Renungan Harian Katolik Jumat 7 Agustus 2026, Memikul Salib Dengan Cinta Menemukan Hidup Yang Sejati
Oby Lewanmeru August 07, 2026 10:19 AM

Oleh : RP. John Lewar SVD

Biara SVD St. Josef Freinademetz STM
Nenuk Atambua - Timor

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik, Jumat 7 Agustus 2026 Hari biasa Pekan XVIII thn A-II oleh Pastor John Lewar, SVD berjudul: Memikul Salib Dengan Cinta, Menemukan Hidup Yang Sejati.

Renungan Harian Katolik RP. Jhon Lewar SVD ini merujuk pada Bacaan Yeremia Nahum 1:1-5; 2:2-3.5-8; 3:1-3.6-7
Mazmur 32:35cd-36ab.39abcd.41
Matius 16:24-28.

Kisah Nyata: Ayah yang Tetap Tersenyum

Di sebuah desa kecil di Timor, hiduplah seorang ayah sederhana bernama
Bapak Markus.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 7 Agustus 2026, Elakan Ego Melangkah di Jalan Tuhan Itulah Salib Hidup

Ia bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang  pas-pasan. Suatu hari anak sulungnya jatuh sakit dan harus dirawat cukup
lama.

Banyak orang berkata, “Mengapa Tuhan memberi beban seberat ini?”
Namun Bapak Markus tidak mengeluh. Setiap pagi sebelum berangkat
bekerja, ia berdoa di depan salib kecil di rumahnya.

Ketika ditanya dari mana ia memperoleh kekuatan, ia menjawab, “Saya hanya ingin berjalan bersama
Yesus. Kalau Yesus memikul salib demi saya, saya pun mau memikul salib
demi keluarga saya.” Bertahun-tahun kemudian anaknya sembuh dan
berhasil menjadi guru. Anak itu sering berkata, “Iman ayahlah yang
menyelamatkan kami dari keputusasaan.”

Kisah ini mengingatkan kita bahwa salib yang dipikul dengan kasih tidak
menghancurkan hidup, tetapi justru membentuk hidup menjadi berkat bagi
orang lain.

Dalam Injil hari ini Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia
harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.” (Mat
16:24).

Kata-kata ini terdengar berat. Banyak orang ingin mengikuti Yesus,
tetapi tidak semua siap memikul salib.

Kita sering berharap hidup beriman berarti hidup tanpa masalah.

Padahal Yesus tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah, melainkan penyertaan-Nya dalam setiap kesulitan.

Pertama, Tuhan Membela dan Memulihkan

Nabi Nahum mewartakan bahwa Tuhan adil dan tidak tinggal diam melihat
kejahatan. Ia menjatuhkan yang sombong dan membebaskan umat-Nya
yang tertindas. Bacaan ini mengingatkan kita bahwa Tuhan peduli pada
penderitaan kita dan mampu membawa pemulihan dalam hidup kita.

Kadang-kadang salib kita adalah perjuangan menghadapi ketidakadilan,
kesulitan ekonomi, atau situasi hidup yang membuat kita merasa lemah.

Seperti umat Israel yang diteguhkan oleh pewartaan Nahum, kita pun
dipanggil untuk tetap berharap kepada Tuhan.

Kedua, Tuhan Tidak Pernah Meninggalkan.
Pemazmur berkata: “Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami.”

Salib tidak pernah dipanggul sendirian.

Tuhan melihat air mata kita, mendengar doa kita, dan memberi kekuatan pada saat yang tepat.

Ketika manusia merasa tidak sanggup lagi, rahmat Tuhan bekerja dengan cara yang
sering tidak kita duga.

Ketiga, Yesus: Jalan Salib adalah Jalan Kehidupan.

Yesus melanjutkan: “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan
memperolehnya.” (Mat 16:25).

Dunia mengajarkan: carilah kenyamanan,
selamatkan diri sendiri, utamakan kepentingan pribadi. Tetapi Yesus
mengajarkan kebalikan: memberi diri, berkorban, mengasihi, dan melayani.

Memikul salib bukan berarti mencari penderitaan.

Salib berarti tetap memilih kasih ketika membenci lebih mudah, tetap jujur ketika curang lebih
menguntungkan, tetap setia ketika meninggalkan Tuhan terasa lebih
nyaman.

Pesan untuk Hidup Hari Ini
Salib setiap orang berbeda-beda:
 salib penyakit
 salib kemiskinan
 salib keluarga yang bermasalah
 salib pekerjaan yang berat
 salib pelayanan yang tidak dihargai
 salib perjuangan melawan dosa dan kelemahan diri sendiri

Jangan takut pada salibmu. Yang membuat salib menjadi ringan bukan
kecilnya beban, melainkan besarnya cinta kepada Tuhan. Ketika kita
memikul salib bersama Yesus, salib itu berubah menjadi jalan menuju
kematangan iman, kedewasaan hati, dan keselamatan.

Pertanyaan Refleksi
1. Salib apa yang sedang saya pikul saat ini?
2. Apakah saya sering mengeluh dan ingin lari dari tanggung jawab?
3. Sudahkah saya percaya bahwa Yesus berjalan bersama saya dalam setiap
penderitaan?


Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau telah memanggul salib demi keselamatan kami. Ajarlah
kami untuk tidak takut menghadapi kesulitan hidup.

Berilah kami hati yang
tabah seperti para nabi yang tetap setia mewartakan pengharapan di tengah
penderitaan umat.

Kuatkanlah kami agar mampu menyangkal diri, memikul
salib dengan kasih, dan tetap setia mengikuti-Mu setiap hari. Semoga
melalui salib yang kami pikul, hidup kami menjadi berkat bagi keluarga,
Gereja, dan sesama. Amin.

Kutipan Inspiratif: “Salib yang dipikul bersama Yesus bukan tanda bahwa
Tuhan meninggalkan kita, melainkan tanda bahwa Ia sedang membentuk
kita menjadi murid-Nya yang sejati.” (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.