SURYA.CO.ID - Di sebuah sudut Desa Cangkringsari, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, suara kambing dan domba bersahutan dari sebuah kandang sederhana.
Tidak banyak yangmenyangka, kandang itu dirintis oleh seorang anak muda yang pernah duduk di bangku kuliah dan menyandang gelar sarjana ilmu sosial politik.
Namanya Dodi Kurniawan (29). Di usianya yang belum genap kepala tiga, ia memilih jalan yang tidak biasa: menjadi peternak kambing dan domba melalui usaha yang ia beri nama Pendekar Farm.
Pilihan itu sempat membuat banyak orang heran.
“Banyak yang bilang, kok sudah sarjana malah pilih angon wedus,” kenangnya sambil
tersenyum.
Namun bagi Dodi, keputusan itu bukan tentang gengsi pekerjaan, melainkan tentang keberanian membangun sesuatu dari nol dan tetap dekat dengan kedua orang tuanya.
Sebelum terjun ke dunia peternakan, Dodi pernah bekerja sambil kuliah dan aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan.
Ia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) pada 2023.
Hidupnya berubah ketika orang tuanya mulai sakit.
Ia memutuskan pulang ke kampung halaman dan melihat ada lahan keluarga yang lama tidak dimanfaatkan.
“Awalnya hanya membersihkan lahan kosong. Lama-lama muncul keinginan untuk mencoba usaha sendiri,” ujarnya.
Tanpa latar belakang peternakan, Dodi mulai belajar dari teman dan mentor yang lebih dulu menekuni usaha kambing dan domba.
Ia tertarik karena pakan ternak bisa ditanam sendiri dan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar desa.
Dari situlah Pendekar Farm lahir.
Baca juga: Dari Limbah Jadi Energi Masa Depan, Kisah Anak Muda Tuban yang Menyalakan Harapan
Merintis usaha ternyata membutuhkan pengorbanan besar.
Dodi mengaku menggunakan tabungan yang semula disiapkan untuk menikah sebagai modal awal usaha.
Total dana yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp75 juta untuk membangun kandang, membeli bibit kambing dan domba, serta memenuhi kebutuhan operasional awal.
“Waktu itu benar-benar mulai dari nol. Kami belum paham soal harga bibit, kualitas ternak, atau kapan waktu terbaik membeli kambing,” tuturnya.
Kesalahan pertama pun langsung terasa.
Ia membeli bibit saat harga ternak sedang tinggi menjelang Iduladha, sehingga modal yang dibutuhkan jauh lebih besar dari perkiraan.
Namun bagi Dodi, kesalahan itu adalah biaya belajar yang harus dibayar oleh setiap perintis usaha.
Menjadi peternak pemula tidak hanya soal memberi makan ternak. Dodi harus menghadapi kenyataan pahit ketika enam ekor kambing miliknya mati karena sakit.
Komentar negatif pun bermunculan.
“Ada yang bilang saya tidak cocok beternak, bahkan ada yang bilang tangan saya panas,” katanya.
Alih-alih menyerah, ia memilih menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran. Ia mulai lebih disiplin dalam perawatan, pemberian vitamin, dan pengecekan kesehatan ternak secara rutin.
“Kalau ada ternak mati, berarti ada ilmu yang belum saya kuasai,” ujarnya.
Salah satu hal menarik dari Pendekar Farm adalah cara Dodi memanfaatkan limbah produksi tempe dan tahu sebagai campuran pakan ternak.
Ampas tahu, kulit kedelai, dan tebon jagung difermentasi lalu dicampur dengan konsentrat dan mineral untuk meningkatkan kandungan protein pakan.
Selain membantu menekan biaya produksi, cara ini juga membuat limbah industri rumahan di sekitar desa memiliki nilai
ekonomi baru.
“Di sini banyak pengrajin tempe dan tahu. Limbahnya bisa dimanfaatkan untuk pakan kambing dan domba,” jelasnya.
Setiap pagi dan sore, Dodi menyiapkan pakan itu sendiri untuk puluhan ternaknya.
Meski masih tergolong usaha kecil, Dodi tidak ingin Pendekar Farm berhenti sebagai kandang rumahan biasa. Ia memiliki mimpi untuk menjadikan usaha tersebut sebagai pengusaha peternakan yang mampu membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
“Tujuan saya bukan hanya memelihara kambing, tapi membangun usaha yang bisa memberi manfaat bagi orang lain,” katanya.
Mimpi itu masih jauh dari kata mudah. Pendekar Farm bahkan belum memiliki kendaraan operasional sendiri. Untuk mengirim ternak ke pelanggan, Dodi masih harus menyewa mobil pick-up.
Dalam perjalanan Mlaku-Mlaku Jatim, tim juga berbincang dengan pihak Daihatsu mengenai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM peternakan seperti Pendekar Farm.
Menurut perwakilan Daihatsu, kendaraan niaga menjadi salah satu kebutuhan penting bagi usaha yang mulai berkembang karena berpengaruh langsung pada distribusi dan efisiensi operasional.
Daihatsu juga memperkenalkan layanan Daihatsu Mobile Service, yaitu bengkel berjalan yang dapat membantu pelanggan ketika kendaraan mengalami kendala di perjalanan, sehingga aktivitas usaha tetap dapat berjalan dengan lebih tenang.
Bagi usaha peternakan yang sedang tumbuh, kendaraan bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian penting dari proses memperluas pasar dan menjaga kelancaran pengiriman ternak kepada pelanggan.
Bagi sebagian masyarakat desa, pekerjaan kantoran masih dianggap lebih bergengsi dibanding mengurus kandang kambing. Dodi mengaku sempat merasa minder menghadapi pandangan tersebut. Namun ia memilih fokus pada proses yang sedang dijalaninya.
“Yang penting saya punya tujuan dan terus belajar. Saya percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil,” ujarnya.
Dari kandang sederhana di Sukodono ini, Dodi membuktikan bahwa gelar sarjana tidak selalu harus berakhir di ruang kantor.
Kadang, ilmu dan keberanian justru menemukan maknanya ketika digunakan untuk menciptakan usaha sendiri.
Pendekar Farm mungkin masih kecil hari ini. Kandangnya masih sederhana, dan jalannya masih panjang.
Tetapi dari tempat sederhana itulah tumbuh sebuah harapan besar tentang anak muda yang berani melawan stigma, memulai dari nol, dan membangun masa depannya dengan tangannya sendiri.
Dan seperti yang selalu kami temukan dalam setiap perjalanan Mlaku-Mlaku Jatim, semua memang ada ceritanya.
Kisah Pendekar Farm diangkat dalam program Mlaku-Mlaku Jatim, program eksplorasi Tribun Jatim yang menghadirkan cerita inspiratif UMKM dan anak muda Jawa Timur.
Melalui episode ini, pemirsa diajak melihat perjuangan Dodi Kurniawan merintis usaha peternakan dari nol, sekaligus pentingnya dukungan teknologi dan kendaraan operasional seperti Daihatsu Mobile Service dalam mendukung pertumbuhan UMKM lokal.