TRIBUNKALTARA.COM,TARAKAN – Berharap bisa perbaiki ekonomi keluarga, Asis bersama 14 rekannya asal Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) nekat berangkat meninggalkan kampung halaman bertaruh nasib ke Kalimantan Utara (Kaltara).
Mulanya, Asis mengaku mendapat tawaran bekerja sebagai penyadap getah pohon di salah satu perusahaan di Kaltara, gajinya Rp3,9 juta.
Angka ini cukup besar bagi Asis dan kawan-kawan. Namun saat tiba di lokasi, gaji yang diterima tak sesuai yang disampaikan dua orang pemberi informasi.
Sempat bekerja hampir sebulan, Asis dan rekannya tak bisa menunggu lebih lama. Usai gajian meski dipotong kasbon, mereka memutuskan pergi dari lokasi bekerja di wilayah Sajau, Kabupaten Bulungan.
Kini di dompet hanya tersisa Rp200 ribu, tak cukup untuk membeli tiket perjalanan pulang kampung. Beruntung ia dan rekan-rekannya mendapatkan tempat menginap gratis di Tarakan.
Saat ditemui, Asis lebih banyak menundukkan wajahnya ketika menceritakan perjalanan panjangnya dari Pelabuhan Ratu, Jabar menuju Kaltara.
Raut wajah pria berusia 41 tahun ini tampak pasrah. Sesekali ia menjawab pertanyaan dengan suara pelan, seolah masih berusaha menerima kenyataan yang baru saja dialaminya.
Jauh dari kampung halaman, harapan untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tetap justru berujung pada keinginan untuk segera pulang.
Baca juga: Viral Video 15 Warga Asal Sukabumi Jabar Terlantar di Tarakan, Kini Ditampung di Shelter Dinsos
Uang Rp200 ribu di kantongnya itu jelas tak cukup untuk membeli tiket kapal, apalagi pesawat, untuk membawanya kembali ke Desa Cidadap, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kota Sukabumi, Jabar.
Padahal, beberapa waktu lalu Asis berangkat ke Kaltara dengan harapan mengubah nasib. Ia dan puluhan warga lainnya tergiur tawaran pekerjaan dengan bayangan gaji Rp3,9 juta per bulan . Tawaran itu datang sepekan sebelum keberangkatan. Seingatnya akhir Juni 2026.
Dalam suatu kegiatan, Asis bertemu dua orang inisial HE dan AM. Keduanya dikenalkan oleh rekannya. Kemudian ia ditawari bekerja menjadi penyadap getah pohon.
Asis mengaku belum lama mengenal kedua orang tersebut.
"Baru, baru kenal," kata Asis, di lokasi shelter Dinsos Tarakan siang tadi, Jumat (7/8/2026).
Menurut Asis, informasi pekerjaan itu awalnya beredar dari teman ke teman. Hingga akhirnya tawaran tersebut sampai kepadanya dan sejumlah warga lain di kampung.
"Pas seminggu mau berangkatlah. Dia cari tenaga kerja ya. Ketemu kami di rumah sama teman-teman gitu," ujar Asis yang mengenakan kaos berwarna abu-abu
Ia mengatakan, tawaran yang disampaikan terdengar cukup menggiurkan bagi warga yang sedang kesulitan mendapatkan pekerjaan.
"Dia ngiming-ngimingnya gaji Rp3,9 juta, dapat beras 20 kg tiap sebulan," ungkap Asis.
Pekerjaan yang ditawarkan adalah menyadap pohon karet di sebuah perusahaan di Desa Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan.
Tak tunggu lama, berangkatlah Asis bersama rekannya yang lain. Ia sendiri juga membawa serta dua adiknya. Ada 21 orang yang bertolak dari kampung halaman.
Namun, harapan mendapatkan gaji bulanan Rp3,9 juta perlahan pupus setelah mereka tiba di lokasi.
Asis menyebut sistem pengupahan yang diterapkan ternyata berbeda dari informasi yang diterima di kampung.
"Sampai di sana itu ternyata gajinya borongan," ujarnya.
Sebelum bekerja penuh, mereka mengikuti masa training selama satu bulan. Namun, upah yang diterima selama masa tersebut hanya Rp75 ribu per hari. Dalam satu bulan masa training, ia menyebut hanya dihitung 20 hari kerja. Jika dihitung, penghasilan yang diperoleh sekitar Rp1,5 juta.
Bagi Asis, angka itu sangat jauh dari bayangan gaji Rp3,9 juta yang membuatnya berani meninggalkan kampung halaman.
Asis dan rekan-rekannya juga baru mengetahui kondisi tersebut setelah berada di lokasi kerja. Ia mengaku tidak menandatangani kontrak sebelum berangkat dari Jawa Barat. Kontrak justru diberikan setelah mereka tiba di Desa Sajau.
