Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sepuluh perempuan lanjut usia (lansia) di Dusun Patinggen 1, Desa Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, menunjukkan semangat nasionalisme dengan cara yang sederhana.
Pada Jumat (7/8/2026), teras satu rumah warga dipenuhi tumpukan topi caping atau dudukuy yang sedang dihias menjadi atribut pawai karnaval bernuansa merah putih.
Sejak pagi, mereka bergotong royong menghias satu per satu dudukuy menggunakan cat putih, rumbai merah putih, hingga potongan kertas mengilap yang ditempel mengelilingi bagian tepinya.
Beberapa di antaranya juga diberi tulisan KJP sebagai identitas kelompok peserta.
Baca juga: Dramatis! Ibu Pembuang Bayi di Pangandaran Kabur dan Sembunyi di Dalam Gua
Suasana kebersamaan begitu terasa. Sambil berbincang dan sesekali tertawa, para lansia itu saling berbagi tugas mulai mengoleskan lem, menggunting kertas hias, hingga merapikan rumbai agar tampak rapi saat dikenakan pada pawai.
Seorang peserta, Neni (61) mengatakan, kegiatan itu dilakukan sebagai bentuk partisipasi menyambut rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI di tingkat Kecamatan Padaherang.
"Minggu depan sebelum 17 Agustus ada gerak jalan, jalan santai, dan pawai karnaval di tingkat kecamatan. Kami juga ingin ikut memeriahkan," ujar Neni kepada sejumlah wartawan di sela-sela kesibukannya.
Mereka sengaja memilih dudukuy sebagai atribut utama karena benda itu merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari.
Hampir seluruh peserta merupakan perempuan yang terbiasa bekerja di sawah maupun kebun dengan mengenakan dudukuy sebagai pelindung dari terik matahari.
Untuk menyiapkan atribut tersebut, seluruh peserta sepakat melakukan iuran sebesar Rp5.000 per orang.
Dana yang terkumpul digunakan membeli lem dan kertas hias, bahan lain memanfaatkan barang yang tersedia di rumah masing-masing.
"Kami patungan lima ribu rupiah. Yang dibeli hanya lem dan kertas, selebihnya memanfaatkan bahan yang ada di rumah," katanya.
Semangat gotong royong menjadi nilai utama dalam kegiatan tersebut. Tidak ada pembagian tugas secara khusus.
Setiap peserta saling membantu hingga seluruh dudukuy selesai dihias dengan motif yang berbeda-beda, namun tetap didominasi warna merah putih sebagai simbol kemerdekaan.
Bagi para lansia, proses menghias bersama memiliki makna lebih dari sekadar menyiapkan perlengkapan karnaval.
Kegiatan itu menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus menjaga kebersamaan warga di lingkungan dusun.
"Alhamdulillah, tradisi pawai karnaval rutin digelar setiap tahun di tingkat kecamatan. Di kita tetap aktif berpartisipasi meski sudah usia tak lagi muda," ucap Neni. (*)