SURYA.CO.ID I SAMPANG - Usaha pembuatan petis ikan tongkol Kampung Legu milik Noer Azizah di Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Madura, sudah dikenal luas.
Usaha yang dirintis sejak tahun 1995 ini memiliki produk utama petis berbahan air rebusan ikan tongkol (cakalang) dengan rasa asin, gurih, dan manis.
Berbeda dengan petis udang, petis ikan tongkol Sampang ini berwarna merah kecoklatan, rasanya lebih asin /dan gurih dengan aroma ikan yang kuat, teksturnya kental dan lengket, serta sering digunakan untuk bumbu rujak (cingur, dulit, rok erok, dan corek), soto, campur, dan bumbu sambal.
Sementara petis udang produk Surabaya atau Sidoarjo terbuat dari bahan baku udang, lebih manis, warna hitam pekat, dan memiliki tekstur seperti pasta yang kental.
Dalam menjalankan usahanya, Noer Azizah dibantu anak, menantu, dan tetangga sekitar (karyawan mitra) berjumlah 10 orang.
Pada awal produksi, usaha ini bisa menghasilkan petis ikan tongkol 30 kg per hari. Namun, setahun terakhir pesanan petis ikan tongkol meningkat menjadi rata-rata 60 kg per-hari. Bahkan ketika puasa atau lebaran pesanan meningkat menjadi 90 hingga 100 kg per-hari.
Hal ini lah yang menjadi permasalahan usaha ini karena keterbatasan perlengkapan yang dimiliki.
Selama ini, Noer Azizah hanya menggunakan wajan pengaduk manual yang prosesnya lama dan membutuhkan tenaga kerja lebih.
“Usaha kami berpotensi mampu meraih pendapatan dua kali lipat lebih besar, jika kami menggunakan wajan dengan pengaduk adonan otomatis untuk usaha petis ikan tongkol”, kata Noer Azizah saat ditemui pada Minggu, (19/7/2026).
Melihat hal ini, tim Universitas Bhayangkara Surabaya mengusulkan pendanaan kegiatan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2026
Tim yang terdiri dari Agus Kiswantono, ST, MT (Prodi Teknik Elektro), Ir. Tri Wardoyo, MT, dan Ir. Achmad Yulianto, MT (Prodi Teknik Sipil) ini mengusulkan pembuatan teknologi wajan dengan pengaduk otomatis untuk meningkatkan efisiensi produksi.
“Alhamdulllah pada tahun ini setelah melalui tahap seleksi ribuan proposal dari dosen PTN/PTS se-tanah air oleh DPPM, proposal PKM kami masuk dalam salah satu judul proposal lolos dan didanai untuk dilaksanakan pada salah satu UMKM Kabupaten Sampang dalam skema program PKM mono tahun”, kata Agus Kiswantono.
Pembuatan wajan ini menerapkan teknologi tepat Guna (TTG) pengaduk otomatis berukuran 80 cm x 75 cm x 10 cm.
Bahan wajan menggunakan stainless steel, rangka besi siku, pemanas gas elpiji, penggerak pengaduk motor induksi kapasitas 370 W, sumber listrik PLN tegangan 220 V dan frekuensi 50 Hz.
"Penerapan TTG ini merupakan pengembangan dari rancang bangun mesin pengaduk dodol atau jenang sudah dilakukan oleh Ilman Syinnaqof (2017) tanpa menggunakan kendali kecepatan motor," terang Agus.
Dengan konsep serupa, pihaknya menyempurnakan fungsi alat menjadi TTG wajan pengaduk adonan petis dengan inovasi penambahan kendali pengaturan kecepatan motor dalam mode normal, cepat, dan lambat.
Pengatur kecepatan putaran pengaduk diperlukan supaya pekerja mitra mampu menyesuaikan durasi pengadukan sehingga mampu menghasilkan kualitas adonan konsisten dan optimal.
“Dengan mode pengaturan kecepatan pengaduk, pekerja Mitra diharapkan mampu mengatur kecepatan putar pengaduk sesuai level kepadatan adonan petis. Untuk level adonan encer-mode putaran cepat, agak kental-mode putaran normal, dan kental-mode putaran lambat”, jelas anggota tim pelaksana lainnya, Tri Wardoyo.
Dengan teknologi ini, usaha milik Noer Azizah diharapkan mampu meningkatkan kapasitas adonan hingga dua kali lipat menjadi 60 kg per hari, 240 kg per minggu, 960 kg per bulan, atau 11520 kg per tahun.
"Analisis ekonomis menunjukkan jika masih menggunakan wajan manual, Mitra hanya mampu menghasilkan produk petis 30 kg per hari dengan omzet rata-rata Rp. 900.000 per hari, Rp. 3.600.000 per minggu, atau Rp. 14.400.000 per bulan.
"Sedangkan jika menggunakan mesin wajan pengaduk otomatis, maka dalam durasi kerja sama mitra mempunyai potensi meraih omzet dua kali lipat menjadi Rp. 1.800.000 per hari, Rp. 7.200.000 per minggu, atau Rp. 28.800.000 per bulan," terangnya.
Selain wajan pengaduk, permasalahan produksi kedua yang dialami Noer Azizah adalah penyimpanan stok produk petis ikan tongkol siap jual yang masih di etalase terbuka sehingga relatif kurang awet dan rawan rusak atau basi.
Mengatasi hal ini, tim membuat lemari pendingin untuk menyimpan produk petis ikan tongkol agar lebih awet dan tidak cepat basi.
Alat juga sekaligus berfungsi menjadi display produk dalam kemasan kecil berdasarkan variasi rasa dan harga jual.
Spesifikasi alat yang diusulkan berukuran 152,2 cm x 58,2 cm, dan 54 cm dengan kapasitas maksimum 180 liter, serta beroperasi pada sumber tegangan PLN 220 Volt frekuensi 50 Hz.
Selain dua produk tersebut, tim PKM Ubhara juga melakukan sosialisasi, pelatihan praktek, dan pendampingan kepada mitra tentang pembuatan produk petis ikan tongkol rasa pedas untuk bahan bumbu rujak.
Pelatihan dilaksanakan untuk mengatasi masalah produksi ketiga bahwa petis ikan tongkol untuk bumbu rujak masih perlu ditambah cabe atau lombok secara terpisah.
Terakhir adalah sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan pembuatan konten promosi online produk.
“Pelatihan konten dilakukan untuk mengatasi dua masalah pemasaran produk usaha petis ikan tongkol. Pertama peningkatan omzet pemasaran petis yang masih terbatas hanya momen tertentu. Kedua pemesanan produk petis ikan tongkol volume besar selama ini masih dilakukan dengan mekanisme pre-order”, jelas anggota tim pelaksana lainnya, Achmad Yulianto mengakhiri pembicaraan dengan surya.co.id.
Penulis:
Dr. Amirullah ST, MT.
Dosen Teknik Elektro Universitas Bhayangkara Surabaya