TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rupiah pada perdagangan sore ini ditutup menguat tipis 10 poin ke level Rp 17.923 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.934 per dolar AS, Kamis 6 Agustus 2026.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (6/8/2026), tetapi cenderung menguat tipis.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.920 - Rp 17.970," ujarnya.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 yang mencapai 5,29 persen secara tahunan.
Meski melambat dari 5,61 persen pada kuartal sebelumnya, angka tersebut masih di atas perkiraan dan membawa pertumbuhan semester I 2026 menjadi 5,45 persen.
Akan tetapi, pasar masih dibayangi agenda MSCI dan FTSE Russell pada Agustus. FTSE Russell dijadwalkan mengumumkan hasil evaluasinya pada 10-14 Agustus 2026, sementara MSCI akan mengumumkan hasil peninjauan indeks kuartalan pada 13 Agustus.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah status freeze Indonesia. Menurut Ibrahim, reformasi yang dilakukan regulator menjadi perkembangan positif, tetapi belum menjamin perubahan sikap MSCI maupun FTSE Russell dalam waktu dekat.
"Arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi, sehingga berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar," terangnya.
Pengaruh keputusan kedua penyedia indeks tersebut cukup besar mengingat dana pasif yang mengikuti indeks MSCI mencapai sekitar 5 miliar dolar AS, sedangkan FTSE Russell sekitar 1,5 miliar dolar AS - 2 miliar dolar AS atau setara Rp 26,99 triliun - Rp 35,99 triliun.
Sentimen pasar juga membaik setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koordinat usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, sebuah jalur air vital yang menangani sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan LNG global.
Namun, para pedagang tetap berhati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti pembukaan kembali selat secara penuh, masih terdapat negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi dan pengaturan keamanan yang lebih luas masih belum terselesaikan.