TRIBUNBENGKULU.COM - Video blusukan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) bersama seorang kakek pemulung kembali ramai di media sosial.
Kali ini, bukan aksi blusukannya yang jadi sorotan, melainkan tudingan bahwa pertemuan tersebut sudah disetting demi kebutuhan konten.
Video yang dimaksud memperlihatkan KDM menghampiri seorang kakek yang sedang memulung botol plastik di pinggir jalan kawasan Ciater saat dirinya dalam perjalanan menuju Gedung Sate.
Tak butuh waktu lama, potongan video itu ramai dibahas di berbagai akun media sosial.
Sebagian warganet menduga pertemuan tersebut bukan terjadi secara kebetulan, melainkan sudah direncanakan sebelumnya.
Ramainya tudingan itu akhirnya membuat KDM buka suara.
Melalui video yang diunggah di akun Instagram @deddimulyadi71 pada Kamis (6/8/2026), ia memberikan klarifikasi atas isu yang beredar.
KDM mengaku masih mengingat betul momen saat bertemu dengan sang kakek.
"Saya sangat ingat video itu. Itu video si Aki, perjalanan saya menuju Gedung Sate. Dia mulung plastik di pinggir jalan di daerah Ciater bersama niniknya. Pada saat saya mengambil gambar, tiba-tiba banyak rombongan mobil yang berhenti kemudian mengambil gambar juga, dan saya persilakan," kata KDM dikutip TribunBengkulu.com, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, tidak ada yang dibuat-buat dalam pertemuan tersebut. Ia mengaku memang sering berhenti ketika melihat warga yang membutuhkan bantuan atau ingin diajak berbincang.
KDM juga menjelaskan kenapa hampir setiap aktivitasnya selalu terekam kamera. Ia mengatakan, sejak dulu dirinya memang selalu membawa tim dokumentasi saat turun ke lapangan.
"Memang saya ke mana-mana bawa kamera, merekam setiap percakapan saya apa pun dengan masyarakat. Kemudian memang saya upload di YouTube, Facebook, TikTok, dan Instagram. Bagi saya tidak ada masalah melakukan itu. Lumayan juga ngirit-ngirit biaya kontrak media," ujarnya.
Menurut KDM, membawa kamera bukan berarti setiap pertemuan dengan masyarakat sudah diatur sebelumnya. Ia menyebut, saat dirinya blusukan justru banyak warga lain yang ikut merekam menggunakan telepon genggam mereka.
Menjawab tudingan bahwa video tersebut merupakan settingan, KDM bahkan mempersilakan siapa saja membuktikannya langsung.
"Kalau ingin membuktikan bahwa Aki itu disetting atau tidak, gampang. Wawancarai Akinya langsung oleh teman-teman. Itu Aki disetting atau tidak, mudah sekali," tegasnya.
Ia mengaku mengetahui alamat rumah sang kakek karena selama ini selalu mencatat identitas warga yang ditemuinya. Data tersebut disimpan agar memudahkan ketika ingin memberikan bantuan di kemudian hari.
Di akhir klarifikasinya, KDM justru mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah menyebarkan tudingan tersebut.
Menurutnya, video yang diperdebatkan justru semakin banyak ditonton masyarakat dan memunculkan diskusi di media sosial.
KDM juga mengatakan saat ini hampir semua pejabat memiliki tim dokumentasi yang merekam setiap kegiatan. Rekaman itu kemudian diunggah ke media sosial masing-masing.
"Tinggal persoalannya saat diposting. Ada yang banyak ditonton, banyak like, banyak komentarnya. Ada juga yang sedikit yang nonton, sedikit yang like, dan sedikit yang komen. Ya tergantung masyarakat, kita serahkan sepenuhnya pada warga," katanya.
Unggahan klarifikasi tersebut langsung dipenuhi komentar warganet. Banyak yang membela KDM dan menilai tidak ada yang salah jika seorang kepala daerah mendokumentasikan aktivitasnya saat bekerja.
"Bagaimana mau lihat kinerja beliau kalau tidak direkam. Nggak masalah mau direkam atau tidak, mau pencitraan atau tidak. Itu lebih baik daripada tidak berbuat kebaikan. Salam Bapak Gubernur," tulis seorang netizen.
Netizen lain juga menilai KDM tidak merugikan masyarakat. Bahkan, menurutnya, hasil dari konten yang dibuat KDM sering dimanfaatkan untuk membantu warga yang membutuhkan.
"Kenapa tidak suka dan kenapa benci? Padahal beliau enggak bikin rugi dan beliau juga enggak makan uang rakyat. Beliau bikin konten, uangnya juga enggak dimakan sendiri. Toh uang hasil kontennya banyak yang merasakan juga," tulis netizen lainnya.
Sementara itu, ada pula warganet yang menilai dokumentasi kegiatan seorang pemimpin justru menjadi bentuk keterbukaan kepada masyarakat.
"Enggak ada yang salah seorang pemimpin memposting bahwa setiap kegiatannya direkam kamera. Malah itu bagus, bisa kelihatan pemimpin yang kerja atau tidak. Kalau enggak diposting mana ada yang tahu. Saya melihat karena elektabilitas KDM melejit, sekelompok orang mulai mencari-cari cara untuk menyudutkan KDM. Maju terus Kang," tulis netizen.