Sosok dr Heryadi Bawono, Dokter Forensik Tunggal di Balikpapan Menjadi Suara Bagi Mereka yang Tiada
Miftah Aulia Anggraini August 07, 2026 11:09 AM

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Di balik pintu ruang autopsi yang sunyi, di antara aroma menyengat jenazah dan keheningan kamar mayat, ada satu sosok yang setiap hari mengemban tugas tak biasa.

Ia bukan hanya memeriksa tubuh yang telah kehilangan nyawa, tetapi juga berupaya mengungkap kebenaran bagi mereka yang sudah tak mampu membela dirinya sendiri.

Sosok itu adalah Kepala Instalasi Kedokteran Kehakiman, dr Heryadi Bawono Putro, Sp.FM, yang hingga kini menjadi satu-satunya dokter spesialis forensik di Kota Balikpapan.

Dokter kelahiran Samarinda, 16 Oktober 1992 ini merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, tempat ia juga menempuh pendidikan spesialis kedokteran forensik hingga akhirnya mengabdikan diri di Kalimantan Timur.

Baca juga: Dokter Forensik Ungkap Kekerasan yang Dialami Kacab Bank BUMN, Ilham Pradipta Sebelum Tewas

Baginya, profesi dokter forensik bukan sekadar pekerjaan. Ada panggilan hati yang membuatnya memilih jalan yang jarang diminati banyak dokter.

"Yang pertama adalah memang ketika belajar di kedokteran, kita bisa merasakan bidang mana yang paling cocok untuk didalami," ujarnya kepada Tribunkaltim.co, Jumat (7/8/2026). 

Namun alasan terbesarnya justru datang dari mereka yang telah meninggal dunia.

"Sebagai dokter forensik kita bisa membantu orang yang bahkan dirinya sendiri sudah tidak bisa membantu dirinya lagi. Orang yang sudah meninggal kan sudah tidak bisa bersuara untuk membela dirinya. Dari situlah dokter forensik hadir membantu mengungkap kebenaran," katanya.

Menurut dr Heryadi Bawono Putro, ilmu kedokteran forensik juga memiliki keunikan karena menjadi jembatan antara dunia medis dan hukum.

Baca juga: 4 Fakta Mayat Bayi di Aliran Sungai Ampal Balikpapan: Penjelasan Dokter Forensik dan Ketua RT

Ia mengaku sejak masa sekolah memang menyukai peraturan perundang-undangan sehingga bidang forensik menjadi pilihan yang mampu menggabungkan dua disiplin ilmu tersebut.

"Ilmu forensik itu unik karena menjadi penghubung antara ilmu medis dengan ilmu hukum," ucapnya.

Meski memiliki peran penting dalam proses penegakan hukum, jumlah dokter forensik di Kalimantan Timur masih sangat minim.

dr Heryadi Bawono Putro menyebutkan, hingga kini hanya terdapat lima dokter spesialis forensik di provinsi tersebut.

"Di Balikpapan cuma saya sendiri. Di Samarinda ada dua orang, Penajam satu orang, Sangatta satu orang. Jadi total di Kalimantan Timur hanya lima dokter forensik," ungkapnya.

Baca juga: Hasil Forensik Janin di Sungai Ampal Balikpapan Mengarah Dugaan Aborsi

Jumlah tersebut dinilainya masih jauh dari kebutuhan pelayanan.

Menurutnya, minimnya peminat bukan tanpa alasan.

Banyak orang menganggap pekerjaan dokter forensik identik dengan jenazah, bau pembusukan, hingga suasana yang menyeramkan.

Banyak yang berpikir kerjanya kotor, berhadapan dengan mayat, pembusukan. Tidak semua orang bisa menerima kondisi seperti itu," katanya.

dr Heryadi Bawono Putro mengakui dirinya pun pernah merasakan ketakutan ketika pertama kali menjalani pendidikan spesialis forensik.

Baca juga: Forensik Ungkap Ketua RT di Balikpapan Tewas Tenggelam, Polisi Tetapkan Tersangka

Saat itu ia harus berjaga malam di kamar jenazah.

"Kalau pertama kali lihat jenazah ya takut. Apalagi waktu pendidikan harus jaga malam di kamar jenazah," kenangnya.

Namun rasa takut itu perlahan menghilang.

"Kurang lebih satu sampai dua bulan sudah mulai terbiasa," ujarnya.

Kini, setelah sekitar enam tahun berkecimpung di dunia forensik, berbagai kondisi jenazah dengan tingkat pembusukan yang berbeda sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam pekerjaan dokter forensik adalah aroma menyengat saat menangani jenazah.

