Menkes Budi Gunadi Singgung Kasus Yurizal, Akui Sedih Tiap Ada yang Meninggal Muda
Rita Lismini August 06, 2026 07:54 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin akhirnya buka suara di tengah ramainya perbincangan mengenai kasus almarhum Yurizal Tri Chaerawan yang viral di media sosial.

Pernyataan Menkes menjadi perhatian publik setelah diunggah ulang akun Threads @lambe_turah pada Kamis (6/8/2026).

Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan caption singkat, "Nah sampe ke menterinya..".

Pernyataan Budi Gunadi Sadikin pun dikaitkan dengan kasus Yurizal yang sebelumnya mengaku harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan saat menggunakan layanan BPJS.

Usai kabar meninggalnya Yurizal tersebar, unggahan lama tersebut kembali viral dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Budi Gunadi Sadikin mengaku setiap kabar meninggalnya masyarakat, terlebih yang masih berusia muda, selalu menjadi pukulan bagi dirinya sebagai Menteri Kesehatan.

Menurutnya, setiap kematian menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia masih memiliki berbagai kekurangan yang harus terus dibenahi.

"Buat saya sebagai Menteri Kesehatan, tugas saya adalah dari Bapak Presiden menaikkan rata-rata angka harapan hidup rakyat Indonesia dari 72 ke 76. Jadi setiap ada yang meninggal itu hati saya sedih, apalagi kalau meninggalnya muda. Saya merasa saya sebagai Menkes tuh gagal, kok teman-teman kita tuh ada yang meninggal muda," ujar Budi Gunadi Sadikin, dikutip TribunBengkulu.com, Kamis (6/8/2026).

Ia menegaskan pemerintah akan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan agar masyarakat memperoleh layanan terbaik dan memiliki harapan hidup yang lebih panjang.

Menurut Budi, perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas kesehatan, ketersediaan alat kesehatan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan.

"Jadi harusnya memang kita usahakan memberikan layanan terbaiklah agar mereka bisa usianya lanjut sampai ke 76. Kekurangan itu ada, itu yang harus kita perbaiki, baik di fasilitas kesehatannya, di alat-alat kesehatannya, maupun di SDM kesehatannya," lanjutnya.

Pernyataan Menkes tersebut langsung menjadi perhatian warganet.

Banyak yang berharap kasus yang dialami Yurizal menjadi bahan evaluasi agar pelayanan kesehatan di Indonesia semakin baik dan kejadian serupa tidak kembali terulang.

Salah satu komentar yang ramai mendapat perhatian berbunyi:

"Turut berbela sungkawa atas berpulangnya mendiang. Dan turut berduka cita atas meninggalnya empati oknum nakes," tulis seorang warganet.

Keluarga Buka Suara 

Sementara itu, pihak keluarga Yurizal menyampaikan bahwa mereka menganggap seluruh proses terkait peristiwa yang sempat menjadi perhatian publik telah selesai.

Karena itu, keluarga berharap persoalan tersebut tidak lagi menjadi pembahasan di ruang publik.

"Kami, keluarga besar almarhum Yutrizal Tri Chaerawan, menyampaikan bahwa seluruh proses terkait peristiwa yang sempat menjadi perhatian publik telah kami anggap selesai. Oleh karena itu, kami berharap persoalan ini tidak lagi menjadi bahan pembahasan di ruang publik," tulis keluarga.

Keluarga juga mengungkapkan bahwa mereka masih berusaha melewati masa-masa sulit setelah kehilangan orang yang mereka cintai.

Mereka meminta masyarakat, termasuk rekan media dan berbagai pihak lainnya, memberikan ruang agar keluarga dapat menjalani masa berkabung dengan tenang.

"Saat ini, kami masih berada dalam suasana duka dan memerlukan waktu serta ketenangan untuk menjalani masa berkabung. Dengan segala hormat, kami memohon kepada rekan-rekan media maupun pihak-pihak lainnya agar tidak lagi menghubungi anggota keluarga kami melalui berbagai saluran komunikasi," lanjut pernyataan tersebut.

