkan bisa melayani tiga hingga empat RT sekaligus. Setiap RT biasanya tidak hanya membeli puluhan bendera rumah, tetapi juga paket dekorasi lengkap.

Meski sudah mempersiapkan stok sejak jauh hari, pasangan ini tetap dibuat kewalahan ketika memasuki penghujung Juli.

Fahmi mengingat jelas bagaimana pesanan tiba-tiba melonjak tajam pada 30 dan 31 Juli, sesaat setelah terbit surat edaran yang mengimbau masyarakat memasang bendera dan umbul-umbul mulai 1 Agustus. Ribuan bendera langsung dipesan dalam waktu singkat.

"Banyak yang panik karena sudah ada surat edaran dan rapat RT maupun RW, jadi semuanya buru-buru pesan," ujarnya.

Menurut Regita, tantangan terbesar bukan lagi memproduksi barang, melainkan mengatur pengiriman agar seluruh pelanggan menerima pesanan tepat waktu.

"Hampir semuanya maunya segera dikirim. Jadi kami harus benar-benar cepat mengelola pesanan," katanya.

Di balik padatnya aktivitas administrasi dan pemasaran, Regita ternyata juga memilih turun langsung ke ruang produksi.

Lulusan akuntansi itu sengaja mempelajari keterampilan menjahit.

Bagi dia, memahami proses produksi menjadi investasi penting agar kualitas tetap terjaga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain.

"Kalau saya bisa produksi sendiri, stok bisa lebih terkontrol dan kualitasnya juga tetap bagus," ujarnya.

Meski Agustus menjadi puncak penjualan, pasangan muda tersebut tidak pernah benar-benar berhenti bekerja setelah perayaan usai.

Begitu musim panen tujuhbelasan berakhir, mereka kembali mengisi gudang.

Stok disiapkan lebih awal untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan di luar Agustus, mulai dari ulang tahun kantor, sekolah, gereja, hingga berbagai kegiatan masyarakat lainnya.

Namun, menurut Fahmi dan Regita, tidak ada yang bisa menandingi semarak bulan Agustus.

Semakin dekat menuju tanggal 17, semakin banyak RT dan RW yang selesai bermusyawarah dengan warganya. Keputusan itu biasanya langsung diikuti pesanan baru.

Karena itu, keduanya meyakini pekerjaan mereka masih akan semakin sibuk dalam beberapa hari ke depan. (Reza Gustav)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.