Baca juga: 3 Fakta Mayat di Kolong Rumah Warga Baru Ulu Balikpapan, Hasil Forensik dan Dugaan Penyebab Kematian

Namun menurut dr Heryadi Bawono Putro, tubuh manusia memiliki kemampuan beradaptasi.

"Awalnya memang mual, itu wajar. Tapi lama-lama terbiasa. Bahkan indera penciuman biasanya hanya butuh sekitar dua sampai tiga menit untuk beradaptasi dengan bau di dalam ruangan," jelasnya.

Ia mengatakan, ketika fokus utama adalah membantu mengungkap penyebab kematian, rasa jijik perlahan hilang. "Kalau niat kita memang membantu orang, lama-lama sudah tidak terlalu memikirkan bau, belatung ataupun kondisi jenazah."

Di balik pekerjaannya, dr Heryadi Bawono Putro juga menyimpan sejumlah pengalaman yang hingga kini masih membekas.

Salah satunya terjadi saat masih menjalani pendidikan spesialis di Semarang.

Baca juga: Sidang Kelima Perkara Asusila Balita di Balikpapan, Dokter Forensik RSKD Jadi Saksi

Kala itu ia menangani jenazah yang ditemukan di dalam sebuah tandon air setelah sekitar 23 hari.

"Tandonnya sampai dibawa ke kamar jenazah. Kemudian harus digergaji untuk mengeluarkan jenazah yang ada di dalamnya," kenangnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu kasus paling berkesan sepanjang perjalanan kariernya.

Selain pengalaman medis, dr Heryadi Bawono Putro juga mengaku pernah mengalami kejadian yang menurutnya sulit dijelaskan secara ilmiah.

Saat masih menjalani pendidikan, ia pernah merasa melihat sosok yang menyerupai seorang anak yang baru saja diperiksanya.

Baca juga: Forensik RSKD tak Temukan Tanda Kekerasan di Jenazah Ketua RT Baru Ulu Balikpapan

"Setelah Magrib, saya dan senior melihat sosok anak yang sebelumnya kami periksa berdiri di depan ruang residen. Padahal jenazahnya masih berada di kamar jenazah," tuturnya.

Menurutnya, pengalaman seperti itu disikapi dengan tetap tenang dan berdoa.

"Kalau mengalami hal seperti itu ya kita kaget, kemudian berdoa."

Ia juga mengaku pernah mendengar suara tangisan atau suara benda jatuh ketika bekerja di kamar jenazah.

Namun, setelah bertahun-tahun menjalani profesi tersebut, ia memilih tetap fokus menjalankan tugas.

"Kalau saya sekarang sudah menganggap itu hal yang biasa. Yang penting tetap menjalankan pekerjaan." ujarnya. 

Baca juga: Korban Kebakaran Klub Malam Balikpapan Dipastikan Identitasnya Lewat Forensik RSUD Kanujoso

Pengalaman lain yang juga pernah dialaminya adalah bermimpi didatangi seseorang sebelum jenazah tersebut benar-benar tiba di rumah sakit untuk dilakukan autopsi.

"Kadang sebelum ada kegiatan autopsi, malamnya sudah dimimpikan dulu. Dalam mimpi itu hanya datang minta tolong," katanya.

Baginya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pekerjaannya adalah membantu mengungkap fakta demi kepentingan keluarga korban maupun proses hukum.

Dalam praktiknya, proses autopsi tidak memiliki batas waktu tertentu sejak kematian terjadi.

Bahkan jenazah yang telah dimakamkan masih dapat diperiksa kembali melalui proses eksumasi (proses penggalian kembali jenazah yang sudah dikubur oleh pihak berwenang) apabila dibutuhkan penyidikan.

Baca juga: Forensik Ungkap Temuan Bayi di Balikpapan Berjenis Kelamin Laki-Laki, Diduga Alami Kekerasan

"Jenazah yang sudah dimakamkan tetap bisa diperiksa. Dari tulang pun masih bisa dinilai, misalnya melihat resapan darah atau membedakan patah tulang akibat kekerasan atau bukan," jelasnya.

Sementara untuk satu proses autopsi lengkap, biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam.

Di tengah minimnya jumlah dokter forensik, dr Heryadi Bawono Putro berharap semakin banyak dokter muda tertarik mengambil spesialisasi tersebut.

Menurutnya, peluang kerja masih sangat besar.

"Dengan jumlah dokter forensik yang masih sedikit, peluangnya justru sangat terbuka. Kalau ingin menjadi dokter yang berperan di bidang medis sekaligus hukum, dokter forensik adalah pilihan yang tepat," tutupnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.