12 Ton Garam Disemai dari Udara, Operasi Modifikasi Cuaca Terus Digenjot Tekan Karhutla di Riau
Ariestia August 07, 2026 05:19 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pemerintah terus mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu strategi utama untuk menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. 

Hingga Jumat (7/8/2026), operasi tersebut telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut dengan total 12 ton garam (NaCl) disemai ke awan.

Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah rawan karhutla, meliputi Kabupaten Pelalawan, Siak, Bengkalis, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, serta Kota Dumai.

Selama delapan hari pelaksanaan, tim telah menerbangkan sebanyak 12 sorti penerbangan dengan total bahan semai mencapai 12.000 kilogram NaCl.

Selain OMC, penanganan karhutla juga diperkuat melalui operasi udara yang melibatkan satu unit helikopter patroli BNPB, satu unit pesawat patroli sekaligus OMC BNPB, serta lima unit helikopter water bombing yang disiagakan untuk membantu pemadaman di berbagai lokasi.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD dan Damkar Provinsi Riau, Jim Ghafur, mengatakan operasi udara menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan kebakaran, terutama di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

"Operasi Modifikasi Cuaca terus kami laksanakan untuk meningkatkan peluang hujan di daerah rawan karhutla. Bersamaan dengan itu, helikopter water bombing juga terus melakukan penyiraman di lokasi-lokasi yang masih terdapat titik api," ujar Jim Ghafur, Jum'at (7/8/2026).

Menurutnya, kombinasi operasi udara dan pemadaman darat membuat penanganan karhutla lebih efektif sehingga sejumlah lokasi kini sudah berhasil dipadamkan.

"Kami terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada, baik personel di lapangan maupun dukungan udara. Harapannya titik api yang masih tersisa bisa segera dipadamkan sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas," katanya.

Meski kondisi di beberapa daerah mulai membaik, BPBD Riau tetap mengimbau seluruh masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Langkah tersebut dinilai menjadi kunci untuk mencegah munculnya titik api baru di tengah musim kemarau.

"Seluruh personel Satgas Karhutla akan tetap bersiaga penuh dan kami akan terus memperbarui laporan perkembangan di lapangan karena kondisi kebakaran dapat berubah sewaktu-waktu bergantung pada cuaca, arah angin, dan tingkat kekeringan lahan," katanya. (Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.