Laporan Wartawan Magang, Sumanti
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pelestarian mengkubung di Bangka Belitung dinilai harus dimulai dari menjaga habitat alaminya. Pegiat konservasi Kelekak Bangka menegaskan keberadaan pohon pakan, pohon loncatan, serta koridor pergerakan satwa menjadi faktor penting agar mamalia endemik tersebut tetap dapat bertahan hidup di alam.
Menurutnya, mengkubung membutuhkan pohon-pohon berdiameter besar untuk berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Karena itu, keberadaan hutan dengan vegetasi yang masih utuh menjadi syarat utama kelangsungan hidup satwa tersebut.
"Kita harus menjaga pohon-pohon pakan dan pohon loncatan untuk mengkubung. Mengkubung memerlukan pohon yang berdiameter 30 sentimeter ke atas. Kalau tidak ada pohon besar di kelekak, maka mereka pun tidak bisa hidup," ujarnya.
Selain menjaga habitat, upaya pelestarian juga dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat. Selama ini, masih banyak masyarakat yang memiliki persepsi keliru terhadap mengkubung karena dianggap sebagai hewan pembawa sial.
Ia mengatakan stigma tersebut membuat sebagian orang membunuh mengkubung meski tidak untuk dikonsumsi maupun dipelihara. "Edukasi itu rutin kami lakukan kepada masyarakat sekitar, lalu kami juga melakukan penanaman pohon terutama pohon buah seperti durian dan nyatoh," katanya.
Menurutnya, edukasi yang dilakukan sejauh ini mendapat respons positif dari masyarakat. Namun, masih sering terjadi kesalahpahaman terhadap tujuan kegiatan konservasi yang dilakukan.
"Beberapa kali ada masyarakat yang membawa mengkubung ke Kelekak Bangka untuk kami tebus dengan sejumlah uang. Jadi kami harus kembali memberikan edukasi agar tidak terjadi kesalahpahaman," ungkapnya.
Ia menjelaskan tantangan terbesar bukan mengajak masyarakat untuk peduli, melainkan menjaga hutan di tengah masifnya alih fungsi lahan. Perkebunan sawit, penambangan, dan deforestasi menjadi ancaman yang masih sulit diatasi.
"Mengajak masyarakat sangatlah mudah, yang menjadi tantangannya justru melakukannya. Kita sama-sama tahu bahwa menjaga hutan di tengah masifnya perkebunan sawit, penambangan ilegal, dan deforestasi tentunya sangat sulit bagi kami," jelasnya.
Dalam pandangannya, perusahaan perkebunan maupun pertambangan juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan hidup mengkubung. Menurutnya, upaya rehabilitasi lahan sering kali tidak efektif karena dilakukan dengan cara yang kurang tepat.
Ia menilai penanaman kembali harus mempertimbangkan musim, kondisi tanah, hingga jenis pohon yang ditanam. Selain itu, kawasan konservasi di dalam perkebunan seharusnya mengikuti koridor alami pergerakan satwa, bukan ditempatkan di tengah hamparan kebun.
"Mereka harus menjaga koridor pergerakan hewan. Area konservasi itu seharusnya disiapkan sesuai jalur pergerakan hewan yang sudah ada sebelum perusahaan itu berdiri," katanya.
Apabila masyarakat menemukan mengkubung di lokasi yang tidak semestinya, ia menyarankan agar satwa tersebut dikembalikan ke habitatnya. Menurutnya, mengkubung sangat jarang berada di kawasan permukiman karena bergantung pada pohon-pohon besar.
"Jika menemukan hewan ini di tempat yang tidak seharusnya, kembalikan ke habitatnya. Kalau menemukan dalam keadaan terluka, hewan memiliki cara sendiri untuk menyembuhkan lukanya, jadi cukup mengembalikannya ke alam saja," ujarnya.
Ia juga menilai pelestarian mengkubung membutuhkan kolaborasi seluruh pihak sesuai peran masing-masing. Akademisi diharapkan lebih banyak melakukan penelitian, pemerintah memperkuat regulasi, sementara masyarakat menjaga habitat yang masih tersisa.
Meski saat ini mengkubung masih berstatus Least Concern (LC), ia menilai kondisi di lapangan menunjukkan ancaman yang semakin nyata. Menurutnya, status tersebut sudah seharusnya ditinjau kembali agar perhatian terhadap mengkubung semakin meningkat.
"Menurut saya saat ini status mereka sudah terancam, dan status LC perlu dinaikkan untuk meningkatkan perhatian pada hewan ini," katanya.
Ia berharap pemerintah memperkuat regulasi serta mendukung pelestarian hutan adat yang masih tersisa. Menurutnya, perlindungan hukum menjadi salah satu kunci agar habitat mengkubung tetap terjaga.
"Regulasi hukum itu harus kuat. Pemerintah harus merangkul masyarakat dan menguatkan status hutan adat agar tetap terjaga," tuturnya.
Menurutnya, peluang menyelamatkan mengkubung di Bangka Belitung masih terbuka selama berbagai pihak bergerak bersama. Menjaga hutan alami, melakukan penanaman dengan cara yang benar, serta memperluas edukasi menjadi langkah yang harus terus dilakukan.
"Dengan menyelamatkan satu spesies berarti kita menyelamatkan spesies lain karena semuanya saling berkaitan dalam ekosistem. Menjaga hutan alami adalah upaya yang paling memberikan dampak nyata bagi pelestarian mengkubung," pungkasnya. (*)