Antrean Panjang di SPBU, Dishub Banjarmasin Minta SPBU Tambah Jam Operasional
Ratino Taufik August 06, 2026 08:45 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mulai dirasakan dampaknya terhadap arus lalu lintas. Dinas Perhubungan (Dishub) Banjarmasin pun mengambil langkah mengurai kemacetan.

Selama ini antrean yang mengular kerap mengganggu aktivitas warga, mulai dari sektor usaha hingga akses jalan atau lalu lintas, di antaranya di SPBU Jalan A Yani Km 5, SPBU RK Ilir, SPBU Jalan A Yani Km 6, dan SPBU Pulau Laut.

Kepala Dishub Banjarmasin, Slamet Begjo menuturkan pihaknya telah menyurati pihak pengelola SPBU dan Pertamina dengan mendorong dua poin penanganan utama.

"Pengelola SPBU kami minta memperpanjang atau menambah jam operasional secara jelas agar mudah dibaca oleh masyarakat calon pembeli BBM, terutama pelanggan Pertalite, juga truk-truk besar" paparnya, Rabu (5/8).

Selain itu, pengelola SPBU diharapkan menugaskan personel atau security di pintu masuk dan keluar untuk mengatur alur antrean kendaraan secara tertib.

Menurutnya melalui solusi ini, diharapkan masyarakat dapat melakukan pengisian BBM secara teratur tanpa perlu antre panjang yang memicu kemacetan di area sekitar SPBU.

Dibeberkan Slamet, pihaknya juga menggandeng Satuan Lalu Lintas untuk mempertegas imbauan kepada pengelola SPBU terkait penanganan antrean kendaraan yang antre panjang.

Ia mengatakan penumpukan kendaraan masih kerap terjadi di sejumlah titik SPBU. Kondisi tersebut dipicu oleh kekhawatiran masyarakat yang takut kehabisan BBM, sehingga warga rela mengantre panjang demi mendapatkan pasokan.

Di Banjarbaru, antrean juga terjadi di sejumlah SPBU, seperti di Jalan Ahmad Yani Km 34. Tidak hanya kendaraan roda dua atau sepeda motor, antrean cukup panjang juga terlihat mengular di barisan mobil untuk pengisian Pertalite.

Berbeda dari Pertalite, antrean pengisian BBM jenis Pertamax di beberapa SPBU di kota Banjarbaru justru tidak sepanjang antrean BBM subsidi.

Baca juga: Pemicu Pemadaman Listrik Bergilir, Ombudsman Kalsel Minta Perbaikan PLTU Asam-Asam Dipercepat

Seperti Rahman, pekerja swasta yang rela antre cukup penjang untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite di salah satu SPBU di Jalan Ahmad Yani Banjarbaru.

Meskipun BBM jenis ini juga terdapat di eceran pinggir jalan, ia memilih untuk mengantre di SPBU karena harganya yang tidak mengalami kenaikan, yaitu tetap Rp10.000 per liter.

“Pertalite ngalih dicari, di SPBU panjang melintang antreannya,” katanya.

Sementara, di pengecer harga pertalite di wilayah Banjarbaru tidak sedikit yang sampai menjual Rp 13.000 per liter atau lebih mahal Rp 3 ribu dari harga resmi Pertamina.

“Saya beli di eceran 13 ribu satu liternya pertalite,” aku pekerja swasta yang menggunakan kendaraan roda dua ini.

Di Barabai, Hulu Sungai Tengah, lonjakan permintaan Pertalite di SPBU Mandingin, membuat pasokan harian berkapasitas sekitar 8.000 liter habis jauh lebih cepat dari biasanya.

Pada siang kemarin, pengendara yang datang tidak lagi dapat mengisi Pertalite maupun Pertamax. Pada papan informasi SPBU tertulis kedua jenis BBM tersebut masih dalam proses pengiriman.

Seorang petugas SPBU mengatakan, Pertalite yang disalurkan sejak pagi terkuras dalam waktu sekitar lima jam. "Biasanya stok masih bertahan sampai malam. Hari ini sekitar setengah sebelas sudah habis," ujarnya.

Ia mengatakan meningkatnya jumlah kendaraan yang mengisi Pertalite juga berdampak pada aktivitas petugas di lapangan. Meski antrean lebih padat dibanding hari biasa, pelayanan tetap dilakukan dengan sistem dua shift agar operasional tidak terganggu.

Manajer SPBU Mandingin, Purwadi, sebelumnya menjelaskan kuota Pertalite yang diterima dari Pertamina tidak berubah meski permintaan masyarakat meningkat. Menurutnya, SPBU tetap menerima pasokan sekitar 30 tangki setiap bulan atau sama seperti periode sebelumnya.

(banjarmasinpost.co.id/mariana/rizki fadilah/stanislaus sane)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.