Sosok Rimbaud Penyair Legendaris Prancis yang Pernah Jadi Tentara di Semarang dan Salatiga
rival al manaf August 06, 2026 07:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Di usia 21 tahun, ketika namanya mulai dikenal sebagai salah satu penyair paling berbakat di Prancis, Arthur Rimbaud justru mengambil keputusan yang tak biasa.

Bagi dunia sastra, Arthur Rimbaud bukan nama biasa. Ia dianggap sebagai pelopor puisi modern Prancis. 

Karya-karyanya seperti Le Bateau Ivre, Une Saison en Enfer, dan Illuminations mengubah cara orang memandang puisi, bahkan menginspirasi lahirnya gerakan surealisme. 

Pengaruhnya menembus lintas generasi dan negara, mulai dari Chairil Anwar di Indonesia hingga Bob Dylan, Jim Morrison, Patti Smith, bahkan seniman Jean-Michel Basquiat.

Baca juga: PDAM Kota Semarang Pasang Target Tahunan Penambahan 10.000 Sambungan Pelanggan Baru

Baca juga: PSIS Semarang Makin Siap Tempur, Widodo C Putro Beberkan Hasil TC dan Rencana Lima Uji Coba

Ia meninggalkan dunia sastra, mendaftar sebagai tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), lalu berlayar menuju Nusantara.

Perjalanan singkatnya melintasi Semarang, Kedungjati, Tuntang, hingga Salatiga pada 1876 kini dikenang sebagai salah satu episode paling misterius dalam hidupnya.

Tepat 150 tahun kemudian, kisah tersebut kembali dihidupkan melalui rangkaian napak tilas yang dipimpin Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, di Jawa Tengah, Kamis (6/8/2026). 

Kegiatan itu diakhiri dengan pembukaan pameran "Arthur Rimbaud: A Journey Through Java" di Lawang Sewu, Semarang.

Fabien Penone mengatakan, ketika tiba di Semarang pada Juli 1876, Rimbaud sebenarnya telah menyelesaikan seluruh karya puisinya. 

Karya-karya tersebut kemudian menjadikannya salah satu penyair terbesar dalam sejarah sastra dunia. Namun, ia memilih meninggalkan dunia kepenulisan demi menjalani kehidupan sebagai pengembara.

"Semarang merupakan tempat paling jauh yang pernah dicapai Arthur Rimbaud dalam pengembaraannya. Melalui peringatan ini kami ingin memperkenalkan kembali kisah tersebut kepada masyarakat Prancis sekaligus mengajak mereka datang mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan Rimbaud di Indonesia," ujar Penone.

Menurut Penone, perjalanan Rimbaud di Jawa memang berlangsung sangat singkat. Setelah tiba di Batavia, ia dikirim ke Semarang sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api melewati Kedungjati dan Tuntang menuju barak militer di Salatiga. 

Tak lama setelah menerima gaji pertamanya sebagai tentara KNIL, Rimbaud memilih membelot dan menghilang dari catatan militer kolonial.

"Yang kita ketahui hanyalah ia melakukan perjalanan sampai Salatiga melalui Semarang, Kedungjati, dan Tuntang. Setelah membelot, para peneliti hingga kini masih memperdebatkan jalur yang ditempuhnya sebelum kembali ke Eropa pada akhir tahun 1876," katanya.

Justru karena banyak bagian hidupnya di Jawa yang masih belum terpecahkan, kisah Rimbaud terus menarik perhatian para sejarawan dan peneliti sastra dari berbagai negara.

Penone menjelaskan, perjalanan penyair kelahiran Charleville itu kini telah berkembang menjadi simbol hubungan budaya yang telah terjalin lama antara Prancis dan Indonesia.

Pada 2025, kisah Rimbaud bahkan dimuat dalam buku peringatan Indonesia, Unprecedented Lights – 150 Years of French-Indonesian Exchanges, bersama sepuluh tokoh Prancis lain yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Indonesia.

Momentum peringatan 150 tahun perjalanan Rimbaud juga dimanfaatkan untuk meluncurkan Rimbaud Residency, program residensi sastra bilateral pertama antara Prancis dan Indonesia.

Program tersebut akan mempertemukan penulis dari kedua negara untuk tinggal, berinteraksi dengan masyarakat lokal, serta menghasilkan karya sastra yang lahir dari pengalaman lintas budaya.

Penulis pertama yang terpilih adalah Louis-Philippe Dalembert, novelis dan penyair ternama kelahiran Haiti yang kini menetap di Paris. 

Selama September hingga November 2026, ia akan tinggal selama tiga bulan di Semarang dan menjadikan Lawang Sewu sebagai ruang berkarya. 

Selain menulis, Dalembert dijadwalkan mengikuti berbagai diskusi, lokakarya, serta pertemuan dengan mahasiswa, penulis, peneliti, dan pembaca di Kota Semarang.

"Program ini bukan sekadar residensi sastra. Kami ingin menciptakan ruang dialog jangka panjang antara penulis Prancis dan Indonesia agar lahir karya-karya baru dari perjumpaan dua kebudayaan," kata Penone.

Sebagai bagian dari kerja sama yang bersifat timbal balik, seorang penulis Indonesia juga akan menjalani residensi selama tiga bulan di Cité internationale de la langue française, Prancis, pada awal 2027.

Menurut Penone, peluncuran program tersebut menjadi tindak lanjut penguatan kerja sama budaya kedua negara setelah Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto menandatangani Deklarasi Borobudur tentang Strategi Budaya Bersama pada 2025. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.