TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Pasangkayu mencatat sebanyak 16 kasus kebakaran terjadi di wilayah Kabupaten Pasangkayu sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Kabupaten Pasangkayu, Mawardiansyah, saat dikonfirmasi, Kamis (6/8/2026).
Mawardiansyah menjelaskan, dari total 16 kasus kebakaran tersebut, kebakaran rumah tinggal menjadi peristiwa yang paling dominan.
Baca juga: Kebakaran Hanguskan Rumah dan Gudang Warga di Topoyo, Kerugian Ditaksir Puluhan Juta Rupiah
Baca juga: BREAKING NEWS: 3 Warga Dilaporkan Tewas Terbakar dalam Kebakaran Rumah di Limboro Polman
"Dari jumlah tersebut, 10 kasus merupakan kebakaran rumah tinggal, sisanya kebakaran lahan dan beberapa bangunan atau gedung," ujarnya.
Menurutnya, berdasarkan hasil identifikasi dan laporan petugas di lapangan, penyebab kebakaran terbanyak berasal dari korsleting atau hubungan arus pendek listrik.
Tercatat sebanyak tujuh kasus kebakaran dipicu korsleting listrik yang umumnya terjadi akibat instalasi listrik yang sudah tua, sambungan kabel tidak standar, maupun penggunaan peralatan elektronik secara berlebihan.
"Selebihnya dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah, kelalaian saat menggunakan api, dan beberapa faktor lainnya," jelasnya.
Meski jumlah kejadian kebakaran cukup tinggi, Mawardiansyah bersyukur tidak ada korban jiwa meninggal dunia dalam seluruh peristiwa tersebut.
Namun, sejumlah korban dilaporkan mengalami luka-luka dan mengalami kerugian material akibat bangunan serta harta benda yang terbakar.
"Alhamdulillah tidak ada korban meninggal dunia dari seluruh kejadian kebakaran yang terjadi tahun ini. Hanya ada beberapa korban yang mengalami luka-luka dan kerugian material," katanya.
Ia mengatakan, memasuki puncak musim kemarau, potensi terjadinya kebakaran diperkirakan meningkat, baik kebakaran rumah maupun kebakaran lahan.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap sumber api yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
Mawardiansyah mengimbau warga rutin memeriksa kondisi instalasi listrik di rumah masing-masing, terutama pada bangunan yang sudah berusia lama.
Selain itu, masyarakat diminta tidak menumpuk colokan listrik pada satu sumber daya yang sama karena dapat memicu panas berlebih dan menyebabkan korsleting.
"Kami mengimbau masyarakat untuk selalu mengecek instalasi listrik di rumah, memastikan kabel dalam kondisi baik, serta mencabut peralatan elektronik yang tidak digunakan dalam waktu lama," ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan selama musim kemarau.
Menurutnya, kondisi cuaca panas dan angin yang cukup kencang dapat membuat api cepat merambat ke lahan kosong, kebun, maupun permukiman warga.
"Apalagi saat ini kita sedang musim kemarau panjang. Sebaiknya hindari membakar sampah di pekarangan atau lahan terbuka. Api yang awalnya kecil bisa dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan," tuturnya.
Mawardiansyah berharap masyarakat segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan tanda-tanda kebakaran atau kondisi yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
Hal tersebut agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga dampak kebakaran tidak meluas.
"Kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap upaya pencegahan. Kebakaran bukan hanya merugikan pemilik bangunan, tetapi juga dapat mengancam keselamatan lingkungan sekitar," tutupnya. (*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan