TRIBUNJOGJA.COM - Pernahkah Tribunners pergi menonton sebuah konser dan merasa hampa atau kosong setelahnya?
Jika pernah, mungkin Tribunners saat itu merasakan yang namanya post-concert depression.
Meskipun tidak termasuk ke dalam penyakit medis resmi, bukan berarti post-concert depression tidak nyata.
Meskipun berkaitan dengan mental health, jarang seorang dokter akan menulis post-concert depression di lembar diagnosis.
Post-concert depression merujuk pada perasaan sedih, kosong, atau kehilangan energi setelah menonton konser atau setelah sebuah konser berakhir.
Konser yang berpotensi memunculkan perasaan ini bukan hanya konser artis besar atau artis mahal, melainkan seluruh konser yang sangat dinantikan.
Perasaan ini muncul ketika Tribunners merasa begitu bahagia hingga takut tidak akan pernah merasa sebahagia saat menonton konser.
Sederhananya, Tribunners telah melewati perjalanan yang panjang hingga berhasil menonton konser.
Mulai dari menabung sekian lamanya untuk membeli tiket, war untuk mendapatkan tiket yang kuotanya terbatas, menyiapkan pakaian terbaik, menunggu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan lamanya, hingga akhirnya melihat idola secara langsung di hari konser.
Lalu, setelah keluar dari venue konser, Tribunners merasa tidak ingin seluruh momen berlalu begitu saja dan ingin mengulang kembali pengalaman menonton konser tersebut.
• Di Balik Fenomena Flexing: Mengapa Pamer di Medsos Jadi Kebutuhan Validasi?
1. Perbedaan produksi hormon yang drastis
Post-concert depression terjadi karena otak Tribunners memproduksi hormon bahagia yang meningkat drastis saat menonton konser.
Lalu, produksinya menurun begitu saja ketika konsernya berakhir, dalam kurun waktu yang begitu cepat.
Hal ini menyebabkan otak kaget dan perlu beradaptasi dengan situasi terkini.
2. Merasa sendiri dan kesepian di perjalanan pulang
Post-concert depression juga bisa muncul karena perasaan sendiri dan sepi yang tiba-tiba hadir di perjalanan pulang dari tempat konser, setelah sebelumnya berada di antara ratusan bahkan ribuan orang yang sama semangatnya.
3. Ketakutan menghadapi kenyataan
Terkadang, konser menjadi bentuk escape (pelarian diri) seseorang dari pekerjaan yang berat.
Oleh karena itu, post-concert depression juga bisa muncul karena Tribunners merasa belum siap menghadapi dan menjalani kembali hari-hari yang berat itu.
Alih-alih kembali menghadapi kenyataan dan pekerjaan, penonton lebih ingin menonton konser untuk waktu yang lama.
4. Ketakutan tidak akan menemukan kebahagiaan yang sama
Ketika menonton konser idola yang sangat dikagumi bahkan ditunggu setelah sekian lamanya, wajar jika Tribunners merasa sangat bahagia.
Namun, perasaan dan pikiran setelah konser selesai adalah dua hal yang perlu diatur agar tidak mengganggu hari-hari kedepannya.
Post-concert depression bisa muncul karena perasaan takut tidak akan merasakan bahagia sebesar apa yang dirasakan pada hari konser.
Durasi post-concert depression berbeda-beda, tergantung pada masing-masing individu.
Meskipun bukan kondisi medis yang memerlukan obat, post-concert depression tetap harus diatasi agar tidak mengganggu kualitas hidup atau produktivitas seseorang.
Belum ada cara resmi secara medis yang dapat mengatasi post-concert depression, tetapi Tribunners dapat melakukan hal-hal seperti:
- memutar ulang video konser;
- berbagi cerita tentang hari konser kepada orang lain;
- mengunggah foto dan video yang diambil saat hari konser di media sosial;
- beristirahat yang cukup;
- mempersiapkan diri untuk pengalaman dan tantangan di hari mendatang.
Meskipun bukan kondisi medis, Tribunners tetap harus berhati-hati ketika post-concert depression muncul karena dapat mengganggu kualitas hidup dan pekerjaan kedepannya jika terus-menerus merasa sedih.
Sedih adalah perasaan yang wajar muncul setelah menonton konser, tetapi nyatanya hidup harus tetap berjalan.
Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah move on dan melanjutkan hidup, sembari mempersiapkan diri untuk konser-konser lain di masa depan.
(MG Hasna Aulia Syafitri)