Tim BBKSDA Riau Pasang Kandang Jebak di Lokasi Petani Karet Diserang Beruang di Pelalawan 
Sesri August 07, 2026 10:29 AM

 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Tim Wildlife  Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memasang kandang jebak di lokasi petani karet yang diserang beruang di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan pada Kamis (6/8/2026).

Konflik antara satwa liar dengan masyarakat Desa Pangkalan Gondai pada Rabu (5/8/2026) lalu menyebabkan seorang petani karet bernama Antono (41) mengalami luka parah pada pelipis mata sebelah kiri dan bagian kepalanya. 

Beruang madu itu mencakar dan menggigit korban saat sedang menderes di kebun karet miliknya. Beruntung nyawa pria itu bisa diselamatkan meskipun harus menjalani operasi di RSUD Selasih Pangkalan Kerinci dan dirawat intensif.

Setelah mendapatkan laporan, BBKSDA Riau menurunkan Tim WRU ke Desa Pangkalan Gondai pada hari yang sama.

Petugas membawa satu unit kandang jebak atau box trap sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan penanganan konflik satwa bernama latin Helarctos malayanus itu dengan warga desa.

"Tim langsung menuju kantor desa berkoordinasi dengan sekretaris Desa Pangkalan Gondai. Untuk memperoleh informasi serta kronologis kejadian sebagai langkah awal dalam proses penanganan konflik ini," ungkap Kepala BBKSDA Riau, Supartono kepada tribunpekanbaru.com, Jumat (7/8/2026).

Selanjutnya, Tim WRU BBKSDA Riau memasang kandang jebak bersama pemerintah desa dan aparat setempat. Box trap dipasang di sekitar lokasi serangan beruang madu terhadap Antono.

Hal ini untuk memantau keberadaan satwa sekaligus upaya mitigasi jika sewaktu-waktu beruang itu kembali memasuki kawasan yang berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat desa.

Baca juga: 3 Warga Pelalawan Jadi Korban Serangan Beruang 2026 ini, BKSDA Riau Turunkan Tim Mitigasi

Baca juga: Kronologis Beruang Serang Warga Pangkalan Gondai Pelalawan, Antono Sempat Naik Motor Cari Bantuan

"Penanganan dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat agar langkah mitigasi dapat berjalan secara efektif," ujar Supartono.

Dari keterangan yang disampaikan oleh pemerintah desa, korban diserang seekor beruang madu saat sedang berada di kebun miliknya.

Satwa tersebut menyerang korban dari arah belakang. Korban kemudian melakukan perlawanan sehingga beruang melepaskan serangannya dan korban melarikan diri dari lokasi kejadian.

Meskipun berhasil menyelamatkan diri, korban mengalami luka akibat serangan tersebut. Setibanya di rumah, korban dilaporkan kehilangan banyak darah hingga akhirnya pingsan.

Pihak keluarga segera membawa korban ke Rumah Sakit Selasih Pangkalan Kerinci untuk mendapatkan penanganan medis.

"Saat ini kondisi korban telah berada dalam penanganan tenaga Medis, sementara tim WRU terus melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, aparat setempat, serta pihak terkait untuk mengidentifikasi penyebab konflik, dan menentukan langkah-langkah  mitigasi guna mencegah terjadinya konflik serupa," tandas Supartono. 

Ia menegaskan, beruang madu merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi berdasarkan ketentuan 
peraturan perundang-undangan.

Sehingga penanganan konflik dilakukan secara hati-hati dengan mengedepankan keselamatan manusia sekaligus menjaga kelestarian satwa dan habitatnya.

BBKSDA Riau mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kebun maupun kawasan yang berbatasan dengan habitat satwa liar agar meningkatkan kewaspadaan, menghindari  bekerja seorang diri, serta segera melaporkan kepada BBKSDA Riau atau aparat setempat apabila menemukan keberadaan satwa liar di sekitar permukiman maupun areal perkebunan.

"Kami berkomitmen memperkuat upaya mitigasi konflik manusia dan satwa liar melalui penanganan yang cepat, kolaboratif, dan berbasis konservasi. Sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengabaikan perlindungan keanekaragaman hayati," katanya.

(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.