Pertamax Turun Rp300, Pelajar Karanganyar Masih Keluhkan Antrean Panjang Beli BBM: Saya Telat Masuk
Putri Asti August 08, 2026 07:04 AM

TRIBUNSTYLE.COM - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mengalami penurunan harga. Salah satunya adalah Pertamax yang turun sebesar Rp300 per liter. 

Kebijakan tersebut disambut sejumlah masyarakat karena dianggap dapat sedikit meringankan pengeluaran untuk kebutuhan bahan bakar.

Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini mulai menjadi perhatian warga, termasuk para pengguna kendaraan roda dua di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. 

Meski harga Pertamax mengalami penurunan, sebagian masyarakat yang masih menggunakan BBM subsidi Pertalite mengaku belum merasakan dampak langsung.

Potret antrean jalur pertalite di SPBU Klodran, Colomadu, Karanganyar, 31 Juli 2026. Pelajar di Karanganyar mengatakan penurunan harga Pertamax belum banyak berpengaruh terhadap aktivitasnya sehari-hari karena dirinya masih membeli Pertalite untuk kendaraan yang digunakan ke sekolah.
Potret antrean jalur pertalite di SPBU Klodran, Colomadu, Karanganyar, 31 Juli 2026. Pelajar di Karanganyar mengatakan penurunan harga Pertamax belum banyak berpengaruh terhadap aktivitasnya sehari-hari karena dirinya masih membeli Pertalite untuk kendaraan yang digunakan ke sekolah. (TribunStyle.com/Wahyu Putri Asti Prastyawati)

Salah satu pengguna kendaraan yang masih mengandalkan Pertalite adalah Amat (17), seorang pelajar asal Karanganyar. 

Ia mengatakan penurunan harga Pertamax belum banyak berpengaruh terhadap aktivitasnya sehari-hari karena dirinya masih membeli Pertalite untuk kendaraan yang digunakan ke sekolah.

Baca juga: Turun! Update Harga BBM 6 Agustus 2026, Warga Karanganyar Ngeluh Stok Pertalite Cepat Habis Diburu

Amat mengaku masih menghadapi kendala antrean panjang di SPBU saat mengisi Pertalite. 

Kondisi tersebut membuat waktu tempuhnya menuju sekolah menjadi lebih lama dibandingkan biasanya.

“Pertamax memang turun, tapi saya masih pakai Pertalite. Yang jadi masalah tetap antreannya, kadang lama sekali sampai bikin saya telat masuk sekolah,” kata Amat.

Menurut Amat, antrean Pertalite sering terjadi terutama pada jam-jam tertentu ketika banyak warga mengisi bahan bakar sebelum beraktivitas. 

Ia harus memperhitungkan waktu lebih panjang agar tidak terlambat mengikuti pelajaran.

“Biasanya saya berangkat lebih pagi, tapi kalau antreannya panjang tetap saja bisa terlambat,” ujarnya.

Amat berharap ketersediaan Pertalite dapat lebih diperhatikan agar masyarakat tidak perlu menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengisi bahan bakar. 

Menurutnya, kelancaran akses BBM juga penting bagi pelajar yang memiliki jadwal sekolah.

“Kalau antreannya tidak terlalu panjang, kami bisa lebih tenang berangkat sekolah,” ucapnya.

(TribunStyle.com/Putri Asti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.