TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Tawa kecil beberapa kali memecah percakapan di Studio Podcast TribunBengkulu.com di Jalan Jati Kota Bengkulu, Kamis (6/8/2026). Duduk mengenakan seragam dinas Polri lengkap dengan tanda kepangkatan, Kapolda Bengkulu, Irjen Pol Yudhi Sulistianto Wahid tampak menikmati obrolan yang berlangsung hampir 30 menit bersama Pimpinan Redaksi TribunBengkulu.com, M Syah Beni.
Di hadapannya hanya ada dua mikrofon, sebuah tablet, dan meja kecil yang memisahkan narasumber dengan pewawancara. Suasananya santai, jauh dari kesan formal yang biasanya melekat pada seorang Kapolda.
Namun setiap kali pembicaraan bergeser ke masa mudanya sebagai atlet judo, senyum Yudhi semakin lebar. Sesekali ia tertawa kecil mengenang pengalaman yang telah berlalu lebih dari tiga dekade.
Raut wajahnya baru berubah serius ketika percakapan menyentuh kunjungannya ke Sekolah Rakyat pada hari yang sama. Sebelum datang ke studio TribunBengkulu.com, ia baru saja bertemu anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tengah menata mimpi mereka melalui pendidikan.
Bagi Yudhi, anak-anak itu mengingatkannya pada satu hal, kesempatan dapat datang kepada siapa saja yang mau berjuang.
Perjalanan hidupnya menjadi salah satu buktinya.
Jauh sebelum memimpin Polda Bengkulu, jauh sebelum mengenakan pangkat jenderal bintang dua, Yudhi lebih dulu ditempa di atas tatami. Di arena judo itulah disiplin, daya juang, dan ketekunan menjadi bagian dari kehidupannya. Nilai-nilai yang kemudian mengantarkannya bukan hanya ke panggung olahraga dunia, tetapi juga ke ruang pengabdian sebagai anggota Polri.
Dalam podcast TribunBengkulu.com, Yudhi tidak sekadar mengenang perjalanan sebagai atlet. Ia menceritakan bagaimana olahraga mengubah jalan hidupnya, membuka pintu menuju kepolisian, hingga membentuk cara pandangnya sebagai seorang pemimpin.
Berawal dari Tatami
Jika nama Irjen Pol. Yudhi Sulistianto Wahid ditelusuri melalui mesin pencari internet, salah satu jejak yang paling mudah ditemukan bukanlah jabatannya sebagai Kapolda Bengkulu.
Jejak itu justru membawa publik ke Olimpiade Barcelona 1992.
Yudhi membenarkan hal tersebut.
"Sebelum menjadi anggota Polri, saya adalah atlet judo nasional," ujarnya.
Kalimat itu diucapkan sederhana. Namun di baliknya tersimpan perjalanan panjang yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Judo telah menjadi bagian dari hidupnya sejak usia muda. Bertahun-tahun latihan, mengikuti pemusatan latihan nasional, hingga akhirnya dipercaya mengenakan lambang Garuda di dada untuk mewakili Indonesia pada ajang olahraga paling bergengsi di dunia.
Pada Olimpiade Barcelona 1992, Yudhi tampil melalui jalur wild card. Saat itu Indonesia mengirim empat atlet judo, yakni Hengky, Pujawati Utama, Helena Papilaya, dan Yudhi Sulistianto Wahid.
Di antara rombongan tersebut, Yudhi merupakan atlet termuda dengan usia sekitar 20 tahun.
Barcelona menjadi panggung internasional pertama yang mempertemukannya dengan atlet-atlet terbaik dunia. Meski belum berhasil membawa pulang medali, pengalaman itu meninggalkan bekas yang tidak pernah hilang dalam perjalanan hidupnya.
"Kalau sekarang dicari di internet atau YouTube, nama saya masih muncul karena setiap atlet Olimpiade memang terdaftar dalam organisasi Olympian Indonesia," katanya.
Bagi dunia olahraga Indonesia, Olimpiade Barcelona 1992 memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar penyelenggaraan pesta olahraga empat tahunan.
