4 Siswa Meranti Lolos Sekolah Rakyat Tahun Ini, Berasal dari Keluarga Prasejahtera dan Suku Akit
Firmauli Sihaloho August 07, 2026 05:19 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti kembali mengirimkan putra-putri terbaik dari keluarga kurang mampu untuk mengikuti program Sekolah Rakyat (SR) yang digagas Presiden Prabowo Subianto di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kepulauan Meranti, Rokhaizal, S.Pd., M.Pd., mengatakan pada tahun 2026 daerahnya memperoleh kuota sebanyak 4 peserta, untuk Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA).

“Untuk tahun 2026, Kabupaten Kepulauan Meranti mendapatkan kuota empat orang untuk SRMA di Kuantan Singingi.

Peserta berasal dari berbagai kecamatan, yakni Merbau, Tebing Tinggi Barat, Tebing Tinggi Timur, Tebing Tinggi, dan Rangsang Pesisir,” ujar Rokhaizal, Jumat (7/8/2026).

Ia menjelaskan, seluruh peserta dijadwalkan berangkat ke Kuantan Singingi pada pertengahan Agustus 2026 untuk mengikuti pendidikan dengan sistem berasrama.

Menurut Rokhaizal, pada angkatan sebelumnya, yakni tahun 2025, Kepulauan Meranti meluluskan delapan peserta ke SRMA 31.

Namun, satu peserta memutuskan untuk berhenti.

Baca juga: Sebut Mobilnya Sering Terpuruk, Plt Bupati Kuansing Akan Kawal Pembangunan Jalan Eks Transmigrasi

Baca juga: DPRD Minta Pemprov Riau Segera Tuntaskan Bonus Atlet PON dan Peparnas

“Pengakuannya karena tidak bisa jauh dari orang tua, mengingat di sana sistemnya disiplin dan tinggal di asrama,” tuturnya.

Walaupun sudah ada 4 orang yang pasti masuk, Rokhaizal mengatakan masih ada 1 cadangan yang tersisa.

“Satu orang ini kabarnya memiliki kuota yang kosong, namun kita masih menunggu informasi pastinya dari provinsi,” jelasnya.

Rokhaizal mengungkapkan bahwa seluruh peserta berasal dari keluarga tidak mampu yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Bahkan, lima di antaranya merupakan anak dari Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Akit, masing-masing satu orang berasal dari Desa Sesap dan empat orang dari Desa Sokop.

“Program ini memang diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar memperoleh kesempatan pendidikan yang berkualitas.

Mereka mengikuti pembelajaran dengan sistem asrama disertai pembinaan karakter serta pengembangan potensi akademik maupun nonakademik,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan para peserta angkatan pertama menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Sejumlah siswa mulai menorehkan berbagai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki.

“Harapan kami, mereka mampu berkembang menjadi generasi emas bangsa sekaligus menjadi teladan atau role model bagi anak-anak lainnya di Kepulauan Meranti,” pungkas Rokhaizal. (tribunpekanbaru.com/ Teddy Tarigan)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.