SURYA.CO.ID, SURABAYA - Paduan suara SMP Negeri 1 Surabaya kembali mencatat prestasi di tingkat internasional.
Sebanyak 34 siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler One Voice Spensabaya berhasil membawa pulang empat penghargaan dari 3rd Thailand International Choral Festival (Thai ICF) 2026 di Bangkok, Thailand.
Kompetisi tersebut berlangsung pada 3–7 Agustus 2026 di Thailand Cultural Centre, Bangkok. Ajang ini diikuti paduan suara dari berbagai negara dan menjadi penyelenggaraan ketiga Thai ICF.
Empat penghargaan yang diraih One Voice Spensabaya yakni:
Dalam kompetisi tersebut, setiap peserta dapat mengikuti maksimal dua kategori. Para pemenang kategori kemudian berkesempatan tampil dalam Grand Prize Competition.
Baca juga: Aturan Baru Sound Horeg Agustusan di Kediri, Batas Desibel hingga Jam Malam Berlaku Ketat
Untuk kategori Children’s Choir, One Voice Spensabaya membawakan lagu Suwidak Loro dan Agletta. Sementara di kategori Pop & Jazz, mereka menampilkan Reflection dan Golden.
Ketua Koordinator Ekstrakurikuler One Voice Spensabaya, Novita Hidayati, mengatakan prestasi tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan yang dilakukan selama berbulan-bulan.
"Mereka menjalani pembinaan kurang lebih selama enam bulan dengan latihan yang cukup intensif,” kata Novita.
Memasuki tiga pekan terakhir sebelum keberangkatan ke Thailand, intensitas latihan semakin ditingkatkan. Para siswa berlatih sepulang sekolah hingga sekitar pukul 18.00–19.00 WIB.
Selain latihan vokal, siswa juga harus menjaga kondisi tubuh dan kualitas suara. Mereka mengikuti arahan pelatih, termasuk terkait pola makan selama masa persiapan.
Proses tersebut juga mendapat dukungan dari orang tua. Mereka membentuk kepanitiaan kecil yang membantu berbagai kebutuhan tim, mulai kostum, jadwal latihan, konsumsi, hingga koordinasi antara siswa dan pelatih.
“Jadi, proses pembinaan ini merupakan hasil kolaborasi dari banyak coach dengan keahlian masing-masing. Ada yang menangani notasi, latihan per jenis suara, harmonisasi, sampai penggabungan seluruh bagian. Setelah itu baru masuk ke konduktor dan koreografer,” jelasnya.
Tantangan lainnya adalah menyatukan kemampuan setiap siswa agar menghasilkan harmoni yang utuh. Sebagian siswa bahkan sudah memiliki pengalaman sebagai penyanyi solo sebelum bergabung dalam paduan suara.
Selain kemampuan teknis, kepercayaan diri menjadi bagian yang diperhatikan selama latihan. Para pendamping berusaha menciptakan suasana latihan yang menyenangkan agar siswa tidak merasa tertekan menjelang kompetisi.
“Kami punya jargon, ‘Ayo, kalian artisnya.’ Itu untuk membangkitkan mood anak-anak sekaligus mendorong mereka tampil percaya diri dan memberikan penampilan terbaik,” ujar dia.
Bagi One Voice Spensabaya, kompetisi di Thailand bukan pengalaman pertama di tingkat internasional. Sebelumnya, mereka telah mengikuti sejumlah kompetisi di Singapura dan Malaysia.
Pada tahun lalu, One Voice Spensabaya juga tampil dalam Busan Choral Festival Choir di Korea Selatan dan berhasil meraih Grand Prize Champion.
Tahun ini, target untuk kembali meraih Grand Prize Champion memang belum tercapai. Namun, empat penghargaan di Thailand tetap menjadi pencapaian penting.
Pasalnya, untuk pertama kalinya One Voice Spensabaya berhasil menjadi pemenang di dua kategori sekaligus.
“Sekalipun tidak masuk Grand Prix Champion, ini suatu keberhasilan yang luar biasa. Baru kali ini kami menyabet langsung dua kategori dan semuanya menjadi first winner,” tuturnya.