Dari kota di pesisir Spanyol itulah sejarah lahir ketika Susi Susanti dan Alan Budikusuma mempersembahkan medali emas Olimpiade pertama bagi Indonesia. Momen tersebut mengubah cara bangsa ini memandang olahraga prestasi dan menjadi inspirasi bagi banyak atlet Indonesia.
Yudhi menjadi bagian dari generasi yang menyaksikan langsung sejarah itu.
Meski tidak berdiri di podium Olimpiade, pengalaman mengenakan seragam Merah Putih di panggung dunia menjadi bekal berharga yang membentuk cara pandangnya terhadap disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras.
Nilai-nilai itulah yang kemudian terus ia bawa, bahkan ketika arena pertandingan telah lama ditinggalkannya.
Barcelona Bukan Akhir, SEA Games Menjadi Panggung Pembuktian
Bagi banyak atlet, tampil di Olimpiade merupakan puncak karir. Namun bagi Yudhi Sulistianto Wahid, Barcelona 1992 justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Pengalaman bertanding melawan atlet-atlet terbaik dunia memberinya pelajaran bahwa mengenakan lambang Garuda di dada bukan hanya soal kemampuan teknik, tetapi juga kesiapan mental menghadapi tekanan di panggung internasional.
Sepulang dari Spanyol, Yudhi tidak menganggap Olimpiade sebagai garis akhir. Ia kembali ke pusat latihan, menjalani rutinitas yang sama seperti sebelumnya.
Latihan demi latihan dijalani, memperbaiki kekurangan, meningkatkan kemampuan, sekaligus menjaga disiplin yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupannya sebagai atlet.
Kesabaran itu kemudian membuahkan hasil.
Di ajang SEA Games, Yudhi mulai menunjukkan konsistensinya sebagai salah satu judoka terbaik Indonesia.
"Alhamdulillah saya meraih medali emas SEA Games sebanyak empat kali," ujarnya.
Prestasi tersebut diraihnya pada SEA Games 1991 di Filipina, SEA Games 1993 di Singapura, SEA Games 1995 di Chiang Mai, Thailand, dan SEA Games 1997 di Jakarta.
Deretan medali itu tidak lahir dalam semalam. Di balik setiap podium terdapat bertahun-tahun latihan, pengorbanan, dan kedisiplinan yang harus dijaga setiap hari.
Saat kisah itu diceritakan di studio podcast TribunBengkulu.com, suasana kembali mencair.
M. Syah Beni kemudian berseloroh bahwa jika memakai istilah yang akrab di kalangan anak muda saat ini, pencapaian tersebut bisa disebut sebagai back to back champion.
Yudhi hanya tersenyum.
"Alhamdulillah," jawabnya singkat.
Jawaban yang sederhana itu menggambarkan karakter yang tetap rendah hati meski telah mengoleksi berbagai prestasi di arena olahraga.
Prestasi yang Mengubah Jalan Hidup
Bagi Yudhi, medali bukan sekadar simbol kemenangan.
Prestasi di arena judo justru membuka pintu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Saya masuk Polri karena memiliki prestasi sebagai atlet," katanya.
Kalimat itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.
Arena pertandingan yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya berjuang perlahan berganti menjadi ruang pengabdian kepada masyarakat.
Jika sebelumnya disiplin digunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi lawan di atas tatami, kini disiplin yang sama menjadi bekal menjalankan tugas sebagai anggota Polri.
Olahraga, bagi Yudhi, tidak hanya mengajarkan cara memenangkan pertandingan. Lebih dari itu, olahraga membentuk karakter yang kemudian menjadi fondasi dalam menjalankan profesi sebagai aparat penegak hukum.
Puluhan tahun kemudian, perjalanan yang dimulai dari arena judo itu membawanya dipercaya memimpin Polda Bengkulu.
"Alhamdulillah juga, berkat prestasi itu saya bisa berkarier di kepolisian hingga akhirnya dipercaya menjadi Kapolda Bengkulu. Saya sangat bersyukur," ujarnya.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah prestasi olahraga mampu mengubah arah kehidupan seseorang. Dari tatami, Yudhi melangkah ke institusi Polri. Dari seorang atlet nasional, ia kemudian mengemban amanah sebagai jenderal polisi.
Namun, menurut Yudhi, ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Mental seorang atlet.
