Liputan6.com, Jakarta - Masalah pencernaan pada anak kerap dianggap hanya sebatas gangguan ringan atau reaksi alergi. Padahal, ketidakseimbangan bakteri baik di saluran pencernaan atau disbiosis dapat memengaruhi pertumbuhan, metabolisme, sistem kekebalan tubuh, hingga fungsi otak.
Hal tersebut disampaikan pakar Gastroenterologi dan Nutrisi Anak dari University Hospital Brussels, Belgia, Prof. Yvan Vandenplas, MD, Ph.D., dalam acara Global Advances and Insight on Biotics for Child Health yang diselenggarakan Danone Indonesia di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Yvan menjelaskan, mikrobiota usus berperan penting dalam menjaga berbagai fungsi tubuh. Ketika keseimbangannya terganggu, dampaknya tidak hanya terbatas pada sistem pencernaan atau alergi, tetapi juga memengaruhi kesehatan anak secara menyeluruh.
"Disbiosis ini bergantung ke perkembangan fisik, pertumbuhan berat badan, ke metabolisme langsung, ke semua jenis (sistem) imun. Jadi bukan hanya alergi, tetapi juga diabetes, dan juga bergantung ke fungsi otak," ujar Yvan saat menjawab pertanyaan media.
Menurutnya, disbiosis dapat memengaruhi pertumbuhan fisik, kenaikan berat badan, proses metabolisme, hingga meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan fungsi otak yang berperan dalam perkembangan anak.
Direktur Medical and Scientific Affairs Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan semakin banyak penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara ketidakseimbangan mikroflora usus dengan kesehatan mental dan perilaku anak.
"Ada banyak penelitian yang makin sering membuktikan bahwa memang ada pengaruh antara ketidakseimbangan gut microflora... Yang kalau tidak terpenuhi, maka dapat memberikan gangguan perilaku, gangguan kecemasan, bahkan sampai depresi tingkat awal," kata Ray.
Ray menjelaskan, bakteri baik menghasilkan berbagai senyawa metabolit yang menjadi penghubung komunikasi (cross-talk) antara usus dan otak. Komunikasi tersebut berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk respons emosi dan perilaku.
Ketika jumlah bakteri baik tidak mencukupi, komunikasi antara usus dan otak dapat terganggu. Salah satu dampak yang paling mudah dikenali adalah munculnya perubahan perilaku pada anak.
"Kalau obrolan mereka ini terganggu, maka salah satu gejala yang paling gampang kelihatan adalah potensi gangguan perilaku pada si kecil," ujar Ray.
Oleh sebab itu, menjaga keseimbangan bakteri baik di usus menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan anak.
Manfaatnya tidak hanya untuk menjaga sistem pencernaan, tetapi juga membantu mengoptimalkan pertumbuhan, metabolisme, daya tahan tubuh, serta perkembangan otak dan kesehatan emosional anak.