Diare dan Muntah, 123 Siswa dan Guru SMPN 2 Jepara Diduga Keracunan MBG
M Syofri Kurniawan August 06, 2026 06:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Suasana kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di SMPN 2 Jepara tampak berjalan normal, Rabu (5/8/2026).

Beberapa siswa bersama guru juga terlihat sibuk mengepak tempat makan terbuat dari stainless steel di sebuah ruangan khusus.

Aktivitas itu menandakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 2 Jepara masih berlangsung. 

Padahal, 123 siswa dan guru di SMPN 2 Jepara sempat mengalami diare, mual, dan sebagian muntah hampir bersamaan dalam satu waktu.

Kejadian itu diketahui, Selasa (4/8/2026) siang, ketika 110 siswa dan 13 guru mengalami gejala kesehatan serupa.

Ada yang mengalami diare hebat sehingga harus bolak-balik izin ke toilet lantaran tidak bisa menahan perut mules disertai mual.

Beberapa anak bahkan mengalami muntah dan lemas, sehingga empat siswa dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Dari 110 siswa yang mengalami gejala keracunan, pada Rabu kemarin, satu siswa masih absen belum bisa berangkat sekolah karena masih menjalani pemulihan kesehatan di rumah.

Sementara siswa lain dan 13 guru yang juga mengalami gejala sama, sudah berangkat sekolah.

Personal in Charge (PIC) Program MBG di SMPN 2 Jepara, Dwika Bagus Satria mengatakan, gejala kesehatan yang timbul seperti diare, mual, dan muntah yang dialami siswa dan guru baru diketahui, pada Selasa.

Bermula dari laporan wali kelas adanya aktivitas siswa dalam jumlah banyak bolak-balik ke kamar mandi saat jam pelajaran. 

Pihak sekolah pun berupaya melakukan penanganan awal berkaitan dengan gejala yang dialami peserta didik dan guru.

Empat siswa di antaranya dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan kondisi lemas, agar segera mendapatkan penanganan medis.

"Kami belum bisa memastikan apakah 110 siswa dan 13 guru yang mengalami gejala serupa dampak keracunan makanan. Sejauh ini sudah tertangani, dari 4 siswa yang dibawa ke rumah sakit juga langsung pulang rawat jalan,” kata Bagus kepada Tribun Jateng, Rabu. 

“Semuanya sudah kembali sekolah, tinggal satu siswa masih izin pemulihan di rumah," sambungnya.

Bagus memastikan, sejauh ini tidak ada siswa lagi yang mengalami gejala gangguan kesehatan serupa.

Namun, pihak sekolah mengimbau kepada wali kelas dan orang tua siswa agar segera melaporkan kepada pihak sekolah jika terjadi hal-hal yang mencurigakan terhadap peserta didik.

Saat ini, pihak sekolah masih menunggu hasil uji sampel makanan di Laboratorium Daerah Kabupaten Jepara untuk memastikan penyebab dari gangguan kesehatan yang dialami siswa dan guru SMPN 2 Jepara.

"Sampel makanan masih dalam pemeriksaan di Labkesda Jepara. Indikasinya menu MBG, pada hari Senin (3/8/2026), namun kepastiannya menunggu hasil laboratorium," terangnya.

Tanggapan SPPG

Saat dikonfirmasi, Kepala SPPG Bandengan 5, Tholib Shiddiq Hidayat mengatakan, menu MBG yang diberikan pada Senin berupa nasi dengan lauk beef teriyaki, sayur labu siam dan wortel yang diolah dengan bumbu kuning, tempe goreng, dan buah semangka.

Setiap harinya, SPPG Bandengan 5 menyuplai makanan sebanyak 2.144 porsi.

Sasarannya siswa SD, TK, MI, SMP, balita, ibu hamil dan ibu menyusui.

Khusus SMPN 2 Jepara, setiap harinya mendapatkan 1.127 porsi MBG dari SPPG Bandengan 5. 

Tholib mengatakan, menu bagi siswa TK, SD, MI, dan balita dimasak lebih awal untuk diantarkan tahap pertama.

Sementara menu untuk siswa SMP, ibu hamil dan ibu menyusui dimasak tahap dua untuk diantarkan mulai pukul 10.00 WIB, termasuk pengantaran ke SMPN 2 Jepara.

Sejauh ini, Tholib baru mendapatkan laporan dari SMPN 2 Jepara sebanyak 123 siswa dan guru yang mengalami gejala gangguan kesehatan.

Sementara dari menu yang dikirim ke tempat lain tidak ada laporan.

"Untuk kepastian penyebabnya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," ujar dia.

Meski adanya kejadian dugaan keracunan makanan, SPPG Bandengan 5 masih menyalurkan program MBG sesuai sasaran penerima seiring dilakukan evaluasi.

Termasuk 1.127 porsi makanan juga masih dikirimkan ke SMPN 2 Jepara.

Pihaknya juga berkomitmen memberikan kompensasi kepada siswa dan guru yang mengalami gangguan kesehatan dengan mengganti biaya pengobatan.

Bantuan tersebut sebagai bentuk tanggungjawab SPPG terhadap penerima manfaat yang dirugikan. (Saiful Ma'sum)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.