Nilai itulah yang hingga kini masih menjadi pegangan dalam setiap penugasan yang diembannya.
Mental Atlet yang Tetap Hidup di Balik Seragam Jenderal
Bagi sebagian orang, karier sebagai atlet berakhir ketika pertandingan terakhir usai. Medali kemudian disimpan di lemari, sementara kehidupan berjalan ke arah yang berbeda.
Yudhi Sulistianto Wahid memilih jalan yang lain.
Ia memang meninggalkan arena pertandingan, tetapi tidak pernah meninggalkan nilai-nilai yang ditempa selama bertahun-tahun sebagai atlet judo.
Baginya, disiplin bukan hanya diperlukan ketika mengejar kemenangan di atas tatami. Nilai itu justru semakin penting ketika ia mengenakan seragam Polri dan memikul tanggung jawab sebagai aparat penegak hukum.
"Modal utama saya adalah mental sebagai seorang atlet. Mental itu yang saya terapkan dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polri," katanya.
Kalimat itu bukan sekadar refleksi perjalanan hidupnya. Bagi Yudhi, dunia olahraga telah mengajarkan bahwa kemenangan tidak pernah datang secara instan. Seorang atlet harus siap menghadapi latihan yang berat, kekalahan, cedera, hingga tekanan sebelum akhirnya berdiri di podium.
Prinsip yang sama, menurutnya, berlaku dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polri.
Setiap persoalan membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan. Tidak ada jalan pintas untuk membangun kepercayaan masyarakat.
Puluhan tahun berkarier di kepolisian semakin menguatkan keyakinannya bahwa pangkat hanyalah amanah. Yang menentukan kualitas seorang pemimpin justru karakter yang dibangun jauh sebelum jabatan itu datang.
Dari Simpati Menuju Empati
Dalam perbincangan di studio podcast, nada suara Yudhi berubah lebih tenang ketika berbicara tentang masyarakat.
Baginya, seorang polisi tidak cukup hanya memiliki simpati.
Empati, kata dia, adalah nilai yang harus dimiliki setiap anggota Polri.
"Kalau hanya simpati, itu biasa. Tetapi yang kita butuhkan adalah empati," ujarnya.
"Kita harus mampu merasakan apa yang dirasakan masyarakat."
Kalimat itu bukan sekadar pesan yang sering disampaikan dalam berbagai kesempatan. Ia mengaku selalu mengingatkan seluruh jajaran Polda Bengkulu agar hadir ketika masyarakat menghadapi musibah, bukan hanya sebagai aparat yang menjalankan tugas, tetapi sebagai sesama manusia yang memahami penderitaan orang lain.
Menurutnya, kehadiran polisi sering kali lebih berarti daripada sekadar bantuan yang dibawa. Masyarakat ingin merasakan bahwa negara benar-benar hadir ketika mereka menghadapi kesulitan.
Karena itulah, ia meminta anggotanya tidak hanya bekerja berdasarkan prosedur, tetapi juga menggunakan hati nurani dalam melayani masyarakat.
Kembali ke Dunia yang Membesarkannya
Meski perjalanan hidup membawanya menjadi seorang polisi, Yudhi tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia olahraga.
Saat bertugas di Jakarta, ia dipercaya memimpin Pengurus Provinsi Judo DKI Jakarta. Amanah itu menjadi kesempatan baginya untuk kembali berada di tengah dunia yang telah membentuk karakter dan jalan hidupnya.
Di hadapan atlet-atlet muda, ia tidak banyak berbicara tentang medali atau gelar juara.
Pesan yang selalu ia sampaikan justru sangat sederhana.
"Pertama, disiplin."
"Kedua, jangan suka mengeluh."
Menurut Yudhi, dua hal itu sering terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit dijalankan secara konsisten.
Seorang atlet yang mudah mengeluh akan kehilangan fokus pada proses latihan. Sebaliknya, atlet yang disiplin akan terus berkembang meski hasilnya tidak langsung terlihat.
Nasihat itu ternyata tidak hanya berlaku di arena olahraga.
Nilai yang sama, menurutnya, relevan bagi siapa pun yang ingin berhasil dalam profesi apa pun, termasuk sebagai anggota Polri.
