"Ternyata di Jambi jengkol itu merupakan favorit, sehingga nilainya tinggi. Karena nilainya tinggi sedikit saja jengkol mengalami kenaikan yaitu inflasi."
Aidil Adha
Kepala BPS Provinsi Jambi
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mengungkapkan bahwa komoditas jengkol menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di Provinsi Jambi.
Bahkan, pengaruhnya terhadap pergerakan inflasi disebut hampir setara dengan komoditas cabai yang selama ini dikenal sebagai penyebab utama kenaikan harga.
Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, menjelaskan besarnya pengaruh jengkol terhadap inflasi didasarkan pada hasil Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilakukan selama satu tahun untuk memetakan pola konsumsi masyarakat.
"BPS sebelum menentukan komoditi apa yang menjadi prioritas atau menjadi nilai timbang tinggi. Kami melaksanakan Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilaksanakan selama satu tahun," ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Menurut Aidil, hasil survei tersebut menunjukkan masyarakat Provinsi Jambi memiliki tingkat konsumsi jengkol yang sangat tinggi.
Kondisi itu membuat komoditas jengkol memiliki nilai timbang yang besar dalam perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), sehingga setiap kenaikan harga akan memberikan dampak cukup signifikan terhadap inflasi.
"Ternyata di Jambi jengkol itu merupakan favorit, sehingga nilainya tinggi. Karena nilainya tinggi sedikit saja jengkol mengalami kenaikan yaitu inflasi.
"Sebenarnya nilai timbang jengkol ini termasuk tinggi untuk Jambi," kata Aidil.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah provinsi lain yang tingkat konsumsi jengkolnya tidak sebesar di Jambi.
Karena itu, pengaruh jengkol terhadap inflasi di daerah lain tidak sebesar yang terjadi di Provinsi Jambi.
"Provinsi lain tidak, tingkat konsumsi jengkol di Jambi ini banyak. Selama satu tahun kita melaksanakan survei, komoditi apa saja yang mereka beli setiap hari dan setiap bulan, setiap hari kita survei," ungkapnya.
Selain jengkol, komoditas cabai juga memiliki kontribusi besar terhadap inflasi daerah.
Aidil menyebut tingginya konsumsi cabai oleh masyarakat Jambi membuat setiap perubahan harga komoditas tersebut langsung berdampak pada laju inflasi.
"Cabai bisa inflasi, karena orang Jambi tidak makan kalau tidak makan cabai. Jengkol ini sama, sehingga itu pengaruhnya besar," katanya.
Aidil menambahkan, penghitungan inflasi tingkat Provinsi Jambi merupakan gabungan data dari Kota Jambi, Kabupaten Bungo, dan Kabupaten Kerinci.
Menurutnya, tingginya konsumsi jengkol di Kabupaten Bungo dan Kabupaten Kerinci menjadi faktor utama besarnya kontribusi komoditas tersebut terhadap inflasi, terutama ketika musim panen berakhir dan pasokan di pasar mulai berkurang.
"Tapi bukan di Kota Jambi, jengkol itu Bungo dan Kerinci. Kota Jambi tidak begitu pengaruh, Bungo yang paling berpengaruh, kalau jengkol naik langsung dia," pungkasnya.
(Tribunjambi.com/Sopianto)
Baca juga: Jeritan Anak Memecah Malam Terenggutnya Nyawa Ayah dan Ibu di Sarolangun
Baca juga: Tabel Angsuran KUR Bank Jambi untuk Pinjaman Rp500 Juta Tenor 1-5 Tahun
Baca juga: Belasan Jemaah Umrah Jambi Pilih Pulang dan Pernyataan Pihak Travel