Dimata Tetangga Maliya Finda yang Tewas di Gunung Piramid Dikenal Suka Menolong dan Dermawan 
Wiwit Purwanto August 06, 2026 09:32 PM

SOSOK Maliya Finda Nenek Hobi Mendaki yang Tewas Terperosok di Gunung Piramid, Dikenal Suka Menyapa dan Gemar Memberi Uang ke Tukang Parkir dan Para Tetangga

 

 

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Keramahan dan kemurahan hati Maliya Finda (51) kini tinggal kenangan. Pendaki asal Surabaya yang meninggal di Gunung Piramid, Bondowoso, dikenang para tetangga sebagai sosok santun, dermawan, dan gemar membantu warga sekitar.

Kepergian Maliya Finda (51), pendaki asal Surabaya yang ditemukan meninggal dunia di Gunung Piramid, Bondowoso, meninggalkan duka mendalam bagi warga sekitar rumahnya di Jalan Cipunegara, Darmo, Wonokromo.

Dikenal Ramah dan Gemar Berbagi kepada Tetangga

Para tetangga mengenang Hajah Finda sebagai pribadi yang ramah, santun, dan ringan tangan. Hampir setiap bertemu, ia selalu menyapa warga dengan hangat hingga membuat siapa pun merasa nyaman.

Anton Kurniawan (48), tetangga yang tinggal tepat di depan rumah korban, mengaku terkejut saat mendengar kabar Hajah Finda hilang ketika mendaki hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia oleh Tim SAR.

Baca juga: Di Balik Kematian Maliya Finda Pendaki Surabaya, Mengapa Jalur Gunung Piramid Bondowoso Mematikan?

Ia bahkan masih mengingat momen terakhir melihat korban pada Jumat (31/7/2026) pagi saat berangkat membawa tas carrier menggunakan ojek online.

"Ngomongnya menyapa 'monggo bu, monggo pak' gitu aja. Kalau ke mana-mana kita enggak tahu. Terakhir pokoknya tahunya lihat itu Jumat pagi pergi bawa tas carrier naik ojek online. Itu ke mananya ke stasiun atau ke terminal kita enggak tahu," ujarnya saat ditemui SURYA.CO.ID di depan rumah duka, Kamis (6/8/2026).

Selain dikenal ramah, Maliya Finda juga rutin menggelar open house saat Hari Raya Idulfitri. Ia kerap berbagi kepada tetangga, memberi uang kepada tukang parkir, hingga membayar lebih saat berbelanja di warung sekitar rumah.

"Iya ngasih uang gitu. Sama ibu warung ini. Kalau pagi ada warung mbah itu kadang-kadang ngasih uang. Walaupun beli atau enggak beli, tetap ngasih. Meskipun enggak tiap hari ya kalau ada ini. Dilebihin mesti kalau bayar," ungkapnya.

Anton mengakui korban memang tidak sering mengikuti kegiatan lingkungan. Namun, menurutnya, sikap ramah dan kepedulian Finda membuat seluruh warga merasa kehilangan.

Baca juga: Jejak Maliya Finda Pendaki Perempuan Surabaya Meninggal di Gunung Piramid, Taklukkan Rinjani - Lawu

"Tapi memang secara sosial baik. Tetangga ini pasti kehilangan semua kok," katanya.

Selama ini Maliya Finda tinggal bersama seorang asisten rumah tangga. Putri semata wayangnya menetap di Bali bersama suami dan belum lama ini telah dikaruniai seorang anak.

"Iya kalau semenjak dapat cucu baru itu kan tiap pagi jemur bawa jalan-jalan ke kanan-kiri (sekitar rumah)," pungkasnya.

Tetangga Kenang Kebaikan Korban

Cerita serupa disampaikan Heri, warga sekitar yang mengaku sangat kehilangan sosok Hajah Finda. Ia mengenang korban pernah datang bertakziah saat kakaknya meninggal dunia dan memberikan santunan kepada keluarganya.

"Informasi ramai hari selasa. Langsung kedengeran kejadian itu. Antara senin atau selasa. Namanya suda takdir. Beliau baik sama warga. Saat kakak saya meninggal dunia. Beliau datang ke rumah kasih amplop ke kami," ujarnya.

Menurut Heri, korban juga dikenal sering membantu warga dengan memberikan pekerjaan kecil di rumahnya disertai upah yang layak.

Baca juga: Prosesi Pemakaman Pendaki Gunung PIramid Maliya Finda di Babat Lamongan

"Orang parkir dikasih semua kalau ketemu. Banyak kalau kasih. Kadang orang disuruh bersihkan taman atau kebun, benahi rumah apa itu, ya dikasih uang, baik orangnya," ujar Heri 

Hobi Mendaki Berujung Petaka

Selain dermawan, Maliya Finda dikenal aktif berolahraga. Dalam beberapa tahun terakhir ia mulai menekuni hobi mendaki gunung, meski sebelumnya lebih sering bersepeda ontel hampir setiap hari.

"Setiap pagi sama sore, sepeda ontel, aktivitas olahraga. Kelilingi surabaya, enggak tahu arahnya ke mana. Fisiknya sering olahraga, beda kalau orang enggak suka olahraga," pungkasnya.

Keponakan korban, Wawan, sebelumnya juga menyebut sang tante baru sekitar dua hingga tiga tahun terakhir aktif mendaki gunung. Meski demikian, hobi gowes tetap menjadi aktivitas rutinnya.

"Beliau hobi mendaki. Dan suka gowes sepeda ontel, kebetulan ngontel juga sama saya. Hobi mendaki itu barusan. Dari Rinjani dan Lawu. Gunung populer," ujarnya saat ditemui di rumah duka pada Selasa (4/8/2026).

Maliya Finda dilaporkan hilang kontak sejak Minggu (2/8/2026) saat mendaki Gunung Piramid bersama pemandu lokal Irfan Nasrul Laili (35). Keduanya ditemukan meninggal dunia oleh Tim SAR gabungan pada Selasa (4/8/2026) di jalur ekstrem Punggung Naga Gunung Piramid dengan kedalaman sekitar 60 meter.

Karena medan yang sangat terjal dengan kemiringan mencapai 90 derajat, proses evakuasi baru dapat dilakukan pada Rabu (5/8/2026). Evakuasi menggunakan teknik lowering selama sekitar 13 jam dengan melibatkan sekitar 100 personel Tim SAR gabungan.

Jenazah Maliya Finda tiba di rumah duka di kawasan Jalan Cipunegara, Surabaya, pada Kamis (6/8/2026) dini hari setelah sebelumnya menjalani visum di RS Bhayangkara Bondowoso.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.