"Enggak ada. Udah di lokasi kan seolah-olah kami kejebak wae ya. Kalau udah nyampe begitu ya, pas dikasih lembarannya itu teken kontrak," tuturnya.
Saat melihat isi kontrak, nominal gaji Rp3,9 juta yang sebelumnya dijanjikan tidak tercantum.
"Nominalnya enggak ada. Kok jadi borongan, padahal awalnya dijanjikan Rp3,9 juta, bulanan gajinya," katanya.
Pada akhirnya, Asis bersama rekan-rekannya tetap menandatangani kontrak tersebut. Apalagi mereka diberangkatkan lewat akomodasi yang disiapkan perusahaan saat itu. Itu juga yang membuat ia dan rekannnya yakin, lantaran semua biaya pesawat dan lainnya ditanggung.
"Terpaksa, terpaksa teken. Jadi ngikutin aja gimana ke depannya," katanya.
Asis menegaskan keberangkatannya ke Kaltara bukan karena ingin mencari pekerjaan mudah. Melainkan mengubah nasib dengan penghasilan yang lebih baik ketimbang di kampung.
Di Pelabuhan Ratu, Asis sehari-hari bekerja sebagai nelayan. Namun, kondisi hasil tangkapan yang tidak menentu membuat penghasilannya sulit mencukupi kebutuhan keluarga.
"Ikan lagi kurang , lagi sepi," lanjutnya.
Dalam sekali melaut, pendapatannya pun tidak menentu. Bisa Rp50 ribu, bisa Rp60 ribu didapatkan. Padahal, di rumah ada keluarga yang harus dinafkahi.
"Saya punya tiga anak, Dua sudah sekolah, masing-masing SD dan SMA," ujarnya.
Baca juga: Sempat Terlantar di Tarakan, 15 Warga Jawa Barat akan Dipulangkan ke Daerah Asalnya Pakai Kapal
Setelah menjalani masa training dan melihat sistem kerja yang menurutnya tidak sesuai dengan janji awal, Asis bersama 14 orang lainnya akhirnya memilih meninggalkan lokasi kerja.
Mereka meninggalkan mess perusahaan tanpa sepengetahuan pihak kantor.
"Gak cocok sesuai, kami berontak kabur pulang," katanya.
Keputusan itu bukan tanpa risiko. Mereka harus mencari jalan sendiri untuk meninggalkan lokasi kerja hingga akhirnya tiba di Tarakan. Perjalanan tersebut menguras uang yang mereka miliki.
Dari Sajau menuju Tanjung Selor, mereka menggunakan kendaraan travel dengan biaya sekitar Rp150 ribu per orang.
"Tanjung Selor ke Tarakan Rp150 ribu naik speedboat itu," kata Asis.
Kini, uang yang tersisa di tangannya hanya sekitar Rp200 ribu. Sebelumnya gaji Rp1,5 juta dipotong kasbon, sisanya ditransfer ke istri dan sisanya habis dipakai selama tinggal di lokasi untuk biaya makan.
"Kami cuma pegang uang Rp200.000," ungkapnya.
Ia menyebut sebagian besar rekan-rekannya juga berada dalam kondisi serupa.
"Iya, merata lah, paling gede Rp300.000. Dari hasil training itu kan ada yang Rp1.000.000, ada yang Rp1.100.000 dapatnya. Kemudian pakai ongkos ke sini, makan," jelas Asis.
Asis mengaku sudah menghubungi keluarganya di Pelabuhan Ratu. Namun, di kampung juga tidak banyak yang bisa dilakukan.
"Ya sabar aja katanya. Mudah-mudahan ada bantuan," kata Asis.
Kini ia berharap ada pihak yang dapat membantu memulangkan dirinya bersama rekan-rekannya ke Jawa Barat.
"Harap ada bantuan gitu dari pihak sini, dari pihak Provinsi Jawa Barat mungkin kemungkinannya," ungkapnya.
Asis secara khusus berharap Gubernur Jabar, Kang Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, dapat membantu mereka kembali ke kampung halaman.
"Ya harapannya sih Bapak KDM bisa bantu kami untuk bisa memulangkan ke rumah, ke kampung halaman," katanya.
Kini, jarak antara Tarakan dan Pelabuhan Ratu terasa jauh lebih panjang bagi Asis.
Bukan hanya karena ribuan kilometer yang harus ditempuh, tetapi karena ia tidak lagi memiliki cukup uang untuk membeli tiket perjalanan.
Uang Rp200 ribu yang tersisa di kantongnya bahkan tidak cukup untuk sangu pulang.
Di titik itu, Asis hanya bisa berharap. Harapan yang sama seperti ketika pertama kali ia menerima tawaran pekerjaan ke Kaltara.
Bagi Asis, perjalanan ke Kaltara seharusnya menjadi jalan keluar dari sulitnya kehidupan sebagai nelayan di Pelabuhan Ratu.
"Kalau ada bantuan kembali ke kampung, ya kembali jadi nelayan lagi di sana," tukasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah