Nasib Dokter Benny Sihombing Pembully Yurizal Pasien BPJS Meninggal Usai Menunggu Ruang Perawatan
Hendrik Budiman August 06, 2026 08:38 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Nama Dokter Benny Christian Sihombing menjadi sorotan publik setelah komentarnya di media sosial terhadap pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, menuai kecaman luas. 

Komentar yang dinilai tidak berempati itu kembali ramai diperbincangkan setelah Yurizal meninggal dunia beberapa hari kemudian.

Peristiwa ini bermula dari unggahan Yurizal di platform Threads pada 22 Juli 2026. 

Saat itu, ia mengeluhkan harus menunggu sekitar delapan jam di rumah sakit karena belum mendapatkan ruang perawatan.

"8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal.

Alih-alih mendapat simpati, unggahan tersebut justru dibanjiri komentar bernada sinis. Salah satu komentar yang paling disorot diduga berasal dari Dokter Benny Christian Sihombing.

"Kalo full, mau dipindahkan ke mana? Mau di lantai? Gak ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS. Yang pakai banyak, otomatis yang dirawat juga banyak. Kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong," tulis akun yang dikaitkan dengan Benny.

Baca juga: Keluarga Yurizal Buka Suara, Pasien BPJS 8 Jam Tak Dapat Ruang Perawatan Berujung Meninggal Dunia

Komentar tersebut memicu gelombang kritik dari warganet karena dianggap tidak mencerminkan empati terhadap pasien yang sedang menjalani perawatan.

Tak hanya itu, sejumlah akun lain yang diduga merupakan tenaga kesehatan juga ikut memberikan komentar bernada merendahkan. Salah satunya bahkan menulis kalimat yang dianggap tidak pantas terhadap kondisi pasien.

Belakangan diketahui, Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026 atau sembilan hari setelah unggahan tersebut viral di media sosial.

Sahabat Ungkap Kondisi Yurizal Sebelum Meninggal

Sahabat dekat almarhum, Firhan Arief, mengungkapkan Yurizal sempat mengalami tekanan emosional setelah membaca berbagai komentar negatif yang ditujukan kepadanya.

Menurut Firhan, sejak awal dirinya mendampingi Yurizal menjalani perawatan di rumah sakit, mulai dari berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD), menunggu pemeriksaan CT Scan, hingga akhirnya mendapatkan ruang rawat inap setelah dua hari berada di IGD.

Firhan juga menyebut saat kondisi Yurizal memburuk dan membutuhkan perawatan intensif, ruang High Care Unit (HCU) dilaporkan penuh sehingga penanganan dilakukan di ruang rawat inap.

Ia mengatakan Yurizal sempat menangis setelah membaca komentar-komentar yang beredar di media sosial dan memilih mematikan telepon genggamnya karena tidak sanggup melihat respons warganet.

Sebelum meninggal, Yurizal juga sempat mengunggah beberapa kalimat bernada pilu di media sosial, di antaranya keinginan untuk bisa tidur nyenyak dan pulang menjalani kehidupan seperti biasa.

IDI: Perlu Diproses Organisasi Profesi

Ia menjelaskan bahwa Benny Christian Sihombing tidak terdaftar sebagai anggota IDI Cabang Pematangsiantar-Simalungun.

"(Yang bersangkutan) tidak terdaftar di IDI Cabang Siantar-Simalungun. Mungkin saja memang bermarga Sihombing dan orang tuanya dulu berasal dari Siantar," ujarnya.

Reinhard juga menyampaikan rasa empati kepada Yurizal dan keluarganya. Menurutnya, dugaan pelanggaran etika yang dilakukan tenaga kesehatan semestinya diproses sesuai mekanisme organisasi profesi.

"Patut diproses oleh organisasi ini," katanya singkat.

Berdasarkan informasi yang beredar, Benny Christian Sihombing diketahui bertugas sebagai dokter di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik.

Warganet menantikan penjelasan resmi dari pihak terkait, termasuk rumah sakit, organisasi profesi, maupun instansi berwenang mengenai dugaan pelanggaran etika dalam peristiwa tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.