Selain itu, keluarga turut menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah memberikan doa, dukungan, perhatian, dan simpati sejak kabar duka Yurizal tersebar.

"Kami juga menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan doa, dukungan, perhatian, dan simpati kepada almarhum serta kepada keluarga kami. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan mendapat balasan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa."

Di akhir pernyataan, keluarga kembali meminta agar keputusan mereka dihormati dan privasi keluarga tetap dijaga selama menjalani masa berkabung.

"Demikian pernyataan ini kami sampaikan. Atas pengertian dan penghormatan terhadap privasi keluarga kami, kami ucapkan terima kasih."

Awal Mula Viral 

Sebelumnya, melalui akun pribadinya @yurizaltrich pada 22 Juni 2026, Yurizal sempat mengungkapkan keluhannya saat masih menunggu penanganan medis.

"Ya Allah sampai kapan ya ini," tulis Yurizal dikutip TribunBengkulu.com. 

Tak lama kemudian, ia kembali menyampaikan keluhannya karena belum mendapat ruang perawatan.

"8 jam belum dapat ruangan. Gamau spil RS-nya, soalnya gua pake BPJS," tulis Yurizal.

Curhatan Yurizal yang viral di media sosial

Unggahan tersebut sempat mendapat beragam respons dari warganet. Namun, beberapa hari setelah itu, kabar duka datang dari pihak keluarga.

Seorang pengguna Threads dengan akun @hilperd yang mengaku sebagai sepupu Yurizal mengungkap bahwa Yurizal telah meninggal dunia pada 31 Juli 2026.

Dalam unggahannya, ia menyebut kondisi Yurizal saat itu sudah dalam keadaan gawat.

"Yurizal sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 Juli kemarin, karena terlambat ditanganin RS karena sudah gawat banget," tulisnya.

Ia juga meminta agar tidak ada lagi komentar negatif yang ditujukan kepada almarhum.

"Maafin sepupu saya kalau curhat gini di Threads, sebelumnya dia sakit enggak pernah cerita-cerita ke mana, bahkan ke keluarga. Apa-apa disimpan sendiri," lanjutnya.

Setelah kabar meninggalnya Yurizal mencuat, komentar lama dari sejumlah warganet terhadap unggahannya kembali menjadi sorotan.

Salah satunya komentar dari akun @erudarahaadini yang sempat menyinggung unggahan Yurizal saat masih mencari penanganan medis.

Pemilik akun tersebut yang diketahui bernama Elda Putri Rahardini kemudian menyampaikan permintaan maaf terbuka.

"Saya Elda Putri Rahardini, dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, dan penyesalan yang mendalam, ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Almarhum Yurizal, teman-teman, kerabat, serta seluruh masyarakat luas," tulisnya.

Elda mengakui komentarnya tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan kurangnya empati terhadap kondisi yang sedang dialami Yurizal saat itu.

"Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak, terutama di tengah situasi sulit yang saat itu sedang dihadapi oleh Almarhum saat mencari penanganan medis," ujarnya.

Dalam pernyataannya, Elda juga menegaskan bahwa sebagai seorang dokter dan tenaga kesehatan, dirinya seharusnya mengedepankan nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan empati kepada siapa pun.

"Saya sangat menyesali bahwa tindakan saya sama sekali tidak mencerminkan sumpah profesi kedokteran maupun etika dan moral yang seharusnya saya junjung tinggi, baik sebagai seorang individu, alumni institusi pendidikan, maupun penerima beasiswa LPDP," tulisnya.

Ia turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Yurizal serta mendoakan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Elda mengakui permintaan maaf yang disampaikannya tidak akan mampu menghapus luka dan kekecewaan yang telah ditimbulkan. 

Namun, ia berjanji akan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran seumur hidup untuk menjadi pribadi dan tenaga medis yang lebih bijaksana, lebih berempati, serta menjaga tutur kata, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

"Saya juga siap menerima segala bentuk kritik, teguran, serta konsekuensi atas kelalaian dan kesalahan saya ini. Sekali lagi, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga, instansi tempat saya mengabdi, dan masyarakat luas atas kegaduhan dan luka yang telah saya perbuat," tutupnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.