SURYA.co.id, SURABAYA – Tragedi yang menimpa Maliya Finda (51), pendaki perempuan asal Surabaya yang ditemukan meninggal dunia di dasar jurang ekstrem Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Timur, menjadi pengingat bahwa pengalaman mendaki gunung bukanlah jaminan mutlak untuk terbebas dari risiko.
Maliya bukan pendaki pemula. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, ia aktif menekuni hobi mendaki dan telah menjajal gunung-gunung populer seperti Rinjani dan Lawu.
Semangatnya tetap menyala meski telah memasuki usia paruh baya. Bahkan, hampir setiap bulan ia memiliki agenda pendakian.
Pendakian ke Gunung Piramid pun direncanakan secara singkat tanpa menginap, dengan menggunakan jasa guide privat.
Namun, rencana yang semula hanya “tektok” atau naik pagi dan turun sore itu berubah menjadi operasi pencarian dan evakuasi yang berlangsung berhari-hari.
Kisah ini bukan sekadar tentang seorang pendaki yang gugur di gunung, melainkan tentang bagaimana setiap gunung memiliki karakter dan tingkat risiko yang berbeda, sehingga pengalaman sebelumnya tidak selalu bisa menjadi ukuran keselamatan.
Maliya Finda bersama pemandu lokal, Irfan Nasrul Laili (35), sempat dilaporkan hilang sejak Minggu (2/8/2026) dan ditemukan meninggal dunia pada Selasa (4/8/2026) pagi di dasar jurang dengan kedalaman ratusan meter.
Menurut keluarga, Maliya berangkat dari Surabaya menuju Bondowoso pada Sabtu (1/8/2026) pagi.
Pendakian dimulai pada Minggu pagi dan sejak awal direncanakan sebagai pendakian satu hari tanpa bermalam di gunung.
Selama perjalanan menuju lokasi pendakian, Maliya masih berkomunikasi dengan anaknya yang tinggal di Bali.
Namun, komunikasi terputus ketika seharusnya ia sudah kembali pada Minggu sore.
Kerabat korban, Wawan, menjelaskan bahwa keluarga mulai khawatir setelah tidak ada lagi respons dari korban.
“Sabtu perjalanan ke Bondowoso, minggu Pagi naik, masin kontak-kontakan. Tapi senin sudah enggak ada kabar. Seharusnya tektok, berangkat pagi naik, sore pulang, ternyata belum ada info kembali,” ungkapnya.
Rencana yang tampak sederhana itu kemudian berubah menjadi tragedi ketika korban dan pemandunya tidak kunjung kembali.
Baca juga: Ternyata Maliya Finda, Nenek 1 Cucu yang Tewas Mendaki di Gunung Piramid Pernah Taklukkan Rinjani
Salah satu hal yang menarik dari sosok Maliya adalah bahwa ia bukan pendaki sejak muda.
Wawan menyebutkan bahwa hobi mendaki baru ditekuninya sekitar 2–3 tahun terakhir.
Sebelumnya, aktivitas yang paling rutin dilakukan adalah bersepeda atau gowes, bahkan hampir setiap hari.
“Beliau hobi mendaki. Dan suka gowes sepeda ontel, kebetulan ngontel juga sama saya. Hobi mendaki itu barusan. Dari Rinjani dan Lawu. Gunung populer,” terangnya.
Rinjani di Nusa Tenggara Barat dan Lawu di perbatasan Jawa Tengah–Jawa Timur merupakan gunung yang dikenal luas di kalangan pendaki.
Keberhasilan menaklukkan gunung-gunung tersebut menunjukkan bahwa Maliya memiliki pengalaman mendaki yang tidak sedikit.
Namun, pengalaman itu ternyata tidak otomatis menghilangkan risiko ketika menghadapi Gunung Piramid, yang memiliki karakter medan berbeda dengan jalur sempit, tebing curam, dan jurang ekstrem.
Dalam dunia pendakian, setiap gunung memiliki tantangan tersendiri. Faktor seperti kontur jalur, tingkat kemiringan, kondisi batuan, cuaca, vegetasi, hingga akses evakuasi dapat sangat memengaruhi tingkat keselamatan pendaki.
Gunung Piramid dikenal memiliki jalur yang lebih teknis dan berbahaya dibanding banyak gunung wisata populer.
Medan curam membuat proses evakuasi jenazah korban pun berlangsung sulit dan memerlukan peralatan khusus.
Keluarga mengaku tidak mengetahui secara detail bahwa tujuan pendakian adalah Gunung Piramid.
“Istri sedang berkunjung, beliau ngomong mau mendaki, guide private. Tapi kami gak tahu kalau Gunung Piramid, dilarang,” katanya.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa bahkan ketika pendakian dilakukan dengan guide privat, risiko medan tetap harus menjadi pertimbangan utama.
Bagi keluarga dan tetangga, Maliya dikenal sebagai sosok yang aktif, ramah, dan penuh semangat.
Ia baru saja menerima kabar bahagia karena putrinya melahirkan cucu sekitar dua minggu sebelumnya.
“Beliau putrinya 1 orang. Iya sudah punya cucu 2 minggu lalu baru lahiran anaknya,” ungkap Wawan.
Tetangga di kawasan Darmo, Wonokromo, juga mengenangnya sebagai pribadi yang mudah bergaul.
“Kaget semua orang-orang mas, beliau baik, sama kita yang di jalan kalau ketemu ya menyapa, grapyak pokoknya,” kata para tetangga yang nongkrong di warung kopi samping rumah korban.
Semangat itulah yang membuat Maliya tetap aktif mendaki meski telah memasuki usia yang oleh sebagian orang dianggap masa untuk mengurangi aktivitas fisik berat.
Wawan menilai keberhasilan Maliya mendaki beberapa gunung sebelumnya mungkin menumbuhkan rasa penasaran untuk mencoba gunung-gunung lain.
“Sosok beliau, baik, beliau menyelesaikan ambisi mungkin, karena sudah pernah menaiki gunung mana mana, akhirnya penasaran lalu dicoba, melawan rasa penasaran. Usianya itu seharusnya usia istirahat, tapi beliau masih aktif. Usia 51,” pungkasnya.
Kalimat itu menggambarkan bahwa bagi sebagian pendaki, gunung bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan ruang untuk menguji batas diri dan memenuhi impian yang lama tersimpan.
Tragedi Maliya Finda mengingatkan bahwa pengalaman mendaki, kebugaran, maupun keberhasilan menaklukkan gunung-gunung terkenal tidak boleh membuat pendaki mengabaikan karakter spesifik gunung yang akan didaki.
Perencanaan jalur, informasi resmi mengenai status pendakian, kondisi cuaca, kesiapan peralatan, serta pemahaman terhadap medan lokal tetap menjadi faktor yang sangat penting.
Maliya telah membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap aktif dan mengejar hobi. Namun, pendakian terakhirnya di Gunung Piramid juga meninggalkan pelajaran berharga bagi komunitas pendaki: setiap gunung harus dihormati sebagai medan dengan risiko yang unik, dan pengalaman masa lalu tidak pernah boleh menggantikan kewaspadaan pada pendakian berikutnya.