Kepala SPPG di Bintuni Klarifikasi 'Isu Miring' Media Sosial, Komitmen Jaga Kualitas MBG
Hans Arnold Kapisa August 06, 2026 07:07 PM

TRIBUNPAPUABARAT.COM, BINTUNI - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Indah Yana, Edha Sidabutar, memberikan klarifikasi atas sejumlah isu yang beredar di media sosial terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menegaskan pihaknya selalu terbuka terhadap masukan dan siap melakukan evaluasi demi menjaga kualitas pelayanan kepada siswa.

Menurut Edha, setiap keluhan dari sekolah memiliki mekanisme penanganan yang jelas.

Guru maupun penanggung jawab (PIC) sekolah diminta segera melaporkan kendala kepada tim lapangan atau asisten lapangan (Aslap), baik terkait keterlambatan distribusi maupun kualitas makanan.

“Setiap ada laporan dari sekolah, kami langsung melakukan konfirmasi. Kalau memang ada kekurangan, kami tidak pernah menutup-nutupi dan segera melakukan evaluasi,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).

Edha menjelaskan, sebelum makanan dibagikan, PIC sekolah melakukan uji coba untuk memastikan kelayakan konsumsi.

Baca juga: Dandim 1806/Teluk Bintuni Perintahkan Jajaran Kawal Program MBG di Sembilan Titik

Jika ditemukan makanan basi atau wadah tidak layak, laporan segera diterima dan ditindaklanjuti.

Terkait keterlambatan distribusi, ia menyebut hal itu sempat terjadi karena berkurangnya jumlah relawan.

“Hari itu hanya enam relawan yang masuk sehingga proses pengemasan terlambat. Begitu mendapat laporan, kami langsung mencari penyebab dan melakukan penanganan,” katanya.

Bantah Isu Kendaraan Pengangkut

Menanggapi isu kendaraan pengangkut makanan yang disebut juga digunakan untuk sampah, Edha membantah.

Menurutnya, pengangkutan sampah kini ditangani Perusahaan Umum Daerah (Perumda) dengan sistem yang lebih tertata.

“Soal kendaraan itu tidak benar. Sekarang pengangkutan sampah sudah ditangani Perumda,” tegasnya.

Ia memastikan tenaga kerja di SPPG diprioritaskan dari masyarakat lokal, khususnya orang asli Papua.

Namun disiplin tetap ditegakkan, termasuk sanksi bagi relawan yang melanggar aturan.

Baca juga: BPJS Kesehatan dan SPPG Papua Barat Tandatangani PTO, Relawan Resmi Terdaftar Peserta JKN

Untuk pasokan bahan pangan, kebutuhan sayur dan bahan baku masih mengandalkan mitra penyedia karena produksi petani lokal belum mencukupi.

Meski demikian, produk lokal tetap diutamakan bila tersedia.

“Kalau ada sayuran dari masyarakat, pasti kami ambil. Namun jumlahnya sering belum mencukupi,” jelasnya.

Isu Anting dalam Makanan

Terkait isu temuan anting dalam makanan yang sempat viral, Edha mengaku baru mengetahui setelah unggahan beredar di media sosial.

Ia menyayangkan pihak sekolah tidak melaporkan langsung.

“Padahal biasanya kalau ada kendala, sekolah langsung menghubungi kami. Setelah mengetahui informasi itu, kami segera evaluasi bagian produksi dan kebersihan,” katanya.

Edha menegaskan seluruh proses produksi dilakukan dengan pengawasan ketat. Petugas produksi maupun tim distribusi selalu mencicipi makanan sebelum dibagikan.

“Kami juga mengonsumsi makanan yang sama dengan anak-anak. Jadi komitmen kami menjaga kualitas sebaik mungkin,” ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.