Grand Prize Competition sendiri menjadi bagian puncak dalam rangkaian Thai ICF. Para pemenang kategori kembali tampil untuk memperebutkan gelar Grand Prize Champion.
Penyelenggara Thai ICF menyebut Grand Prize Competition diperuntukkan bagi para pemenang kategori serta peserta yang direkomendasikan artistic director maupun juri.
Meski belum meraih gelar tersebut, pengalaman bertanding bersama peserta dari berbagai negara menjadi bekal penting bagi siswa untuk terus mengembangkan kemampuan mereka.
Novita berharap pengalaman internasional yang diperoleh para siswa tidak berhenti setelah mereka lulus dari SMP. Kemampuan tersebut diharapkan terus berkembang hingga jenjang SMA maupun perguruan tinggi.
“Kami berharap kegiatan ini dapat terus melahirkan penyanyi-penyanyi berbakat. Untuk SMP Negeri 1 sendiri, harapan kami tentunya semakin mengharumkan nama Spensa Surabaya, Kota Surabaya, dan Indonesia,” harapnya.
Ia memastikan One Voice Spensabaya tidak akan berhenti mengikuti kompetisi. Setiap peluang tampil di ajang internasional akan tetap dipertimbangkan dengan melihat kesiapan siswa, waktu pelaksanaan, serta dukungan orang tua.
“Kami tidak pernah berpuas diri dengan satu kompetisi. Jika ada kompetisi lain yang bisa kami ikuti, kami akan tetap mempertimbangkannya dengan matang,” ujarnya.
Sekolah, Pelatih, dan Orang Tua Jadi Kunci
Kepala SMP Negeri 1 Surabaya, Eko Widayani, mengatakan pencapaian One Voice Spensabaya tidak hanya dilihat dari kemenangan dalam kompetisi.
Menurutnya, proses panjang yang dijalani siswa justru menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter.
“Dukungan dan proses pembimbingan yang kami lakukan merupakan bagian dari pendidikan karakter dan tumbuh kembang anak melalui bakat dan talenta mereka, salah satunya di bidang olah vokal atau paduan suara. Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan dukungan dari para orang tua yang luar biasa,” kata Eko.
Ia menyebut keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi tiga unsur utama, yakni sekolah, pelatih, dan orang tua.
Ketiganya memiliki peran dalam mendampingi siswa sejak proses latihan hingga mengikuti kompetisi.
“Di balik anak-anak yang hebat, pasti ada orang tua yang hebat dan guru-guru yang hebat. Karena ini merupakan sebuah tim, seluruh pihak harus saling mendukung. Semuanya dilakukan untuk mendukung pertumbuhan dan pendidikan karakter anak melalui bakat dan talenta mereka,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, turut mengapresiasi prestasi One Voice Spensabaya di Thailand.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mengembangkan bakat siswa, tetapi juga membentuk karakter seperti disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan rasa percaya diri.
“Selamat kepada anak-anak One Voice Spensabaya atas prestasi yang diraih di tingkat internasional. Ini membuktikan bahwa pengembangan bakat yang diiringi pembinaan karakter dapat melahirkan generasi yang berprestasi dan percaya diri,” kata Febrina dikonfirmasi terpisah.
Menurut Febri, pengembangan karakter menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat siswa memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk mengembangkan potensi dan nilai-nilai positif melalui berbagai kegiatan.
Hal tersebut sejalan dengan arah pendidikan di Surabaya yang menempatkan penguatan karakter sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Febri sebelumnya menegaskan bahwa kegiatan pendidikan juga diarahkan untuk membentuk akhlak, kepemimpinan, serta kepedulian sosial peserta didik.
“Paduan suara seperti ini menjadi salah satu contoh bahwa anak-anak bisa belajar banyak hal di luar kemampuan bernyanyi. Mereka belajar disiplin mengikuti latihan, bertanggung jawab terhadap perannya, menghargai teman, membangun kekompakan, dan berani tampil. Nilai-nilai seperti inilah yang penting untuk terus kita kembangkan,” imbuhnya.