Perhutani Bondowoso Gelar Simulasi Penanganan Karhutla untuk Antisipasi Dampak Kemarau
Rendy Nicko Ramandha August 07, 2026 11:37 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BONDOWOSO – Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso menggelar simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bersama warga setempat sebagai bentuk antisipasi menghadapi musim kemarau.

​Dalam simulasi tersebut, sebanyak 48 personel Perhutani Bondowoso-Situbondo bersama warga dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) berjibaku memadamkan api menggunakan gepyok dan mesin pemadam portabel (blower).
​Kegiatan dipraktikkan senyata mungkin, diawali skenario warga yang membakar ubi pohon lalu meninggalkannya. Hembusan angin kemudian membuat kobaran api cepat menyebar.

​Administratur (ADM) Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menjelaskan bahwa simulasi ini merupakan langkah antisipasi di tengah ancaman kemarau panjang. Apalagi dengan adanya fenomena El Nino, terik matahari yang menyengat, kelangkaan air, serta guguran daun kering membuat potensi Karhutla semakin tinggi.

​"Kami secara internal mengadakan apel siaga Karhutla," ujar Munir saat dikonfirmasi, Jumat (7/8/2026).

Baca juga: Mobil Operasional MBG Senggol Dump Truck di Kejayan Pasuruan

​Munir menambahkan, Perhutani telah memetakan titik-titik rawan Karhutla sekaligus mendirikan Posko Bencana Alam di setiap Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH), seperti di BKPH Bondowoso, Sukosari, Wonosari, Klabang, Prajekan, Penarukan, dan Besuki.

​"Total ada 8 posko, untuk wilayah Ijen bergabung dengan Sukosari," tegasnya.

​Ia mengungkapkan, pada awal musim vkemarau beberapa bulan terakhir, telah terjadi beberapa kali insiden kebakaran. Kebakaran terbesar melanda kawasan Arak-arak, Kecamatan Suboh, Situbondo, dengan luas lahan terdampak mencapai 4 hektare.

​Sementara itu, titik kebakaran lainnya mencatatkan rata-rata luas area terbakar sekitar 0,4 hingga 0,5 hektare. Kerugian akibat insiden ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, terutama pada area Hutan Produksi yang didominasi pohon pinus.

​"[Kebakaran di Arak-arak] terjadi hampir setiap tahun. Rata-rata area yang paling sering terbakar memang Hutan Produksi," jelas Munir.

​Berdasarkan pengamatan Perhutani, mayoritas kebakaran hutan di musim kemarau dipicu oleh faktor kelalaian manusia.

Kebakaran di pinggir jalan umumnya diduga akibat buangan puntung rokok. Penyebab lainnya adalah kebiasaan warga yang membakar serasah untuk membersihkan lahan lalu ditinggalkan begitu saja.

​"Ada juga pemburu di daerah rimba pinus yang membuat perapian atau api unggun lalu lupa memadamkannya secara sempurna," tuturnya.

​Untuk menekan risiko tersebut, Perhutani mengintensifkan patroli serta meningkatkan kerja sama dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) guna memantau dan memproteksi kawasan hutan.

​"Masyarakat sangat kooperatif. Begitu melihat ada titik api, mereka langsung mengabari kami dan warga sekitar," pungkasnya.

(Sinca Ari Pangistu/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.