SURYA.CO.ID SURABAYA - Himpunan Ratna Busana Jawa Timur mengajak generasi muda melestarikan kebaya sebagai identitas bangsa melalui edukasi dan kolaborasi. Organisasi ini menegaskan kebaya modern tetap praktis dikenakan tanpa meninggalkan nilai budaya Nusantara.
Himpunan Ratna Busana (HRB) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jawa Timur terus berupaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap busana nasional melalui berbagai kegiatan edukasi dan kolaborasi.
Komitmen tersebut diwujudkan lewat kegiatan bertajuk “Merawat Tradisi, Menginspirasi Generasi” di Artotel Grand Prima Surabaya, Rabu (29/7/2026). Acara itu diisi peluncuran buku, talkshow, peragaan busana nasional, hingga bazar UMKM.
Ketua DPD Himpunan Ratna Busana Jawa Timur, dr Ita Puspita Dewi SpDVE FINSDV FAA, mengatakan pelestarian kebaya dan wastra Nusantara menjadi misi utama organisasi.
“Intinya kami ingin melestarikan busana nasional. Busana nasional itu berkebaya atau berbaju kurung, dipadukan dengan batik maupun wastra Indonesia seperti tenun, songket, hingga kain sulam dari berbagai daerah,” ujar dr Ita Puspita Dewi kepada Tribun Jatim, Kamis (6/8/2026).
Baca juga: Parade Kebaya FPPI Jatim Jadi Panggung Perempuan Kreatif Lestarikan Warisan Bangsa
Ia menjelaskan, Himpunan Ratna Busana berdiri di Jakarta pada 1972 atas prakarsa sejumlah tokoh perempuan yang ingin menghadirkan busana nasional yang santun sekaligus mencerminkan identitas bangsa.
“Berawal dari keprihatinan terhadap cara berpakaian pada masa itu, akhirnya muncul gagasan untuk merumuskan busana nasional yang santun tetapi tetap mencerminkan identitas bangsa,” katanya.
DPD Himpunan Ratna Busana Jawa Timur berdiri sejak 1978 dan diresmikan pada 1980. Saat ini organisasi tersebut memiliki sekitar 80 anggota.
Menurut dr Ita, kebaya masa kini telah berkembang mengikuti kebutuhan zaman sehingga lebih praktis tanpa menghilangkan ciri khasnya.
“Kebaya sekarang sudah banyak modifikasinya. Asal tidak lengan pendek, harus yang panjang atau tujuh perdelapan. Kainnya tidak harus dijahit wiru, boleh diikat. Yang penting tetap mempertahankan identitasnya dan dipadukan dengan kain atau wastra Indonesia,” jelasnya.
Baca juga: Batik Khas Jombang Siap Unjuk Pesona di Indonesia Fashion Week 2026 bersama Desainer Lia Afif
Untuk memperluas jangkauan edukasi, HRB menggandeng perguruan tinggi, akademisi, hingga Dharma Wanita Persatuan dari berbagai daerah di Jawa Timur.
“Kami berharap para ketua Dharma Wanita persatuan dengan harapan dapat meneruskan edukasi ini kepada anggotanya. Himpunan Ratna Busana juga siap memberikan penyuluhan mengenai busana nasional di berbagai daerah,” tuturnya.
Dr Ita menegaskan bentuk asli kebaya sebenarnya longgar sehingga tetap sopan dan nyaman digunakan dalam berbagai aktivitas.
“Kebaya itu tidak harus ketat. Aslinya longgar sehingga tetap sopan dan nyaman dipakai. Bisa dipakai untuk pengajian, bekerja, hingga berbagai aktivitas lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, kebaya merupakan identitas bangsa Indonesia sebagaimana kimono bagi Jepang. Karena itu, masyarakat tidak perlu ragu mengenakannya dalam berbagai kesempatan, baik ke kantor maupun acara resmi.
Selain seminar, anggota Himpunan Ratna Busana juga rutin mengikuti edukasi mengenai tata busana, tata rias, sanggul tradisional, etika berbusana, hingga kunjungan ke sentra batik dan tenun agar lebih memahami proses pembuatan wastra Nusantara.
“Kami ingin anggota tidak hanya mengenakan wastra Indonesia, tetapi juga memahami proses pembuatannya sehingga semakin menghargai karya para perajin,” ujarnya.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan edukasi penggunaan sanggul oleh Nuniek Silalahi, Ketua HRB 2014–2024, Pembina HRB Jawa Timur 2025 sekaligus Founder Citraretna Wedding Gallery.
“Berkebaya bukan hanya soal penampilan, tetapi juga menjaga identitas bangsa. Semoga semakin banyak anak muda yang bangga mengenakan kebaya dan wastra Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan busana nasional wanita Indonesia tampak cerdas, harus lebih kuat dan anggun,” pungkasnya.