Karena pada akhirnya, prestasi tidak pernah dibangun oleh satu pertandingan, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Di situlah Yudhi melihat benang merah yang menghubungkan seluruh perjalanan hidupnya.
Tatami membentuk disiplin.
Disiplin melahirkan prestasi.
Prestasi membuka jalan menuju Polri.
Dan di dalam institusi itulah nilai-nilai yang ditempa sebagai atlet terus hidup hingga mengantarkannya memimpin Polda Bengkulu.
Menyemangati Anak-anak Mengejar Mimpi
Sebelum duduk di Studio Podcast TribunBengkulu.com siang itu, Irjen Pol. Yudhi Sulistianto Wahid lebih dulu mengunjungi Sekolah Rakyat di Bengkulu.
Di sana, ia tidak sedang berbicara di hadapan pejabat atau anggota kepolisian. Yang ditemuinya adalah anak-anak dari keluarga sederhana yang tengah menata harapan melalui pendidikan.
Suasana yang semula santai saat mengenang masa menjadi atlet berubah lebih serius ketika percakapan di studio beralih ke kunjungan tersebut.
Yudhi mengaku terkesan dengan semangat anak-anak yang ditemuinya.
Salah seorang siswa bahkan bercerita bahwa ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan.
Cerita sederhana itu mengingatkannya pada satu hal yang selalu ia yakini selama menjalani hidup, bahwa latar belakang keluarga tidak pernah menentukan sejauh mana seseorang dapat melangkah.
"Saya katakan bahwa mereka juga bisa bercita-cita menjadi polisi, tentara, guru, dokter, pengacara, atau profesi apa pun," tuturnya.
Bagi Yudhi, kesempatan tidak memilih anak siapa seseorang dilahirkan.
Kesempatan lebih sering datang kepada mereka yang mau belajar, berdisiplin, dan tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Nilai itu pula yang pernah ia pegang ketika masih menjadi atlet judo.
Ia bukan atlet yang langsung berdiri di podium juara.
Ia harus melalui latihan yang panjang, merasakan kekalahan, hingga akhirnya dipercaya mengenakan lambang Merah Putih di Olimpiade Barcelona 1992 dan mengukir prestasi di SEA Games.
Perjalanan itu kemudian membawanya memasuki institusi Polri, hingga kini dipercaya memimpin Polda Bengkulu.
Karena itu, ketika berbicara kepada anak-anak di Sekolah Rakyat, Yudhi tidak sedang menyampaikan teori.
Ia sedang menceritakan sesuatu yang pernah dijalaninya sendiri.
Dari Tatami ke Ruang Pengabdian
Hampir tiga dekade telah berlalu sejak Yudhi berdiri di atas tatami Olimpiade Barcelona.
Arena pertandingan itu kini telah berganti dengan ruang kerja Kapolda Bengkulu.
Lawan yang dihadapi pun tidak lagi seorang judoka dari negara lain, melainkan berbagai persoalan keamanan, ketertiban, dan harapan masyarakat yang harus dijaga setiap hari.
Namun, satu hal tidak pernah berubah.
Mental seorang atlet.
Disiplin yang dibangun melalui latihan, ketangguhan saat menghadapi tekanan, dan keyakinan untuk tidak mudah mengeluh masih menjadi bekal yang ia bawa dalam setiap penugasan.
Nilai-nilai itulah yang ingin ia wariskan, bukan hanya kepada anggota Polri, tetapi juga kepada generasi muda Bengkulu.
Percakapan hampir 30 menit di Studio Podcast TribunBengkulu.com siang itu akhirnya bukan sekadar menghadirkan kisah seorang Kapolda yang pernah tampil di Olimpiade.
Lebih dari itu, percakapan tersebut memperlihatkan bahwa prestasi olahraga dapat menjadi jalan menuju pengabdian, dan bahwa seorang atlet boleh meninggalkan arena pertandingan, tetapi tidak pernah meninggalkan nilai-nilai yang membentuk dirinya.
Di balik seragam jenderal bintang dua yang kini dikenakannya, masih hidup semangat seorang atlet yang percaya bahwa mimpi dapat dicapai melalui disiplin, kerja keras, dan kemauan untuk terus melangkah. (Tribun Bengkulu)