TRIBUNTRENDS.COM - Pemerintah terus mempercepat pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di berbagai daerah sebagai salah satu upaya memperkuat perekonomian desa.
Namun, di tengah proses tersebut, beragam informasi yang tidak benar atau hoaks mengenai program itu terus bermunculan dan beredar di masyarakat.
Kondisi tersebut membuat pemerintah meminta seluruh kepala desa dan organisasi perangkat desa ikut turun tangan memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat.
Menurut pemerintah, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik koperasi, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap fungsi dan tujuan koperasi itu sendiri.
Baca juga: Mendes Siapkan Solusi Bagi Desa yang Ingin Punya Kopdes Merah Putih: Tak Punya Lahan Tak Masalah
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, secara khusus meminta berbagai organisasi kepala desa dan asosiasi desa ikut menjadi ujung tombak sosialisasi Program Koperasi Desa Merah Putih.
Permintaan tersebut disampaikan saat menghadiri Seminar Koperasi Desa/Koperasi Merah Putih (KDKMP) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa.
Dalam kegiatan itu hadir sejumlah organisasi desa, antara lain Apdesi Merah Putih, Apdesi, Papdesi, Aksi, Gema Desa Nuswantoro, Kompakdesi, Abpednas, DPN PPDI, bersama ratusan kepala desa dan sejumlah kepala daerah di Sulawesi Selatan.
Menurut Zulhas, berbagai informasi keliru mengenai Kopdes Merah Putih masih banyak beredar sehingga perlu segera diluruskan.
"Sekali lagi, tolong dijelaskan kepada masyarakat, karena sekarang ini banyak hoaks tentang Kopdes. Kita juga tidak tahu siapa yang memproduksinya,” kata Menko Zulkifli Hasan.
Zulhas menegaskan masyarakat perlu memahami bahwa Kopdes Merah Putih merupakan milik desa yang dibentuk untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat ekonomi masyarakat.
Ia juga meminta seluruh asosiasi desa menjelaskan bahwa koperasi tersebut bukan supermarket yang akan mengambil alih usaha kecil milik warga.
Sebaliknya, koperasi justru diproyeksikan menjadi mitra yang dapat membantu pelaku usaha desa memperluas pemasaran.
"Sebaliknya, koperasi berfungsi sebagai mitra pendukung, semisal pemilik warung kelontong dapat menitipkan barang dagangannya di koperasi. Itu bisa dipasarkan lewat Kopdes," kata Menko Zulkifli Hasan.
Pernyataan tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa kehadiran Kopdes Merah Putih akan mematikan usaha warung kelontong yang selama ini menjadi bagian penting dari roda ekonomi masyarakat desa.
Selain mengejar target pembangunan pada tahun ini, pemerintah juga telah menyiapkan tahapan lanjutan untuk memperluas keberadaan Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia.
Menurut Zulhas, pembangunan koperasi pada tahun depan diperkirakan meningkat hingga sekitar 60.000 unit sehingga secara bertahap seluruh desa nantinya memiliki Kopdes Merah Putih.
Meski demikian, ia mengakui pembangunan puluhan ribu koperasi bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
"Ini pekerjaan yang sangat besar. Puluhan ribu desa tidak mungkin selesai dalam satu hari. Mungkin membutuhkan dua tahun atau tiga tahun," ujarnya.
Karena itu, pemerintah menerapkan pembangunan secara bertahap agar setiap koperasi yang dibangun benar-benar siap beroperasi dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: Heboh Ratusan Koordinat Kopdes Merah Putih Terdeteksi di Atas Laut, Pemprov Kalsel Bongkar Penyebab
Sementara itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, memastikan tidak ada desa yang akan tertinggal hanya karena belum memiliki lahan pembangunan koperasi.
Menurut Yandri, pemerintah telah menyiapkan berbagai alternatif solusi sehingga seluruh desa tetap berpeluang memiliki Kopdes Merah Putih sesuai kondisi dan kesiapan masing-masing wilayah.
"Termasuk desa yang belum memiliki lahan, kita akan cari solusinya. Jadi, memang pelaksanaannya bertahap, tidak sekaligus," ujar Yandri.
Ia optimistis pembangunan sekitar 35.000 gedung koperasi beserta sarana pendukungnya dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu tahun.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai fasilitas penunjang agar koperasi dapat beroperasi secara optimal setelah dibangun.
Setiap gudang koperasi direncanakan dilengkapi satu unit truk, satu mobil pikap, serta dua kendaraan operasional yang akan digunakan untuk mendukung distribusi barang dan aktivitas ekonomi masyarakat desa.
Melalui dukungan sarana tersebut, pemerintah berharap Kopdes Merah Putih tidak hanya menjadi tempat pelayanan masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai pusat distribusi, pemasaran hasil produksi desa, hingga penggerak utama pertumbuhan ekonomi di tingkat desa.
Dengan sosialisasi yang lebih masif dan dukungan seluruh kepala desa, pemerintah berharap berbagai hoaks mengenai Kopdes Merah Putih dapat ditepis sehingga masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai tujuan utama program tersebut, yakni memperkuat ekonomi desa tanpa menggeser keberadaan pelaku usaha kecil yang telah lebih dulu tumbuh di tengah masyarakat.
***