6 Fakta Film Filosofi Teras, Sineas Affandi Abdul Rachman Pinang Sherina Hingga Lydia Kandou
Ratnaning Asih August 08, 2026 01:30 AM

Liputan6.com, Jakarta - Buku laris Filosofi Teras karya penulis Henry Manampiring diangkat ke layar lebar dengan Affandi Abdul Rachman sebagai sutradara. Diproduksi MD Pictures, film ini menempatkan Sherina Munaf sebagai pemeran utama. Selain itu, Filosofi Teras diperkuat performa Zee Asadel, Ge Pamungkas, Dinda Kanya Dewi, dan aktris peraih dua Piala Citra, Lydia Kandou.

Dalam wawancara eksklusif lewat telepon, Affandi Abdul Rachman menjelaskan, tahun lalu, kala menggarap film remake Pencarian Terakhir, tim MD Pictures menghubunginya. “Teman-teman dari rumah produksi MD Pictures menanyakan kesibukan saya sekarang dan memberi tahu sedang mengembangkan naskah Filosofi Teras, sudah masuk draft kelima. Saya tertarik,” katanya pada Minggu, 12 Juli 2026.

Terkait penentuan konfigurasi pemain, Affandi Abdul Rachman punya andil besar. Dalam Filosofi Teras, Sherina Munaf sebagai Nea. Ibunda Nea, Ratih, dimainkan Lydia Kandou. Pemilihan Lydia Kandou disertai alasan kuat. Affandi Abdul Rachman tak ingin pemeran ibu yang itu-itu saja. Affandi Abdul Rachman mengingat, sejak kecil sering menonton akting Lydia Kandou. Saat ia menyodorkan nama Lyda Kandou, tim MD Pictures pun sepakat. Untuk mencari pemeran utama, butuh effort lebih.

Lalu tercetus nama Sherina Munaf dengan sejumlah pertimbangan.“Kami menilai dia mampu embodied karakter Nea. Dia juga merefleksikan citra independent woman. Agak sulit meyakinkan Sherina untuk gabung dalam Filosofi Teras, sampai tiga kali draft skenario,” beri tahu Affandi Abdul Rachman.

Berikut enam fakta film Filosofi Teras.

1. Hari Pertama Syuting, Tanpa Deg-degan

Henry Manampiring, kiri, dalam press conference Filosofi Teras di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (12/7/2026). (Liputan6.com/Afradhiya N.R)
Henry Manampiring, kiri, dalam press conference Filosofi Teras di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (12/7/2026). (Liputan6.com/Afradhiya N.R)

Salah satu hal yang disyukuri Affandi Abdul Rachman yakni hari pertama syuting dilalui tanpa deg-degan karena penokohan para pemain sudah matang lewat reading naskah. “Mereka sudah paham dengan penokohan saat duduk bareng. Saya bersama para pemain menyamakan visi dan frekuensi, bukan sutradara yang memaksakan visinya ke para pemain,” katanya.

2. Syuting dan Jeda Tak Biasa

Affandi Abdul Rachman menyebut syuting film Filosofi Teras di Jakarta sangat ajaib. “Jadi begini, lima hari syuting lalu break delapan hari. Enam hari syuting lalu break Lebaran 2026. Setelah itu syuting lagi. Hebatnya, para pemain tetap dalam frekuensi yang sama,” akunya. Meski jeda break cukup lama, Sherina Munaf dan kawan-kawan konsisten dengan karakter. “Enggak ada tuh pertanyaan: Eh, terakhir syuting gue sampai mana ya?” ucap Affandi Abdul Rachman. Kesimpulannya, jam terbang dan reading intens memang enggak bohong.

 

3. Penataan Grafik Emosi

Foto Filosofi Teras di kawasan Jakarta Pusat pada (12/7/2026) (Liputan6.com/Afradhiya N.R)
Foto Filosofi Teras di kawasan Jakarta Pusat pada (12/7/2026) (Liputan6.com/Afradhiya N.R)

Terkait adegan paling susah, Affandi Abdul Rachman mengakui, hampir semua adegan sulit karena ini film keluarga di mana ujian hidup datang silih berganti. Tantangannya, bagaimana mengembangkan satu adegan dengan takaran emosi pas, disambung adegan lain bermuatan emosi yang lebih tinggi. “Penataan grafik emosi adalah kunci agar ketika film itu jadi, terasa lonjakan dan tanjakannya. Ada harmoninya,” ungkapnya.

4. Affandi Abdul Rachman Grogi Ketemu Lydia Kandou

Momen lain yang membekas di hati Affandi Abdul Rachman yakni kali pertama bertemu Lydia Kandou. Ia grogi dan mengakui perasaan tersebut di depan ibunda Naysilla Mirdad. “Saya grogi kali pertama ketemu Lydia Kandou karena dia salah satu aktris terbaik yang dimiliki Indonesia. Terang-terangan saya bilang: Mbak Lydia, punten pas saya grogi harap dimengerti ya,” cetus Affandi Abdul Rachman.

 

5. Henry Manampiring Sanjung MD Pictures

Bagi Henry Manampiring, adaptasi Filosofi Teras menjadi film unik karena berangkat dari buku nonfiksi. Menurutnya, MD Pictures sukses menciptakan cerita orisinil yang menangkap esensi, semangat, dan ajaran Filosofi Teras dalam konteks keluarga Indonesia sehari-hari. “MD Pictures selalu berkonsultasi dengan saya sebagai penulis dan Penerbit Buku Kompas untuk memastikan adaptasi ini tidak mengecewakan ratusan ribu, mungkin jutaan pembaca Filosofi Teras,” Henry Manampiring menyanjung.

6. Filosofi Teras dan Kesadaran Diri

Bagi Affandi Abdul Rachman, inti film Filosofi Teras kesadaran diri. Dari baca buku hingga mendalami naskah film, ia menyimpulkan, manusia tak bisa mengendalikan semua hal yang terjadi di sekitarnya. “Respons kita dalam menghadapinya sangat menentukan,” ulasnya. “Naskah Filosofi Teras ini deep. Saya baca dengan hati-hati karena, bagaimana bisa membuat karya yang relate dengan banyak orang kalau saya sendiri tak terkoneksi dengan materinya? Naskah film ini benar-benar terkoneksi dengan diri saya,” pungkas Affandi Abdul Rachman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.